Kasus pasien BPJS Kesehatan bernama Yurizal Tri Chaerawan yang sempat mengaku harus menunggu delapan jam di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebelum mendapatkan ruang perawatan kembali menjadi perhatian publik. Sorotan semakin besar setelah Yurizal dikabarkan meninggal dunia beberapa hari setelahnya.
Menanggapi polemik tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akhirnya memberikan penjelasan mengenai penyebab lamanya waktu tunggu yang dialami Yurizal. Kemenkes menegaskan keterlambatan itu bukan karena pasien tidak mendapatkan penanganan medis di IGD.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya, menjelaskan bahwa Yurizal membutuhkan perawatan di High Care Unit (HCU), bukan ruang rawat inap biasa. Menurutnya, keterbatasan kapasitas HCU menjadi penyebab pasien harus menunggu cukup lama.
Baca Juga: Dokter Gia 'Tampar' Nakes Soal Kisruh BPJS: Pasien Salah Satu Jalan Rezeki Kita
“Kondisi pasien yang meninggal dan viral itu memang menunggu 8 jam karena butuh HCU yang jumlahnya terbatas dan bukan kamar rawat inap biasa,” ungkapnya.
Azhar menambahkan, RSCM sebagai rumah sakit rujukan nasional memiliki tingkat keterisian yang sangat tinggi sehingga ketersediaan ruang perawatan, khususnya HCU, sangat bergantung pada kondisi saat itu.
"RSCM pusat adalah referensi nasional, kemungkinan besar RSCM penuh itu sangat besar. Tapi apa harus menunggu 8 jam itu tergantung situasi, kalau kosong ya lebih cepat dari itu," katanya, Kamis (6/8).
Selain membutuhkan ruang HCU, Yurizal juga disebut memiliki penyakit penyerta dengan kondisi yang cukup berat. Namun, Kemenkes tidak mengungkapkan diagnosis pasien karena merupakan bagian dari kerahasiaan medis.
“Pihak keluarga sudah paham akan kasus ini,” ujar Azhar.
Sebelumnya, kisah Yurizal menjadi viral setelah ia mengunggah pengalamannya melalui akun Threads @yurizaltrich pada 22 Juli 2026.
"8 jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake BPJS," tulis Yurizal.
Alih-alih mendapat simpati, sejumlah komentar dari akun yang diduga milik dokter maupun tenaga kesehatan justru dinilai publik tidak menunjukkan empati terhadap kondisi pasien.
Perbincangan mengenai unggahan tersebut kembali mencuat setelah Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Informasi wafatnya Yurizal pertama kali disampaikan oleh seseorang yang mengaku sebagai kerabatnya.






Komentar (0)