JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi mogok yang dilakukan sopir angkot M44 di kawasan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026), turut berdampak pada penumpang yang selama ini mengandalkan angkot untuk ke tempat tujuan.
Sejumlah penumpang mengaku angkot masih menjadi moda transportasi yang sulit tergantikan.
Hal itu karena rute angkot menjangkau tujuan yang tidak dilayani angkutan jaklingko.
Baca juga: Sopir Angkot 44 Mogok Operasi di Tebet Jaksel gara-gara JakLingko
Meskipun saat ini ojek online juga telah tersedia, beberapa penumpang masih mengatakan tarif angkot lebih terjangkau.
Pelajar bernama Yuda (15) mengaku sesekali menggunakan angkot untuk berangkat ke sekolah dengan tarif Rp 5.000 dari Stasiun Tebet.
Ia belum beralih menggunakan JakLingko karena rutenya tidak sesuai dengan tujuannya.
Yuda juga mengatakan angkot biasanya mudah ditemukan sesaat setelah keluar dari stasiun sehingga memudahkan mobilitasnya menuju sekolah.
"Biasanya kalau udah keluar (stasiun) udah nemu angkot," kata Yuda saat ditemui di kawasan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, Kamis.
Pengakuan serupa disampaikan Aji (19), pekerja di kawasan Epicentrum Walk, Jakarta Selatan, yang sesekali menggunakan angkot untuk menuju tempat kerjanya.
Menurut Aji, keberadaan angkot masih dibutuhkan karena belum ada moda transportasi lain yang melayani rute langsung menuju lokasi kerjanya.
Baca juga: Sopir Angkot 44 Demo di Balai Kota, Protes Trayek Tumpang Tindih dengan JakLingko
"Soalnya kagak ada angkutan umum lain ke jalan yang ke Epicwalk gitu. Enggak ada yang jalan ke sana," ujar Aji.
Aji menilai penghentian operasional angkot akan menyulitkan penumpang yang tidak memiliki alternatif transportasi lain.
Meski layanan JakLingko tersedia, Aji mengaku angkot tetap membantu aktivitas hariannya ketika membutuhkan perjalanan ke rute tertentu.
"Terbantu sih, terbantu," kata Aji.
Hal senada juga disampaikan Fahri (14) dan Rafa (14) yang mengaku tetap membutuhkan angkot karena kendaraan tersebut dapat memangkas waktu tempuh menuju tujuan.
Fahri akan tetap kesulitan apabila angkot benar-benar tidak lagi beroperasi dan tidak ada moda lain yang melayani rute yang sama.
Sementara itu, Rafa mengaku terbantu dengan layanan JakLingko yang gratis, tetapi angkot masih diperlukan ketika rute JakLingko tidak sesuai dengan tujuan perjalanannya.
Baca juga: Selama Ada JakLingko, Kami Malah Terlilit Utang Rentenir buat Nombokin Setoran Keluhan Sopir Angkot M44
"Kalau JakLingko kadang-kadang enggak sesuai tujuan. Jadi berhenti di tujuan baru naik (angkot) buat oper," ujar Rafa.
Keberadaan angkot masih dibutuhkan sebagai pelengkap layanan transportasi umum yang sudah ada.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





Komentar (0)