Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak stagnan pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada akhir perdagangan sesi pertama pukul 12.00 WIB IHSG berada di level 6.351,22 atau tidak bergerak dari penutupan sebelumnya.
Sepanjang perdagangan sesi satu IHSG bergerak di rentang bawah 6.324 hingga tertinggi sempat menyentuh level 6.388.
Nilai transaksi relatif ramau atau mencapai Rp 10,36 triliun dengan volume perdagangan 34,72 miliar saham dalam 1,63 juta kali transaksi. Sebanyak 274 saham menguat, 333 saham melemah, dan 184 saham masih belum bergerak.
Tiga sektor dengan penguatan tertinggi termasuk utilitas, industri dan konsumer primer. Sementara itu sektor kesehatan, teknologi, properti dan finansial tercatat mengalami koreksi hari ini.
Penguatan IHSG terjadi di tengah pergerakan bursa Asia-Pasifik yang cenderung bervariasi. Mengutip CNBC International, indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melemah sekitar 0,5%, sementara Topix bergerak tipis di zona hijau. Di Korea Selatan, Kospi terkoreksi sekitar 1,8%, sedangkan Kosdaq menguat tipis. Adapun indeks acuan Australia S&P/ASX 200 naik sekitar 0,1%.
Sentimen pasar pada perdagangan hari ini cenderung positif, ditopang kombinasi katalis domestik dan global. Dari dalam negeri, optimisme datang setelah ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada kuartal II-2026, melampaui konsensus pasar sebesar 5,12%.
BPS juga melaporkan tingkat kemiskinan turun ke level terendah sejak 1999 dan tingkat pengangguran menyentuh posisi terendah dalam lebih dari tiga dekade. Pemerintah turut menambah stimulus ekonomi pada semester II-2026, mulai dari bantuan sosial, insentif transportasi, penempatan dana SAL Rp70 triliun di Himbara untuk memperkuat likuiditas perbankan, hingga penundaan pemungutan pajak e-commerce guna menjaga daya beli masyarakat.
Dari eksternal, harapan meredanya konflik AS-Iran terus menopang sentimen risiko setelah negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz dilaporkan mengalami kemajuan.
Prospek tersebut membuat harga minyak bertahan dalam tren melemah sehingga berpotensi meredakan tekanan inflasi global. Di sisi lain, data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari ekspektasi memperkuat peluang pelonggaran kebijakan moneter The Federal Reserve, meski aktivitas sektor jasa AS masih berada di zona ekspansi.
Kombinasi sentimen tersebut diharapkan kembali menopang pergerakan aset berisiko, termasuk IHSG dan rupiah pada perdagangan hari ini.
(fsd/fsd)





Komentar (0)