REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Mohammad Jumhur Hidayat menegaskan pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan bagian dari transformasi pengelolaan sampah nasional menuju sistem yang lebih modern. Menurut dia, fasilitas PSEL dirancang bersih, tertata, dan tidak menimbulkan bau seperti tempat pemrosesan akhir (TPA) konvensional.
Jumhur mengatakan, masyarakat tidak perlu membayangkan PSEL sebagai lokasi penumpukan sampah yang kumuh. Menurut dia, fasilitas tersebut akan dibangun dengan standar modern sehingga mampu mengubah citra pengelolaan sampah di Indonesia.
Baca Juga
Jepang Sebut PSEL Legok Nangka Jadi Model Pengolahan Sampah Modern di Indonesia
PSEL Legok Nangka Dibangun, 2.131 Ton Sampah per Hari Akan Diolah Jadi Listrik
PSEL Legok Nangka Siap Ubah Sampah Jadi Listrik dan Energi Terbarukan
"Hal yang harus diingat bahwa kalau PSEL sudah jadi nantinya maka tidak akan ada bau sama sekali dan tidak akan seperti Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang selama ini dilihat masyarakat. Tapi nantinya justru terlihat seperti sebuah mal yang bersih dan indah," kata Jumhur saat rapat koordinasi percepatan proyek strategis nasional PSEL di Makassar, Rabu (5/8/2026).
Selain mendorong pembangunan PSEL, Kementerian Lingkungan Hidup juga mengembangkan teknologi pengolahan alternatif berupa refuse-derived fuel (RDF) agar sampah dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti batu bara bagi industri.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyatakan pemerintah provinsi siap menyiapkan lokasi terbaik untuk mendukung pembangunan PSEL yang melayani kawasan aglomerasi.
Jumhur juga mengingatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran TPA selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga November. Menurut dia, tingginya kandungan gas metana di TPA meningkatkan risiko kebakaran apabila tidak diantisipasi.
"Saya minta semua pemda, baik pemkab dan pemkot untuk waspada bencana kebakaran TPA. Kerahkan pemadam kebakaran untuk melakukan pembasahan terhadap area TPA, karena sampah di TPA mengandung gas metana yang tinggi. Pastikan tidak boleh ada orang bakar sampah sembarangan di situ atau merokok sembarangan juga tidak boleh," ujar Jumhur.
Dalam kunjungan kerjanya ke Sulawesi Selatan, Jumhur juga meninjau TPA Tamangapa Antang dan instalasi pengolahan lindi. Ia mengapresiasi penerapan metode controlled landfill serta pemanfaatan gas metana yang diolah dan disalurkan kepada masyarakat sekitar.
"Kerja Pak Wali Kota sudah oke. Kira-kira sudah 90-an persen, sesuai harapan Kementerian Lingkungan Hidup. Saya rasa ini cukup baik dan bisa dicontoh kota-kota lain di Indonesia," kata Jumhur.
Komentar (0)