Antarktika Alami Suhu Ekstrem Minus 81 Derajat Celsius, Terdingin Sejak 2012

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai belahan dunia sepanjang bulan Juli 2026, sebuah stasiun riset di Antarktika justru mencatat suhu terdingin di Bumi dalam lebih dari satu dekade terakhir. Stasiun penelitian Concordia mencatat suhu mencapai minus 84,1 derajat Celsius pada 18 Juli 2026, menjadi suhu terendah yang tercatat di Bumi sejak 2012.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meski pemanasan global terus meningkatkan suhu rata-rata planet, cuaca ekstrem dingin masih dapat terjadi di wilayah tertentu. Para ilmuwan menegaskan bahwa rekor suhu tersebut tidak bertentangan dengan perubahan iklim, melainkan mencerminkan kompleksitas sistem atmosfer Bumi.

Stasiun Concordia berada di pedalaman Antarktika, tepatnya di dataran tinggi benua tersebut yang saat ini tengah mengalami musim dingin penuh tanpa sinar Matahari. Menurut data stasiun, suhu sempat menyentuh minus 84,1 derajat Celsius sebanyak dua kali, yakni pada pukul 06.25 dan 06.34 waktu setempat.

Pemimpin Stasiun Concordia untuk Program Penelitian Antarktika Nasional Italia (PNRA), Gabriele Carugati, mengatakan suhu di bawah minus 84 derajat Celsius tetap tergolong luar biasa, bahkan untuk kawasan Antarktika.

"Bahkan di sini, tempat suhu ekstrem memang sudah menjadi hal yang biasa, temperatur di bawah minus 84 derajat Celsius tetap sangat luar biasa dan menunjukkan betapa cuaca di Antarktika masih sangat bervariasi," kata Carugati dilansir Live Science.

Rekor suhu dingin tersebut terjadi ketika banyak negara justru tengah menghadapi cuaca panas yang memecahkan rekor. Amerika Utara dan Eropa dilanda gelombang panas sepanjang musim panas tahun ini. Eropa Barat bahkan mencatat Juni terpanas sepanjang sejarah pengamatan. Di saat yang sama, kebakaran hutan besar terjadi di Kanada, Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, dan sejumlah negara lainnya.

Kendati demikian, Carugati menegaskan bahwa kejadian suhu ekstrem dingin di Antarktika tidak menjadi bantahan bahwa Bumi terus menghangat. Menurutnya, Antarktika dipengaruhi oleh proses atmosfer yang sangat kompleks sehingga suhu sangat rendah di satu lokasi tidak bertentangan dengan gambaran besar pemanasan global.

Concordia sendiri dikenal sebagai salah satu stasiun penelitian paling terpencil sekaligus paling ekstrem di dunia. Fasilitas ini dibangun di atas lapisan es setebal sekitar 3.300 meter dan berada di ketinggian lebih dari 3.200 meter di atas permukaan laut, sekitar 1.000 kilometer dari garis pantai Antarktika.

Pada musim dingin, kawasan ini tidak menerima sinar Matahari selama berbulan-bulan. Udara yang sangat kering, atmosfer yang stabil, serta langit yang nyaris selalu cerah membuat panas dari permukaan Bumi terus lepas ke angkasa tanpa terhalang awan.

"Kondisi tersebut memungkinkan suhu turun hingga level yang luar biasa rendah," kata Carugati.

Selain digunakan untuk penelitian seismologi, astronomi, dan rekonstruksi iklim purba Bumi, Concordia juga menjadi lokasi penelitian mengenai dampak isolasi ekstrem terhadap manusia. Lingkungan Concordia yang sangat terpencil membuat stasiun ini sering dijadikan lokasi simulasi misi luar angkasa.

Selama musim dingin, pesawat tidak dapat mendarat di sana. Stasiun penelitian terdekat pun berjarak sekitar 600 kilometer, sehingga para penelitinya hidup dalam isolasi yang bahkan disebut lebih ekstrem dibanding astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang mengorbit sekitar 400 kilometer di atas Bumi.

