Setiap hari berinteraksi dengan kucing, anjing, kelinci dan hewan-hewan lainnya, it is like a dream job for some people. Yes, it is… tetapi, hanya itu yang orang lain tahu mungkin dari unggahan di media sosial atau ketika melihat dokter hewan bekerja di klinik.
Faktanya, tahukah kamu bahwa di Inggris kasus kematian dokter hewan akibat bunuh diri 2 kali lebih tinggi dibandingkan tenaga medis profesional lainnya dan 4 kali lebih tinggi dibandingkan masyarakat pada umumnya?
Pada kenyataannya banyak hal yang terjadi di balik layar profesi dokter hewan yang belum diketahui oleh masyarakat luas, sehingga sering timbul adanya perbedaan yang cukup signifikan terkait stigma dan sudut pandang terhadap profesi yang menuntut unconditional love ini.
Pendidikan Dokter Hewan yang Setara dengan Dokter ManusiaBeberapa bidang pekerjaan memiliki rentang pendidikan perguruan tinggi sekitar 3,5 – 4 tahun, namun tidak semua masyarakat tahu bahwa dokter hewan memiliki rentang pendidikan yang hampir lama seperti dokter manusia, yaitu bisa mencapai 6 tahun. Subjek pembelajaran bervariasi mulai dari ilmu dasar seperti anatomi, fisiologi, mikrobiologi, hingga teknik terapan seperti teknik nekropsi, teknik operasi, serta analisis epidemiologi.
Pendidikan sarjana ditempuh pada periode awal pendidikan perguruan tinggi, lalu dilanjutkan dengan pendidikan profesi atau biasa disebut dengan koas (co-assistant). Setelah melalui beberapa tahun disertai adanya ujian kompetensi profesi, maka gelar sebagai dokter hewan dapat diperoleh sehingga dokter hewan memiliki kewenangan dalam melakukan pemeriksaan, menentukan diagnosis dan terapi, serta tindakan medis lainnya seperti operasi.
Dokter Hewan Belajar Memahami dan Mengobati Lebih dari Satu Jenis“Pernah menangani hewan apa saja?” merupakan pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang awam ketika bertemu dengan sosok dokter hewan. Jawaban yang pasti adalah lebih dari 1 jenis hewan pernah ditangani, mulai dari saat kuliah hingga bekerja. Ketika di bangku kuliah, dokter hewan mempelajari hewan yang biasa dipelihara seperti anjing dan kucing, hingga hewan komoditas untuk konsumsi seperti ayam dan domba, serta hewan besar seperti sapi dan kuda. Tidak jarang dokter hewan juga mempelajari satwa liar (seperti harimau dan orang utan), eksotik (seperti ular dan kura-kura), ikan bahkan serangga, terutama yang berkaitan dengan kesehatan hewan.
Setiap jenis hewan memiliki ras yang beranekaragam, setiap keanekaragaman ras memiliki keunikan yang khas, dan setiap individunya memiliki penanganan yang berbeda sesuai dengan karakternya. Anjing dan kucing tentu akan berbeda dengan hamster dan gecko, anjing ras Golden Retriever tentu akan berbeda dengan French Bulldog. Dokter hewan tidak pernah bertemu dengan jenis yang sama setiap harinya. Perbedaan karakter dan ras dari setiap individu ini, membuat dokter hewan terus belajar dalam berbagai aspek untuk memahami mereka.
Komunikasi Dokter Hewan dengan Pasien Bukan dengan Bahasa, melainkan dengan Pemeriksaan Fisik pada Tubuh MerekaKomunikasi yang dilakukan oleh dokter hewan, tidak terbatas dengan manusia sebagai klien, namun juga dengan hewan sebagai pasien. Dunia yang berbeda ini membuat dokter hewan tidak dapat bertanya pada pasien sehingga perlu bekerja ekstra dalam berkomunikasi.
Pertama, dokter hewan dapat “berkomunikasi” dengan pasien melalui pemeriksaan fisik atau physical exam yang dilakukan menggunakan indera, seperti inspeksi menggunakan mata, palpasi dan perkusi menggunakan tangan, auskultasi menggunakan telinga, serta mengenali aroma menggunakan hidung. Pemeriksaan fisik ini akan membantu dokter hewan untuk mengetahui rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul akibat penyakit yang diderita pasien. Pemeriksaan pada hewan tentunya akan berbeda tergantung dari jenis hewannya karena setiap jenis hewan memiliki keunikan tersendiri.
Kedua, setelah melakukan “komunikasi” dengan pasien, tentu saja hasil tersebut perlu disampaikan pada klien selaku pemilik hewan dengan menggunakan bahasa manusia yang mudah untuk dipahami. Tidak hanya sekadar memberikan penjelasan, namun dokter hewan juga perlu memberikan edukasi kepada pemilik hewan.
