Cara perempuan Indonesia memilih produk kecantikan terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi tren dan fenomena fear of missing out (FOMO), kini konsumen dinilai semakin selektif, kritis, dan mengutamakan riset sebelum menentukan produk yang akan digunakan.
Chief Marketing Officer (CMO) Scarlett, Fiona Anjani, mengatakan perempuan kini tidak hanya memperhatikan popularitas sebuah produk, tetapi juga mulai memahami kandungan (ingredients) serta kondisi kulit masing-masing sebelum membeli.
Menurut Fiona, perubahan tersebut turut dipengaruhi oleh semakin banyaknya konten yang dibuat beauty influencer. Meski membantu konsumen memperoleh informasi, beragam sudut pandang yang tidak selalu sejalan membuat perempuan menjadi lebih berhati-hati dalam memilih sumber informasi yang dipercaya.
Ia menambahkan, banyaknya pilihan brand kecantikan, baik lokal maupun internasional, juga membuat konsumen mencari nilai lebih dari sebuah merek. Bagi sebagian perempuan, manfaat fungsional produk saja dinilai tidak lagi cukup sehingga mereka mulai mempertimbangkan value proposition yang ditawarkan sebuah brand.
Perubahan perilaku tersebut menjadi salah satu alasan Scarlett terus membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumennya, salah satunya melalui komunitas Scarlett Beautyverse. Fiona menjelaskan, komunitas tersebut berperan penting dalam membangun loyalitas sekaligus menghadirkan komunikasi dua arah antara brand dan konsumen.
Melalui Beautyverse, anggota komunitas dapat mengikuti berbagai kegiatan eksklusif, mulai dari acara offline, kesempatan mencoba produk lebih awal, hingga pengalaman lain yang memungkinkan konsumen berinteraksi langsung dengan brand.
"Beautyverse sendiri merupakan komunitas Scarlett yang kita bina untuk memupuk brand loyalty. Dengan adanya komunitas ini, Scarlett dapat melakukan komunikasi dua arah, konsumen bisa merasakan brand coming to life experience," ujar Fiona.
Ia menilai, komunitas juga membantu membangun emotional connection, kepercayaan, dan rasa memiliki antara brand dengan konsumen. Pasalnya, saat ini keputusan membeli produk tidak lagi hanya didasarkan pada kualitas produk semata, tetapi juga pengalaman serta keterlibatan yang dirasakan secara konsisten dari sebuah brand.
Untuk terus menghadirkan inovasi yang relevan, Scarlett mengembangkan Scarlett Beauty Ecosystem, sebuah konsep yang menghubungkan konsumen, klinik, hingga proses pengembangan produk. Melalui ekosistem ini, Scarlett memperoleh masukan langsung dari konsumen yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam proses inovasi produk.
Fiona menjelaskan, proses tersebut tidak berhenti pada tahap peluncuran produk. Scarlett juga terus mengumpulkan umpan balik terkait kualitas produk maupun aktivitas pemasaran agar setiap inovasi yang dihadirkan tetap sesuai dengan kebutuhan pasar dan dapat terus dievaluasi.
Selain berfokus pada kualitas produk, Scarlett juga membangun hubungan emosional dengan konsumen melalui storytelling dan brand positioning yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
"Kedua hal ini berjalan beriringan, tetap fokus pada kualitas produk namun juga tetap membangun hubungan emosional dengan konsumen," kata Fiona. Ia menambahkan bahwa emotional connection menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih sebuah produk kecantikan.
Dalam wawancara tersebut, Fiona juga membagikan pesannya kepada perempuan muda yang ingin berkarier dan menjadi pemimpin. Menurutnya, kepercayaan pada diri sendiri menjadi fondasi utama dalam membangun kepemimpinan.
"Pesanku untuk perempuan muda yang ingin berkarier dan menjadi pemimpin, believe in yourself that you can. Yang harus diingat adalah, tidak harus menjadi yang paling sempurna, namun harus konsisten, never stop learning, always have the hunger to raise the bar dan percaya pada value yang kamu miliki," ujarnya.
Fiona menambahkan, sebelum menjadi pemimpin bagi orang lain, seseorang perlu terlebih dahulu mampu memimpin dirinya sendiri, mulai dari menentukan prioritas hingga menyelesaikan berbagai tantangan yang dihadapi.






Komentar (0)