Bali: Hiruk-pikuk Piala Presiden 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan sengit antarklub di atas lapangan hijau. Di balik gegap gempita pertandingan, turnamen pramusim bergengsi itu menjadi penggerak ekonomi rakyat dengan melibatkan ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang merasakan dampak meningkatnya aktivitas ekonomi di sekitar stadion.
Sejak awal penyelenggaraan, Panitia Piala Presiden 2026 menegaskan turnamen tidak hanya mengejar kualitas pertandingan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan dengan melibatkan ratusan UMKM lokal di Bandung, Surabaya, dan Bali yang telah melalui proses kurasi untuk memasarkan produknya.
"UMKM dibagi menjadi tiga kategori, yaitu UMKM lokal yang sudah cukup dikenal, UMKM yang sedang naik kelas, dan UMKM baru yang sedang berkembang. Tiga kategori tersebut menjadi dasar kami dalam memilih UMKM yang terlibat," kata Ketua Organizing Committee (OC) Piala Presiden 2026, Tsamara Amany di Bali, Jumat, 7 Agustus 2026.
Baca Juga :
Persebaya Juara Piala Presiden 2026 Usai Drama Adu Penalti Lawan PersibMenurut Tsamara, pelibatan UMKM bukan sekadar pelengkap penyelenggaraan pertandingan. Langkah ini menjadi bagian dari ekosistem Piala Presiden yang bertujuan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Steering Committee Piala Presiden, Maruarar Sirait menegaskan, penyelenggaraan turnamen memang harus memberi manfaat yang lebih luas daripada sekadar menghadirkan tontonan sepak bola.
"UMKM ini merupakan penunjang roda perekonomian. Sesuai arahan Presiden Prabowo, UMKM ini harus mendapatkan kesempatan, harus mendapatkan keuntungan," ujar Maruarar saat meninjau gerai-gerai UMKM di Stadion I Wayan Dipta, Kamis, 6 Agustus 2026.
Bagi Maruarar, keberhasilan sebuah turnamen tidak hanya diukur dari kualitas pertandingan atau besarnya hadiah. Dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar juga menjadi bagian penting dari kesuksesan penyelenggaraan.
Diakui Maruarar, perputaran ekonomi tersebut menciptakan efek berganda. Pedagang memperoleh tambahan pelanggan, sementara suporter mendapatkan pengalaman menonton yang lebih lengkap melalui kehadiran berbagai produk lokal.
Ketua Steering Committee Piala Presiden, Maruarar Sirait bersama salah satu pemilik UMKM. (Metrotvnews.com/ Roni Kurniawan)
Model penyelenggaraan seperti ini menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Terlebih, perputaran uang bagi UMKM hingga menjelang laga final kemarin mencapai Rp1,5 miliar dan menjadi salah satu bukti roda ekonomi bergerak.
"Kita kan senang kalau UMKMnya maju. Jadi harus bikin orang lain bahagia," tutur Maruarar.
Maruarar menegaskan, penyelenggaraan turnamen pramusim tersebut sama sekali tidak menggunakan APBN. Semua pendanaan melibatkan pihak swasta dan dilakukan audit secara profesional.
"Piala Presiden dananya tidak ada dari APBN, tidak ada dari BUMN, semuanya dari swasta. Dan diaudit dari uditor yang kelasnya internasional," ungkap Maruarar.
Piala Presiden 2026 membuktikan sepak bola tidak hanya menghadirkan prestasi di lapangan. Turnamen ini juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui manfaat yang dirasakan warga sekitar lokasi pertandingan.





Komentar (0)