Premanisme Jakarta: Antara Kemiskinan, Kekuasaan, dan Ruang Kota

okezone.com
7 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Adhi Ayoe Yanthy - Ketua FKDM Wilayah DKI Jakarta

JAKARTA merupakan pusat pemerintahan, ekonomi, sekaligus simbol modernisasi Indonesia. Pertumbuhan gedung pencakar langit, pusat bisnis, dan kawasan hunian elite sering dipandang sebagai indikator keberhasilan pembangunan. Namun, di balik wajah metropolitan tersebut, Jakarta masih menyimpan persoalan sosial yang kompleks, salah satunya adalah keberadaan premanisme. Fenomena ini tidak hanya muncul dalam bentuk kekerasan jalanan, pemalakan, atau penguasaan lahan secara ilegal, tetapi juga berkembang menjadi jaringan kekuasaan informal yang memanfaatkan celah kelemahan negara dalam mengatur ruang publik. Oleh karena itu, premanisme tidak dapat dipahami semata-mata sebagai tindakan kriminal individual, melainkan sebagai gejala sosial yang lahir dari pertemuan antara kemiskinan, ketimpangan ekonomi, relasi kekuasaan, dan perebutan ruang kota.

Baca Juga :
Polda Metro Tangkap 348 Tersangka Premanisme Sepanjang 2025

Dalam perspektif sosiologi, premanisme merupakan konsekuensi dari proses urbanisasi yang tidak diimbangi dengan pemerataan kesejahteraan. Jakarta terus menjadi magnet migrasi dari berbagai daerah karena dianggap menyediakan kesempatan ekonomi yang lebih baik. Akan tetapi, kemampuan kota dalam menyediakan lapangan kerja formal tidak sebanding dengan jumlah pendatang yang datang setiap tahun. Akibatnya, sebagian masyarakat terdorong memasuki sektor informal yang rentan terhadap praktik kekerasan, pemerasan, maupun penguasaan wilayah.

Robert K. Merton (1968) dalam Social Theory and Social Structure menjelaskan bahwa penyimpangan sosial muncul ketika terdapat ketidakseimbangan antara cultural goals yang diidealkan masyarakat dengan institutionalized means yang tersedia untuk mencapainya. Dalam kondisi tersebut, individu atau kelompok dapat melakukan berbagai bentuk adaptasi, salah satunya melalui innovation, yakni menerima tujuan-tujuan sosial, seperti memperoleh penghasilan atau meningkatkan status ekonomi, tetapi menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dengan norma dan hukum.

Baca Juga :
Aksi Premanisme dan Ormas Bikin Biaya Investasi di Indonesia Bengkak

Namun demikian, menjelaskan premanisme hanya melalui pendekatan kemiskinan tentu tidak memadai. Tidak semua orang miskin menjadi pelaku premanisme, dan tidak sedikit pelaku premanisme justru memiliki hubungan dengan jaringan ekonomi maupun politik yang kuat. Dengan demikian, faktor kemiskinan hanyalah salah satu variabel yang menjelaskan mengapa premanisme memperoleh basis sosial tertentu di kawasan perkotaan.

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Perusahaan Jasa Angkut Sampah Nakal Bakal Diumumkan ke Publik
• 15 jam lalu
0
thumb
Digitalisasi Dorong Penetrasi Industri Asuransi
• 22 jam lalu
0
thumb
Potongan Kaki Korban Mutilasi Dicari, Saepul Ikut Dibawa ke Kali
• 23 jam lalu
0
thumb
OpenAI Segera Rilis Speaker Pintar Berbentuk Donat Seharga Rp 5 Jutaan
• 4 jam lalu
0
thumb
Pria di Jakut Tersengat Listrik saat Mencuri Kabel
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.