JAKARTA, KOMPAS — Harga emas dunia di pasar spot bergerak melonjak pesat mendekati level psikologis baru sebesar 4.300 dollar AS per troy ons. Penguatan drastis ini ditopang oleh meredanya kekhawatiran inflasi global pascakemajuan diplomasi di Selat Hormuz serta melesetnya data tenaga kerja Amerika Serikat yang menahan agresivitas Bank Sentral AS, The Fed.
Berdasarkan data pasar spot pada Kamis (6/8/2026) pagi, harga sang logam mulia bertengger di level 4.292 dolar AS per troy ons. Pada Rabu (5/8), harga emas dunia sempat menyentuh level 4.300 dolar AS per troy ons. Angka ini mencerminkan kenaikan sekitar 5 persen hanya dalam dua hari perdagangan terakhir, dari posisi penutupan Selasa (4/8/2026) di level 4.077 dolar AS per troy ons.
Jika dihitung sepanjang pekan ini, harga emas mencatat kenaikan empat sesi berturut-turut dengan total penguatan mendekati 6 persen. Posisi saat ini pun membuat harga emas naik 3,68 persen dalam sebulan.
Kenaikan harga emas di pasar spot juga diikuti harga emas fisik di dalam negeri. Harga emas Antam ukuran 1 gram pada hari ini melesat Rp 27.000 dari Rp 2.708.000 menjadi Rp 2.735.000 per gram.
Laporan Bloomberg menunjukkan pendorong utama lonjakan harga emas berasal dari penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed, seiring melandainya harga energi global.
Awal pekan ini, harga minyak mentah seperti WTI dan Brent mulai stabil di sekitar 75 dolar AS per barel, dibanding level pekan lalu di sekitar 80 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak dunia dipicu oleh kabar diplomasi Iran yang menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman terkait usulan pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Meski pembukaan ini bersifat sementara untuk durasi 2 hingga 4 bulan dan bukan pembukaan penuh, sinyal tersebut cukup untuk meredakan tensi pasokan energi dan menekan potensi lonjakan inflasi.
Tim Analis BRI Danareksa dalam laporannya juga menjelaskan, selain kondisi geopolitik yang melunak, penguatan harga emas dunia juga didukung rilis data ekonomi AS yang lesu. Kondisi ini memperkuat proyeksi melambatnya pengetatan moneter AS.
"Data ADP National Employment Report menunjukkan, penambahan tenaga kerja sektor swasta AS hanya mencapai 44.000, berada jauh di bawah estimasi konsensus yang sebesar 70.000," kata mereka.
Atas perkembangan tersebut, pelaku pasar kini merevisi proyeksi arah kebijakan moneter. Pasar memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga sebanyak satu kali lagi hingga akhir tahun. Ini berkurang dari ekspektasi pekan lalu yang memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga.
Kendati demikian, pasar tetap diimbau mewaspadai potensi dinamika lanjutan. Gubernur The Fed Lisa Cook menegaskan bahwa bank sentral AS tetap bersiap menaikkan suku bunga jika tekanan inflasi kembali membumbung.
"Jika demikian, maka volatilitas harga emas diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek," kata BRI Danareksa Sekuritas.
Di dalam negeri, tren reli harga emas dunia menjadi angin segar bagi industri pertambangan logam mulia. Investment Analyst Stockbit Theodorus Melvin, dalam laporan terpisah, menilai bahwa kenaikan harga emas spot berpotensi memberikan sentimen positif jangka pendek bagi saham emiten di sektor emas.
Emiten tersebut antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). Ada pula PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), serta PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Pada perdagangan sesi I Kamis (6/8), saham HRTA dan ARCI mencatatkan lonjakan harga tinggi masing-masing 6,0 persen dan 4,7 persen. Sejak awal pekan, saham HRTA dan ARCI bahkan telah mengalami kenaikan harga sekitar 15 persen. Saham ANTM juga ikut alami kenaikan harga sejak Selasa (4/8) hingga sekitar 8 persen.
"Kenaikan harga emas berpotensi meningkatkan average selling price (ASP) atau harga jual rata-rata perseroan, yang pada akhirnya dapat mendorong peningkatan volume transaksi perseroan," kata Melvin.






Komentar (0)