Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma’ruf Amin mengingatkan Nahdlatul Ulama tidak sekadar organisasi keagamaan. NU juga adalah organisasi pergerakan kebangsaan yang akan terus bergerak dinamis sesuai perkembangan zaman. Namun, tokoh NU ini menegaskan, para nahdliyin harus tetap berpegang teguh pada prinsip yang diajarkan para ulama.
Bagi Ma’ruf Amin, NU adalah organisasi yang membawa keadilan, keamanan, hingga perbaikan dengan membawa nilai-nilai kebaikan. NU diharapkan terus berkiprah dan berkontribusi dalam membangun bangsa dengan tetap mempertahankan prinsipnya.
Dia menyampaikan hal tersebut di sela peluncuran buku ”Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin”, di Jakarta, Rabu (5/7/2026). Buku ini ditulis oleh Siti Hiatunnisa dan Muhammad Zainal Arifin dan saat peluncurannya dihadiri oleh sejumlah tokoh, di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU) Yahya Cholil Staquf.
“Dari perspektif yang saya baca, NU itu terdiri dari tiga hal. Satu, cara berpikir, fikroh. Dua, cara mengambil keputusan, manhaj namanya. Ketiga, NU itu gerakan atau harakah. Bukan sekadar kumpul-kumpul, tetapi tidak membuat gerakan. NU itu adalah organisasi yang membawa keadilan, membawa keamanan, dan melakukan perbaikan. Jadi, dia tidak diam,” papar Ma’ruf Amin.
Pada akhirnya, nilai terbesar karya ini terletak pada kerangka pertanyaan yang dibukanya; bagaimana sebuah tradisi keagamaan besar bisa merawat kesinambungan antara arah berpikir, metode, dan gerakannya tanpa kehilangan arah di tengah arus perubahan zaman yang tidak pernah berhenti?
Menurut Ma’ruf Amin, prinsip ini tidak bisa ditegakkan jika para nahdliyin (anggota NU) hanya ikut-ikutan. Mereka harus memahami landasan dan prinsip NU dalam berpikir, mengambil keputusan, hingga melakukan pergerakan di masyarakat. “Jadi, NU tidak hanya sekadar ikut guru, teman, hal-hal lain. Bukan atas dasar amplop, tetapi pemahaman dan kuat keyakinannya,” tegas Ma’ruf Amin.
Pemahaman ini, kata Ma’ruf Amin, membuat para nahdliyin tidak gampang berbelok. Bahkan, kata Ma’ruf Amin, mereka bakal mengkritisi pemimpin yang berbelok dari pemahaman NU dan tidak sesuai dengan kebaikan bersama.
Kekritisan ini juga harus berlandaskan akar, yakni sanad yang berasal dari ajaran para guru pendahulu NU hingga dari kitab-kitab. Namun, Ma’ruf Amin tetap mengingatkan NU untuk tetap bergerak dinamis dan lentur sesuai perkembangan zaman.
“Orang NU itu tidak sekadar taat buta. Karena tidak paham, ketika (pemimpin) belok, mereka ikut. Tapi kalau dia paham, itu tidak mudah dibelokkan. Jadi kalau ada pemimpin yang belok, itu disemprit (diingatkan). NU yang punya pemahaman kuat itu bisa kritis, bilang itu bukan di jalurnya,” kata Ma’ruf Amin.
Di dalam lingkungan NU, Ma’ruf Amin menginginkan daya kritis ini harus ada di tingkat PBNU hingga ke ranting. “Sehingga kalau ada pembelokan, itu sudah langsung ada pelurusan-pelurusan sendiri,” katanya.
Menurut Ma’ruf Amin, prinsip ini menjadi penting karena NU tidak hanya gerakan keagamaan, tetapi juga gerakan kebangsaan dan gerakan perekonomian. Tiga pergerakan ini, lanjutnya, juga disorot dalam buku tersebut.
Ma’ruf Amin menjelaskan, gerakan keagamaan bertujuan menjaga pemikiran NU yang moderat dengan tetap memegang prinsipnya. Gerakan kebangsaan untuk menjaga Indonesia dari upaya perpecahan. Adapun gerakan ekonomi diharapkan membawa kesejahteraan untuk umat.
Seiring berjalannya waktu, pergerakan ini terus berkembang, salah satunya ke ranah pendidikan. Pendidikan ini untuk menyiapkan orang-orang yang memahami agama dan yang akan memakmurkan bumi seperti ahli-ahli ekonomi. “Dua hal ini yang harus kita bangun di kalangan NU,” ujar Ma’ruf Amin.
Siti Hiatunnisa sebagai salah satu penulis juga melihat perhatian Ma’ruf Amin terhadap NU dan harapannya di masa depan. Buku ini, lanjutnya bisa dibaca secara berurutan agar alur pemikiran Ma’ruf Amin bisa dipahami secara utuh.
Bab pertama, kata Siti, menjelaskan fikroh nahdliyyah yang harus dihidupkan kembali. Bab kedua menjelaskan lebih detail tentang fikroh nahdliyyah. Bab ketiga, menjelaskan manhaj nahdliyyah. Adapun bab keempat menjelaskan harakah nahdliyyah.
“Bab kelima merupakan puncaknya, yaitu bagaimana ketiga fondasi tersebut menjadi bekal Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua dengan semangat NU ala bashirah (pemahaman kuat),” ujar Siti.
Rais Syuriyah PBNU Zainal Abidin melihat perspektif yang ditawarkan Ma’ruf Amin dalam buku ini menunjukkan keseriusannya untuk merumuskan ulang fondasi intelektual NU menjelang abad keduanya. Hal ini memberikan peta konseptual yang jernih bagi kader dan warga NU.
“Ini bukan sekadar warisan sosial kultural, melainkan sistem pemikiran yang hidup dan terus bergerak. Nilai strategis ini terletak pada gagasan NU ala bashirah, yang dibangun di atas pemahaman, bukan sekadar kebiasaan,” papar Zainal.
Meski demikian, Zainal menilai buku ini tetap perlu ditindaklanjuti dengan kajian yang lebih kritis, komparatif, dan berbasis data empiris. Diskusi dan perdebatan terkait buku ini dilakukan untuk menguji sejauh mana idealisasi konseptual fikrah, manhaj, dan harakah benar-benar terwujud dalam praktik NU kontemporer.
“Buku ini paling tepat diposisikan bukan sebagai kajian ilmiah yang tuntas dan final, melainkan sebagai fondasi wacana, semacam undangan bagi generasi peneliti dan kader NU berikutnya. Ini untuk terus menghidupkan, menguji, dan mengembangkan fikroh nahdliyyah dalam menghadapi tantangan zaman,” kata Zainal.
Bahkan, tidak untuk NU saja, Zainal menganggap buku ini bisa menjadi kajian untuk epistemologi organisasi keagamaan secara umum. Berbagai konsep yang dibahas bisa juga bisa dibedah secara komparatif.
“Pada akhirnya, nilai terbesar karya ini terletak pada kerangka pertanyaan yang dibukanya; bagaimana sebuah tradisi keagamaan besar bisa merawat kesinambungan antara arah berpikir, metode, dan gerakannya tanpa kehilangan arah di tengah arus perubahan zaman yang tidak pernah berhenti?” ungkap Zainal.
Serial Artikel
Harlah Ke-100 Nahdlatul Ulama
PBNU menggelar perayaan puncak harlah ke-100 tahun Masehi di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).






Komentar (0)