Ma’ruf Amin Ingin NU Jadi ‘NU ala Bashirah’: Fokus ke Kualitas Bukan Kuantitas

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Wakil Presiden ke-13 sekaligus Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ma’ruf Amin, mendorong agar Nahdlatul Ulama (NU) mengedepankan kualitas, bukan sekadar jumlah.

Menurut Ma’ruf, NU ke depan harus dibangun sebagai “NU ala Bashirah”, yakni NU yang berdiri di atas pemahaman yang kuat terhadap nilai dan ajaran organisasi, bukan sekadar identitas atau ikut-ikutan.

Hal itu disampaikan Ma’ruf saat meluncurkan buku karyanya berjudul ‘Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam perspektif KH Ma’ruf Amin’.

“Saudara-saudara sekalian, jadi ada beberapa pikiran saya yang ditulis oleh ananda Siti Hanatun Nisa namanya, jadi buku. Dengan judulnya itu ‘Fikrah, Manhaj, dan Harakah Nahdliyah menurut perspektif atau dalam perspektif K.H. Ma’ruf Amin’. Itu sebenarnya ceramah-ceramah saya, diskusi-diskusi saya, dan dialog-dialog saya,” kata Ma’ruf kepada wartawan, dikutip Kamis (6/8).

Menurut Ma’ruf, inti pemikirannya dalam buku tersebut adalah membangun NU yang lebih menitikberatkan pada kualitas warga Nahdliyin. Ia menilai identitas sebagai warga NU tidak cukup jika tidak disertai pemahaman terhadap hakikat organisasi.

“Inti daripada buku itu, saya ingin ke depan itu NU itu dibangun lebih menitikberatkan pada kualitas warga NU. Bukan kuantitas. Dan NU itu bukan sekedar identitas, tetapi betul-betul pemahaman. Istilah saya, NU ke depan itu menjadi ‘NU ala bashirah’, bukan ‘NU ala bisyarah’,” jelasnya.

Ma’ruf kemudian menjelaskan makna “bashirah” yang dimaksudnya. Menurut dia, bashirah berarti seseorang menjadi bagian dari NU karena memahami dasar, dalil, dan alasan yang kuat, bukan sekadar mengikuti orang lain.

“Nah, bashirah itu atas dasar, bahasa ulamanya namanya bashirah itu ‘ala hujjatin wadhihatin ghairi amya’, atas dasar alasan yang kuat, dasar pemahaman yang kuat, bukan tidak dalam keadaan amya, buta, tidak mengerti apa-apa, hanya hanya ikut-ikutan saja. Jadi NU bukan hanya sekadar ikut karena guru, karena teman, karena bapak, karena lain-lain,” ungkapnya.

Sebaliknya, ia mengingatkan agar NU tidak berkembang menjadi “NU ala bisyarah”. Menurutnya, bisyarah merujuk pada orientasi yang didasarkan pada kepentingan sesaat, bukan pemahaman terhadap nilai-nilai organisasi.

“Bukan ala bisyarah. Bisyarah itu atas dasar amplop. Nah, bisyarah itu kan amplop. Jadi dasarnya itu pemahaman. Kalau itu nanti, itu menjadi kuat keyakinannya itu, kualitas, ya, tidak goyang, karena dia paham tentang NU itu,” katanya.

Ma’ruf menjelaskan hakikat NU terdiri atas tiga pilar utama, yakni fikrah (cara berpikir), manhaj (metode pengambilan keputusan), dan harakah (gerakan).

“Nah, yang saya maksud dia itu paham itu adalah tentang hakikat NU itu. Nah, dari perspektif yang saya baca, bahwa NU itu terdiri dari tiga hal. Satu, cara berpikir. NU itu cara berpikir, fikrah. Kedua, itu cara mengambil keputusan, manhaj namanya. Dan ketiga, NU itu gerakan. Jadi bukan sekadar kumpul, kumpul-kumpul, tapi tidak membuat gerakan,” jelas Ma’ruf.

“Karena NU itu, kata Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, adalah organisasi yang membawa keadilan, membawa keamanan, melakukan perbaikan, islah, ‘jam’iyyatu ishlahin’, dan ‘ihsan’, dan organisasi yang membawa kebaikan-kebaikan. Jadi dia tidak diam, dia ada gerakan,” sambungnya.

Ma’ruf mengatakan cara berpikir NU memiliki akar keilmuan yang jelas. Namun, menurutnya, cara berpikir tersebut juga tidak boleh statis.