Karena itu, para peneliti di Concordia dijuluki sebagai "astronauts of ice" atau "astronaut es". Salah satu peneliti yang bertugas di sana berasal dari Badan Antariksa Eropa (ESA) dan khusus mempelajari dampak fisik, psikologis, serta sosial terhadap para ilmuwan yang tinggal di lingkungan ekstrem tersebut.

Masih Bukan Rekor Terendah Sepanjang Sejarah

Meski menjadi suhu terendah di Bumi sejak 2012, angka minus 84,1 derajat Celsius belum memecahkan rekor sepanjang sejarah. Rekor suhu terdingin di Concordia sendiri tercatat pada musim dingin 2010, yakni minus 84,7 derajat Celsius.

Sementara rekor suhu terendah yang pernah diukur secara langsung di Bumi masih dipegang oleh Stasiun Vostok milik Rusia, yang juga berada di Antarktika Timur. Pada Juli 1983, stasiun tersebut mencatat suhu mencapai minus 89,2 derajat Celsius, menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

Bahkan, pengamatan satelit menunjukkan bahwa suhu di beberapa wilayah Antarktika Timur diperkirakan pernah turun hingga sekitar minus 98 derajat Celsius.

Meski menjadi kawasan terdingin di Bumi, Antarktika tetap terdampak perubahan iklim. Lapisan es di Antarktika Barat saat ini menghadapi risiko pencairan yang semakin besar, sementara Semenanjung Antarktika menjadi salah satu wilayah dengan laju pemanasan tercepat di planet ini.

Sebuah studi yang terbit baru-baru ini memperingatkan bahwa besarnya emisi gas rumah kaca saat ini akan menentukan masa depan kawasan tersebut dalam beberapa abad mendatang. Es laut, lapisan es, gletser, hingga habitat penguin berisiko mengalami penyusutan bahkan menghilang apabila pemanasan global terus berlanjut.

Bahkan di Antarktika Timur yang relatif lebih stabil, dampak perubahan iklim mulai terlihat. Pada Maret 2024, wilayah dekat Concordia sempat mengalami gelombang panas musim dingin yang belum pernah terjadi sebelumnya, ketika suhu melonjak hingga minus 9,4 derajat Celsius—sekitar 18 derajat Celsius lebih hangat dibandingkan rekor maksimum sebelumnya untuk bulan Maret.

Para ilmuwan menyebut pemanasan global turut memperkuat kejadian tersebut. Saat ini Bumi juga telah memasuki fase El Nino, fenomena alami yang meningkatkan suhu global dan diperkirakan akan memperbesar peluang munculnya cuaca ekstrem dalam beberapa tahun ke depan.

Meski menghadapi suhu yang membekukan, para ilmuwan di Concordia tetap melanjutkan penelitian mereka. Menurut Carugati, data suhu ekstrem seperti ini sangat penting untuk meningkatkan akurasi model iklim dan memahami proses atmosfer Bumi dengan lebih baik.

"Pengamatan ekstrem seperti ini membantu para ilmuwan memahami proses atmosfer secara lebih mendalam sekaligus meningkatkan kualitas model iklim di masa depan," ujarnya sebagaimana dikutip Live Science.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Anniversary Ke-6, The Clinic Beautylosophy Alam Sutera Hadirkan Plastic Surgery dan Hair Transplant
• 5 jam lalu
0
thumb
Temuan 995 Senjata, Pihak Yayasan Sekolah Bantah Ada Ekstrakulikuler Menembak
• 16 jam lalu
0
thumb
Kapolri Dialog dengan Koalisi Buruh, Janji Jembatani Proses RUU Ketenagakerjaan
• 11 jam lalu
0
thumb
Daftar Blunder Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Gagal ke Semifinal Piala AFF 2026
• 45 menit lalu
0
thumb
Dikira Limbah Biasa, Sorgum Ternyata Bisa Disulap Jadi Bahan Bakar
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.