Menafsir Kehilangan dalam ”The Ego and His Loss”

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Lampu panggung meredup. Kesunyian memenuhi Teater Wahyu Sihombing di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tidak ada dentum musik atau gerak yang tergesa. Sebaliknya, para pemain memasuki panggung dengan tenang, seolah mengajak penonton menyaksikan sesuatu yang mengendap perlahan. Dari ruang pertunjukan yang sederhana itu, kelompok teater asal Jepang, Dracom, menuturkan kisah tentang manusia yang kehilangan jati dirinya.

Melalui pertunjukan The Ego and His Loss, Dracom menawarkan alur yang sulit ditebak. Cerita berkembang seperti serpihan ingatan yang saling bertaut. Dialog hadir dalam bahasa yang sesekali memantik tawa, sementara tubuh para aktor bergerak dengan ekspresi datar dan apa adanya. Dari perpaduan itu, ketegangan perlahan tumbuh, mengajak penonton membaca makna di balik jeda, tatapan, dan kalimat-kalimat yang terdengar sederhana.

Dracom mementaskan lakon The Ego and His Loss.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

The Ego and His Loss merupakan karya terbaru Dracom.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Dalam cerita, dua tokoh berbagi ruang setelah kematian.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Pertunjukan ini menjadi bagian dari rangkaian Djakarta International Theater Platform 2026 yang mengusung tema ”(Men)Citra Niskala, Unseen (The) Map”. Dracom tampil pada Kamis (6/8/2026) malam untuk memperkenalkan karya terbarunya kepada publik Indonesia. Festival yang berlangsung hingga 8 Agustus 2026 itu terbuka untuk umum sekaligus menjadi ruang perjumpaan seniman teater dari berbagai negara.

Di balik penyajiannya yang minimalis, The Ego and His Loss berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan modern. Lakon ini mengisahkan seorang laki-laki Jepang dari generasi yang tumbuh setelah runtuhnya ekonomi gelembung di negaranya. Hidup yang terus terimpit perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi digital membuatnya perlahan kehilangan pegangan atas dirinya sendiri.

Di sisi lain, hadir seorang perempuan asal Vietnam yang datang ke Jepang dengan harapan sederhana: bekerja sekaligus menjadi jembatan persahabatan antara kedua negara. Namun, pertemuan mereka justru berakhir tragis. Sang perempuan dibunuh. Namun, kisah keduanya tidak berhenti pada kematian. Dalam dunia panggung yang dibangun Dracom, mereka tetap berbagi ruang, seolah percakapan tentang hidup dan kehilangan belum benar-benar usai.

Melalui naskah karya sutradara Jun Tsutsui, pertunjukan ini tidak berbicara tentang benar atau salah. Sebaliknya, penonton diajak merenungkan bagaimana kesepian, tekanan ekonomi global, dan ketimpangan sosial dapat mengikis kemanusiaan seseorang. Pada akhirnya, tragedi yang terjadi bukan sekadar persoalan dua individu, melainkan cerminan dunia yang kian rapuh.

Meski terinspirasi dari kasus perampokan dan pembunuhan di Osaka pada April 2022, pertunjukan ini bukan rekonstruksi peristiwa nyata. Dracom mengolahnya menjadi karya fiksi yang menyinggung pengaruh kapitalisme global, relasi Jepang dengan para pekerja migran, hingga cara manusia memandang kematian melalui perspektif Buddhisme.

Cara penyampaiannya menjadi salah satu kekuatan pertunjukan. Dialog tidak selalu mengalir seperti percakapan sehari-hari. Beberapa kalimat terdengar seperti puisi yang dilafalkan perlahan. Gestur para pemain membangun suasana dingin yang mengusik. Penonton tidak terus-menerus diberi jawaban, melainkan diajak bertahan di tengah rasa tidak nyaman yang sengaja dipelihara hingga akhir pertunjukan.

Pendekatan semacam itu memang menjadi ciri khas Dracom. Kelompok teater yang berdiri di Osaka pada 1992 ini dikenal kerap mengeksplorasi bentuk-bentuk pertunjukan eksperimental. Mereka pernah memisahkan rekaman dialog dari permainan aktor untuk menghadirkan perasaan janggal, menciptakan pertunjukan berdurasi 20 jam, hingga mengangkat isu-isu sosial melalui pendekatan absurd, surealis, maupun puitis.

Di balik bentuk yang eksperimental, karya-karya Dracom sering kali berangkat dari persoalan manusia dan masyarakat kontemporer. The Ego and His Loss menjadi salah satu karya penting mereka. Naskahnya masuk dalam nominasi akhir Kishida Kunio Drama Award ke-70, penghargaan bergengsi bagi penulis drama di Jepang.

Naskah ditulis dan disutradarai oleh Jun Tsutsui.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Karya ini terinspirasi dari pembunuhan di Osaka pada 2022.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Naskah The Ego and His Loss masuk nominasi Kishida Kunio Drama Award ke-70.

(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Setelah sekitar 90 menit berlalu, lampu panggung kembali menyala terang. Tepuk tangan penonton bergema meski tidak semua pertanyaan memperoleh jawaban. Saat kesunyian perlahan menghilang, Dracom justru membiarkan penonton membawa pulang kegelisahan tentang kesepian yang tak kasatmata, identitas yang terkikis keadaan, dan manusia yang perlahan kehilangan jati dirinya.

Baca JugaKemeriahan Kemerdekaan di Kampung Peundey Timur

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Aksi Robert Pattinson Memburu Predator Seks di Trailer Primetime Garapan A24
• 9 jam lalu
0
thumb
Dokter Hewan dan Kesehatan Mentalnya: Mengungkap Sisi di Balik Layar Profesi
• 6 jam lalu
0
thumb
Hadapi Timnas Indonesia di Laga Terakhir Grup A Piala AFF 2026, Ilhan Fandi Ingin Menikmati Pertandingan
• 23 jam lalu
0
thumb
Penerapan ESG Jadi Fondasi Membangun Bisnis Tangguh
• 3 jam lalu
0
thumb
Peristiwa 7 Agustus: PPKI hingga Dimulainya Pemberontakan NII
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.