“Nah, dari perspektif inilah maka saya melihat pentingnya orang NU itu memahami hakikat daripada NU itu. Cara berpikir NU adalah cara berpikir yang ada landasan akarnya. Biasanya di NU disebut sanad, dari guru-guru-guru dan dari kitab-kitab, turats namanya itu. Ada kitabnya, ada landasannya. Tidak seperti yang lain, berpikir tanpa landasan, tanpa akar,” tuturnya.

Ia menegaskan NU mengembangkan cara berpikir yang moderat, tidak tekstual secara kaku, namun juga tidak liberal.

“Nah, kalau dalam NU itu menurut Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, ada dasar sanadnya, ada kitab-kitabnya, turats. Jadi bukan asal apa namanya itu. Tetapi cara berpikirnya itu tidak statis. Artinya tidak pendapat-pendapat ulama itu jadi fosil, sehingga kita itu terus seperti itu. Ada dinamis, tidak statis. Sebab ada yang berpikir Islam itu ya ya begitu terus, statis, ya statis,” jelas Ma’ruf.

“Tapi juga tidak liberal. Liberal itu tanpa akar. Tidak ada akarnya, NU itu, tetapi tidak statis. Karena itu sifatnya dia moderat. Cara berpikirnya itu tawassuthi, moderat. Tidak statis atau tidak tekstualis, tapi tidak juga liberalis. Jadi dia dia ada akarnya, sumbernya, kemudian juga dia mengalami proses dinamis. Kita menyebutnya itu tathawwur, tathawwur itu dinamis, tidak statis,” lanjutnya.

Menurut Ma’ruf, setelah memiliki cara berpikir dan metode pengambilan keputusan, NU harus mewujudkannya dalam bentuk gerakan nyata.

“Nah, yang kedua itu NU itu adalah metode pengambilan keputusannya, dari akar ini menjadi suatu keputusan itu ada manhajnya namanya itu. Nah, jadi ada panduannya. Itu yang diwariskan oleh para ulama kita,” kata Ma’ruf.

“Jadi kita ada fikrahnya, ada. Tetapi tidak sampai ke keputusan saja. Kalau keputusan saja dia tidak menghasilkan apa-apa. Tidak membawa perbaikan, tidak membawa perubahan, tidak membawa kemaslahatan, tidak membawa keadilan. Maka itu ada gerakan. NU itu adalah gerakan. Nah, itu yang disebut kita harakah,” sambung dia.

Di bidang kebangsaan, ia menegaskan NU sejak awal memiliki komitmen menjaga keutuhan Indonesia melalui semangat Nahdlatul Wathan.

“Nah, yang kedua gerakan kebangsaan. Jadi NU itu sejak awal memang menjadi gerakan kebangsaan. Gerakan kebangsaan itu karena sebelum jadi NU itu namanya ada Nahdlatul Wathan, yaitu dipelopori oleh Kyai Wahab Hasbullah itu,” tuturnya.

Menurut Ma’ruf, semangat kebangsaan NU diwujudkan dalam dua prinsip utama, yakni menjaga negara dari ancaman yang dapat merusak kesepakatan kebangsaan serta memakmurkan negara melalui partisipasi aktif masyarakat.

Ma’ruf berharap NU ke depannya tidak lagi hanya membanggakan jumlah pengikut, melainkan memperkuat kualitas sumber daya manusianya melalui pemahaman terhadap fikrah, manhaj, dan harakah Nahdliyah.

“Kira-kira begitu. Jadi saya ingin ke depan itu NU dibangun di atas semangat gerakan yang berdasarkan kepada landasan berpikir dan cara mengambil keputusan sesuai dengan ajaran NU, itu dipahami. Maka saya ingin membangun kualitas NU ke depan, bukan kuantitas. Atau tadi saya sebut sebagai membangun ‘NU ala bashirah’, atas pemahaman yang kuat, dan bukan sekadar ikut-ikutan. Itu kira-kira 100 tahun, 100 tahun kedua ya, itu khazanah, itu yang ingin saya kontribusikan di NU, NU abad kedua. Itu NU kualitas,” tutupnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Toyota Buka Suara Usai Purbaya Minta Pindahkan Pabrik dari Thailand
• 11 jam lalu
0
thumb
Foto: Demi Hindari Suhu Panas, Warga Korsel Pilih Ngadem di Gua Bekas Tambang
• 4 jam lalu
0
thumb
Airlangga Sebut Potensi AI Sektor Sipil Tembus USD 255 Miliar
• 11 jam lalu
0
thumb
Pusat Tidak Langsung Transfer Dana ke Pemda yang Enggak Mampu Menggaji PPPK
• 10 jam lalu
0
thumb
KPK Sita Uang USD150.000 dari Penggeledahan Kasus Suap Restitusi Pajak KPP Banjarmasin
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.