Sumpah dan Kode Etik yang Mengikat Dokter HewanLayaknya dokter manusia, dokter hewan juga melalui proses pengambilan sumpah profesi. Sumpah inilah yang mengikat dokter hewan terhadap moral, empati, tugas dan kewajiban serta kewenangan dalam melakukan tindakan medis terhadap hewan. Tidak hanya terhadap kesejahteraan hewan, sumpah ini juga mengikat profesi dokter hewan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan manusia.
Hal ini tergambar pada slogan dokter hewan Indonesia dengan bahasa Sansekerta “Manusya mriga satwa sewaka” yang berarti menyejahterakan manusia melalui kesehatan hewan. Slogan ini memiliki makna bahwa apa pun yang dilakukan dokter hewan pada hewan, baik hewan peliharaan, satwa liar maupun hewan konsumsi lainnya, tidak lain adalah demi kesejahteraan manusia.
Dokter hewan juga memiliki kode etik yang mengikat dalam melakukan tugas dan kewenangannya. Kode etik tidak hanya berkaitan tentang bagaimana bekerja dengan hewan sebagai pasien, namun juga dengan pemilik hewan sebagai klien dan dokter hewan lain sebagai kolega. Setinggi apa pun status keilmuan yang dimiliki oleh seorang dokter hewan, kode etik ini akan tetap melekat pada profesi untuk menjadi panduan dalam bekerja, berhubungan dan melakukan berbagai tindakan yang berkaitan dengan profesi tersebut.
Dokter Hewan yang Bekerja dengan Ceria Bukan Berarti Tanpa TekananDalam jurnal yang ditulis oleh Mitchener (2002), dokter hewan menghadapi kematian pasiennya 5 kali lebih sering dibandingkan dokter manusia. Hal in berkaitan dengan harapan hidup dari hewan, di mana umur hewan peliharaan seperti anjing dan kucing hanya 20% dari harapan hidup usia manusia (rata-rata anjing dan kucing bisa berumur hingga 15 tahun dibandingkan dengan manusia yang bisa mencapai lebih dari 75 tahun) (irishexaminer.com).
Selain itu, ekspektasi dan permintaan klien terhadap dokter hewan yang menjadi “penghubung” ketika hewan mereka sakit merupakan tantangan terbesar bagi dokter hewan menurut survei Royal College of Veterinary Surgeons 2024. Dilema secara moral dan etik juga sering dialami oleh dokter hewan, salah satunya berkaitan dengan euthanasia.
Tindakan ini sering dilakukan oleh dokter hewan sebagai opsi terakhir dengan mempertimbangkan status kualitas hidup (quality of life) dari pasien. Pada prosesnya tidaklah semudah dan justru lebih kompleks dibandingkan tindakan utamanya, karena pada proses tersebut dokter hewan perlu berdiskusi penuh empati dengan klien untuk mengambil keputusan bahkan mendampingi pemilik hingga bisa berdamai dengan rasa kehilangan tersebut.
Keseimbangan dalam usaha memenuhi ekspektasi klien dengan tanggung jawab moral untuk mengobati dan mengurangi rasa sakit pasien, menuntut dokter hewan untuk melakukan hal lain di luar kemampuan medisnya, seperti sebagai penasihat keuangan, edukator hingga konselor. Hal ini melibatkan perhatian penuh dari dokter hewan mulai dari psikis dan emosional, sehingga tidak sedikit yang mengalami kelelahan empati (empathic distress fatigue).
Fakta ini juga menjadi salah satu penyebab fakta kelam lainnya di dunia dokter hewan, di mana studi Tomasi (2019) menunjukkan bahwa nilai proportional mortality ratio (PMR) akibat bunuh diri pada dokter hewan pria dan wanita memiliki nilai 2,1 kali dan 3,5 kali dibanding masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, dunia kedokteran hewan internasional sudah mulai memberikan perhatian khusus terhadap isu kesehatan mental para dokter hewan, termasuk paramedik veteriner. Menjadi dokter hewan tampak seperti profesi impian bagi banyak orang yang memiliki latar belakang penyayang hewan. Semakin bertumbuhnya ketertarikan masyarakat terhadap hewan peliharaan, maka semakin meningkat pula kebutuhan dokter hewan untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan dan perawatan pada hewan peliharaan tersebut.
Meski apresiasi yang didapatkan tidak sebesar dengan tanggung jawab yang dibawa oleh profesi ini, para dokter hewan selalu berusaha dalam membantu memberikan perawatan terbaik bagi hewan peliharaan anda. So, please be kind to your vets as they are kind to your pets, because vets are human, too.






Komentar (0)