JAKARTA, KOMPAS.com - Bermula dari keluhan seorang pasien yang tengah menunggu kepastian ruang rawat inap selama delapan jam, unggahan Yurizal Tri Chaerawan di media sosial Threads pada 22 Juli 2026, berubah menjadi sorotan publik.
Saat itu, Yurizal sengaja menyembunyikan nama rumah sakit lantaran berobat menggunakan layanan BPJS Kesehatan.
Namun, alih-alih mendapat simpati, Yurizal justru menerima komentar bernada sinis dari sejumlah akun yang mengaku sebagai dokter maupun tenaga kesehatan.
Sepekan kemudian, Yurizal meninggal dunia.
Baca juga: KKI Turun Gunung Investigasi Komentar Nirempati ke Pasien BPJS: Didominasi Dokter
Kabar duka itu mengubah arah perbincangan.
Publik tidak lagi hanya menyoroti komentar yang dianggap tidak berempati, tetapi juga mempertanyakan bagaimana tenaga kesehatan bisa kehilangan empati kepada pasien.
Di balik polemik tersebut, muncul satu penjelasan, yakni kemungkinan tenaga kesehatan mengalami kelelahan emosional atau burnout.
Namun, apakah burnout cukup menjelaskan lahirnya komentar yang melukai pasien?
Burnout yang menggerus empatiWakil Ketua Majelis Pengembangan Profesi Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mahesa Paranadipa menilai, komentar tidak berempati yang disampaikan sejumlah tenaga kesehatan bisa jadi dipengaruhi kelelahan emosional atau burnout.
Namun, menurut dia, penyebabnya tidak bisa disimpulkan secara sederhana.
Mahesa mengatakan, fenomena tersebut perlu diteliti lebih lanjut karena dilakukan oleh oknum lintas profesi kesehatan dan tidak hanya terjadi di satu tempat.
"Analisa awal mungkin bisa disebabkan karena tekanan psikologis, beban kerja, atau kondisi lain di tempat kerjanya. Kelelahan (burnout) secara emosional dan fisik yang tidak bisa dikendalikan (coping mechanism) bisa menimbulkan perilaku nirempati," kata Mahesa, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (6/8/2026).
Baca juga: KKI: 10 Nakes yang Komentar Nirempati ke Pasien BPJS Terancam Sanksi hingga Pencabutan STR
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa empati bukan sekadar persoalan karakter pribadi.
Dalam kondisi kelelahan yang berkepanjangan, kemampuan seseorang mengendalikan emosi dan merespons orang lain secara positif dapat ikut menurun.
Bagi tenaga kesehatan, kondisi itu menjadi tantangan tersendiri.
Di satu sisi, mereka dituntut bekerja di bawah tekanan tinggi, menghadapi banyak pasien, serta mengambil keputusan medis dalam waktu cepat.
Di sisi lain, profesi tersebut menuntut kemampuan menjaga empati kepada setiap pasien.






Komentar (0)