Gula Darah Normal Belum Tentu Sehat, Dokter Ungkap Tanda Awal Diabetes yang Sering Terlewat

tabloidbintang.com
7 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Banyak orang merasa tenang ketika hasil pemeriksaan gula darah menunjukkan angka normal. Selama kadar gula darah puasa, gula darah setelah makan, dan HbA1c masih berada dalam batas yang dianjurkan, sebagian besar menganggap tidak ada masalah pada kesehatannya.

Namun, menurut para ahli, kondisi tersebut belum tentu mencerminkan kesehatan metabolik yang sebenarnya.

Dokter spesialis saraf asal Hyderabad, India, Dr. Sudhir Kumar, menjelaskan bahwa seseorang bisa saja memiliki kadar gula darah normal, tetapi diam-diam mengalami gangguan metabolik yang dikenal sebagai resistensi insulin. Kondisi ini bahkan dapat berkembang selama bertahun-tahun sebelum akhirnya seseorang didiagnosis menderita diabetes.

Dalam unggahannya di media sosial X, Dr. Kumar menjelaskan bahwa kadar gula darah tidak langsung meningkat begitu saja.

Pada banyak orang, pankreas mampu bekerja lebih keras selama bertahun-tahun dengan memproduksi insulin dalam jumlah lebih banyak agar kadar gula darah tetap berada pada kisaran normal.

Di atas kertas, hasil pemeriksaan laboratorium memang terlihat baik. Namun, sebenarnya tubuh sedang bekerja ekstra untuk mempertahankan keseimbangan tersebut.

Kondisi inilah yang disebut sebagai resistensi insulin.

Insulin merupakan hormon yang membantu memindahkan glukosa dari aliran darah ke dalam sel tubuh untuk digunakan sebagai sumber energi. Ketika sel-sel tubuh mulai kurang peka terhadap insulin, pankreas akan mengimbanginya dengan memproduksi insulin lebih banyak.

Akibatnya, seseorang masih bisa memiliki:

  • Gula darah puasa normal.
  • Gula darah setelah makan normal.
  • Nilai HbA1c normal.

Meski demikian, mereka tetap dapat mengalami resistensi insulin yang cukup berat.

Seiring waktu, pankreas akan kehilangan kemampuan untuk terus memproduksi insulin dalam jumlah besar. Pada tahap inilah kadar gula darah mulai meningkat hingga berkembang menjadi pradiabetes atau diabetes tipe 2.

Resistensi Insulin Tak Hanya Berkaitan dengan Diabetes

Dr. Kumar menegaskan bahwa dampak resistensi insulin tidak hanya meningkatkan risiko diabetes.

Sejumlah penelitian menunjukkan kondisi ini juga berkaitan dengan berbagai gangguan metabolik lainnya, seperti:

  • Diabetes tipe 2.
  • Penyakit hati berlemak (fatty liver).
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah, termasuk serangan jantung serta stroke.

Itulah sebabnya seseorang yang tampak sehat berdasarkan pemeriksaan gula darah rutin tetap bisa memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kronis di kemudian hari.

Apa Itu Pemeriksaan Fasting Insulin dan HOMA-IR?

Untuk mendeteksi gangguan metabolik sejak dini, Dr. Kumar menyarankan agar pasien yang memiliki faktor risiko berdiskusi dengan dokter mengenai dua pemeriksaan tambahan, yaitu:

1. Fasting Insulin

Tes ini mengukur kadar insulin setelah seseorang berpuasa. Nilai insulin yang tinggi dapat menjadi tanda bahwa pankreas bekerja lebih keras untuk mengatasi resistensi insulin.

2. HOMA-IR (Homeostatic Model Assessment of Insulin Resistance)

HOMA-IR bukanlah tes darah tersendiri. Nilainya dihitung berdasarkan hasil gula darah puasa dan kadar insulin puasa menggunakan rumus khusus yang biasa digunakan oleh tenaga kesehatan.

Meski demikian, HOMA-IR belum direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin untuk semua orang. Hasilnya harus ditafsirkan oleh dokter karena dipengaruhi berbagai faktor, seperti usia, berat badan, etnis, hingga metode pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan ini umumnya dipertimbangkan pada orang yang memiliki faktor risiko, seperti:

  • Obesitas.
  • Riwayat keluarga dengan diabetes.
  • Penyakit hati berlemak.
  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS).
  • Faktor risiko metabolik lainnya.
  • Kabar Baiknya, Resistensi Insulin Masih Bisa Diperbaiki

Kabar baiknya, resistensi insulin pada tahap awal sering kali masih dapat dibalik melalui perubahan gaya hidup.

Semakin cepat kondisi ini diketahui, semakin besar peluang tubuh untuk kembali memiliki sensitivitas insulin yang baik sebelum gula darah benar-benar meningkat.

Para dokter umumnya lebih menyarankan perbaikan pola hidup daripada hanya berfokus pada angka hasil laboratorium.

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:

  • Rutin berolahraga dengan kombinasi latihan kardio dan latihan kekuatan.
  • Menjaga berat badan tetap ideal.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, protein nabati, serta lemak sehat.
  • Membatasi makanan ultra-proses dan minuman manis.
  • Tidur yang cukup setiap malam.
  • Mengelola stres dengan baik.
  • Menghindari rokok dan membatasi konsumsi alkohol.

Dengan menerapkan gaya hidup sehat sejak dini, risiko berkembangnya resistensi insulin menjadi diabetes maupun penyakit metabolik lainnya dapat ditekan secara signifikan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Muncul Usulan Pembentukan Lembaga Pengelola Aset Kejahatan, Begini Kata Kejagung 
• 16 jam lalu
0
thumb
Sosialisasi PKB, Pelindo Perkuat Harmoni Hubungan Industrial
• 16 jam lalu
0
thumb
Hisense Siap Layani Konsumen 365 Hari, Tambah Jadwal Layanan Call Center
• 19 jam lalu
0
thumb
Perwira Polisi Penabrak Balita Hingga Tewas di Bone Jalani Tes Urine
• 9 jam lalu
0
thumb
​Satpam Diduga Hajar Maling Sawit Hingga Tewas, Warga Marah Bakar Gedung Kebun
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.