ASN: Mengakhiri Mitos Pekerjaan Paling Aman?

kompas.com
15 jam lalu
Cover Berita

SELAMA puluhan tahun, aparatur sipil negara (ASN) dipandang sebagai simbol keamanan kerja, pelabuhan terakhir di tengah badai PHK, perlambatan ekonomi, dan ketidakpastian pasar tenaga kerja. Namun, fondasi keyakinan itu mulai bergeser.

Di berbagai daerah, pemangkasan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) menekan pendapatan riil ASN di tengah meningkatnya biaya hidup.

Pada saat yang sama, kepastian jabatan dan penghasilan tidak lagi sekuat dahulu, sementara semakin banyak ASN memilih meninggalkan profesi yang dulu dianggap sebagai pekerjaan seumur hidup. Stabilitas yang menjadi daya tarik utama ASN pun mulai memudar.

Sepanjang Januari–Juni 2026, sebanyak 2.722 ASN memilih mengundurkan diri. Masalahnya bukan lagi bagaimana menarik orang menjadi ASN, melainkan bagaimana mempertahankan mereka yang telah direkrut.

Ketika kompensasi tergerus, kepastian karier melemah, beban kerja meningkat, dan peluang di sektor swasta maupun ekonomi digital semakin terbuka, retensi talenta menjadi tantangan yang jauh lebih mendesak daripada sekadar memenuhi formasi penerimaan.

Job Security Menuju Talent Retention

Fenomena ribuan ASN yang mengundurkan diri menjadi semakin menarik jika dibaca bersama potret pasar kerja Indonesia.

Hasil Rili BPS pada Februari 2026, sekitar 49,2 juta penduduk masih bekerja kurang dari 35 jam per minggu, menunjukkan bahwa memperoleh pekerjaan yang layak masih menjadi tantangan besar.

Karena itu, meningkatnya jumlah ASN yang memilih keluar justru menjadi paradoks.

Baca juga: Krisis Gaji ASN dan Perangkap Beban Tetap APBD

Data Badan Kepegawaian Negara menunjukkan bahwa ASN yang mengundurkan diri terdiri atas 1.197 PNS, 1.146 PPPK paruh waktu, 227 PPPK, dan 152 CPNS yang bahkan belum sepenuhnya memulai kariernya.

Padahal, setiap ASN yang mengundurkan diri bukan hanya berarti berkurangnya satu pegawai. Negara juga kehilangan investasi yang telah dikeluarkan untuk proses seleksi, pelatihan, pengembangan kompetensi, hingga pengalaman kerja yang telah dibangun.

Semakin tinggi kompetensi pegawai yang keluar, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan untuk menggantikannya.

Prinsip manajemen sumber daya manusia, mempertahankan pegawai berkinerja tinggi hampir selalu lebih murah daripada merekrut, melatih, dan membangun kompetensi penggantinya dari awal.

Paradoks ini muncul ketika dua perubahan terjadi bersamaan: daya tarik birokrasi melemah, sementara pilihan karier di luar birokrasi justru semakin luas.

Tantangan ketenagakerjaan pun bergeser: dari sekadar menciptakan lapangan kerja (job availability) menjadi menciptakan pekerjaan yang berkualitas sekaligus mampu mempertahankan talenta (job quality dan talent retention).

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Yang sedang runtuh bukan status ASN, melainkan mitos bahwa status tetap cukup untuk mempertahankan orang terbaik. Yang dipertaruhkan bukan hanya birokrasi hari ini, tetapi juga kemampuan negara membangun birokrasi masa depan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pramono Anung Akan Umumkan Perusahaan Pembuang Sampah Ilegal di Jakarta
• 4 jam lalu
0
thumb
Permintaan Susu Melonjak, Industri Pengolahan Susu Segar Tumbuh 17,3%
• 13 jam lalu
0
thumb
Baru Enam Bulan, Luas Karhutla Kalimantan Barat Lampaui Tahun Lalu
• 3 jam lalu
0
thumb
Suzuki Tetap Pilih Strategi Multi Pathway di Tengah Gempuran Elektrifikasi
• 10 jam lalu
0
thumb
Curi Handphone Untuk Beli Sabu, Terduga Pelaku Diringkus Tim Pegasus Polres Jeneponto
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.