Moskow: Rusia mulai mengerahkan satu unit rudal Korea Utara yang dilengkapi hingga 120 rudal balistik dan enam peluncur untuk digunakan dalam perang melawan Ukraina.
Informasi tersebut disampaikan Kepala Direktorat Intelijen Utama Ukraina (HUR), Andrii Cherniak pada Rabu, 5 Agustus 2026. Menurut Cherniak, langkah tersebut menandai semakin eratnya kerja sama militer antara Moskow dan Pyongyang.
“Sekitar 90 personel Korea Utara diperkirakan akan ditempatkan di wilayah Voronezh, Rusia barat, untuk mendukung operasional unit rudal tersebut,” katanya, dikutip dari Fox News.
Cherniak juga mengklaim Pyongyang telah mengirim tambahan 40 rudal balistik KN-23 dan KN-24 kepada militer Rusia.
Rincian akhir mengenai pengerahan unit tersebut diperkirakan akan disepakati dalam pembicaraan tingkat tinggi bulan depan. Serangan ke Kyiv Laporan intelijen tersebut muncul setelah Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke Kyiv dan wilayah sekitarnya pada 4 Agustus.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Rusia menembakkan 24 rudal balistik, empat rudal jelajah, dan 115 drone dalam semalam. Serangan itu menewaskan sedikitnya 17 orang.
Zelensky menilai lebih banyak nyawa dapat diselamatkan apabila negara-negara Barat segera mengisi kembali persediaan rudal pencegat pertahanan udara Ukraina yang mulai menipis.
Sebelumnya, Zelensky juga telah memperingatkan bahwa Rusia sejak Juni mempersiapkan penerimaan tambahan personel militer Korea Utara di wilayah Voronezh.
Cherniak mengatakan serangan Rusia pada akhir Juli menjadi penggunaan pertama rudal balistik Korea Utara terhadap sasaran di Ukraina sejak Agustus 2025.
Berdasarkan estimasi HUR, Rusia telah menerima sekitar 150 rudal KN-23 dan KN-24 dari Korea Utara sejak akhir 2023.
Rusia Dinilai Makin Bergantung pada Rudal Balistik Sejumlah analis militer menilai Rusia semakin mengandalkan rudal balistik karena senjata tersebut hanya dapat dicegat oleh sistem pertahanan udara canggih, seperti Patriot buatan Amerika Serikat.
Lembaga pemikir yang berbasis di Washington, Institute for the Study of War (ISW), menilai Rusia sengaja meningkatkan penggunaan rudal balistik dalam paket serangan jarak jauhnya untuk memberikan tekanan lebih besar terhadap sistem pertahanan udara Ukraina yang terbatas.
ISW juga menyebut Korea Utara memperoleh pengalaman tempur yang berharga dari konflik tersebut sehingga dapat meningkatkan kemampuan rudalnya berdasarkan pengalaman operasional Rusia.
Sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022, Korea Utara berkembang menjadi salah satu sekutu militer utama Moskow.
Dilaporkan, Pyongyang telah memasok jutaan peluru artileri kepada Rusia dan sebelumnya mengirim sekitar 14.000 personel ke wilayah Kursk untuk membantu menghadapi serangan lintas perbatasan Ukraina pada 2024.
Cherniak menambahkan sekitar 9.500 tentara Korea Utara masih berada di Kursk, meski saat ini tidak terlibat dalam pertempuran aktif.
Sementara itu, laporan Foundation for Defense of Democracies (FDD) menyebut Korea Utara sejak 2022 telah memasok Rusia dalam jumlah besar berupa amunisi artileri dan roket, sistem artileri, serta rudal balistik.





Komentar (0)