SATU foto pasien yang menunggu lama di Instalasi Gawat Darurat mudah membangkitkan kemarahan.
Dalam bingkai media sosial, yang terlihat adalah pasien, ranjang, lorong padat, dan waktu terus berjalan.
Tidak selalu terlihat proses triase, pemeriksaan, observasi, stabilisasi, konsultasi, pencarian tempat tidur, ataupun komunikasi dengan rumah sakit tujuan rujukan.
Karena itu, waktu tunggu di IGD tidak selalu semata-mata menggambarkan cepat atau lambatnya petugas bekerja.
Ia dapat menjadi tanda, seluruh mata rantai pelayanan sedang tersendat. IGD akhirnya menjadi muara berbagai kemacetan dalam sistem kesehatan.
Akses Meluas, Pemanfaatan MeningkatKepadatan pelayanan perlu ditempatkan dalam perubahan besar setelah Program Jaminan Kesehatan Nasional diberlakukan pada 2014.
JKN telah mengurangi hambatan pembiayaan dan memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan.
Pada 2014 tercatat 92,3 juta pemanfaatan layanan JKN.
Pada 2024 angkanya telah mencapai 673,9 juta pemanfaatan, atau rata-rata sekitar 1,8 juta pemanfaatan setiap hari.
Dalam satu dekade, pemanfaatan layanan meningkat lebih dari tujuh kali lipat.
Baca juga: Pengaruh Politik Jokowi Masih Besar
Peningkatan tersebut merupakan capaian penting. Masyarakat yang dahulu mungkin menunda berobat karena keterbatasan biaya kini mempunyai kesempatan lebih besar memperoleh pertolongan.
Namun, angka itu mencakup pemanfaatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, rawat jalan rumah sakit, dan rawat inap. Jadi, ia bukan angka khusus kunjungan rumah sakit atau IGD.
Meski demikian, peningkatan aliran pasien dalam keseluruhan sistem akan ikut menekan rumah sakit apabila pertumbuhan kapasitas pelayanan primer, rawat inap, ruang intensif, tenaga kesehatan, dan jejaring rujukan tidak mengimbanginya.
JKN tidak tepat ditempatkan sebagai penyebab kepadatan. JKN merupakan keberhasilan perluasan akses.
Tantangannya adalah memastikan kapasitas penyedia pelayanan tumbuh sejalan dengan akses yang telah dibuka.
Tekanan Terjadi di Berbagai DaerahGambaran tekanan terhadap pelayanan rumah sakit muncul di beberapa wilayah.
RS Adam Malik di Medan mencatat 31.817 kunjungan IGD selama 2025, meningkat 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tingkat keterisian tempat tidurnya mencapai 94,6 persen, meningkat dari 84,07 persen pada 2024 dan melampaui rentang ideal yang disebutkan rumah sakit.
Di Sulawesi Tengah, pembahasan DPRD bersama Dinas Kesehatan dan RSUD Undata mencatat peningkatan kunjungan dari rata-rata sekitar 200 menjadi 600 pasien per hari setelah perluasan akses melalui Program Berani Sehat.
Peningkatan itu berhadapan dengan keterbatasan kapasitas UGD, sarana, dan tenaga kesehatan.
Di Papua, RSUD Jayapura melaporkan, pertumbuhan penduduk dan tingginya pasien rujukan dari berbagai wilayah telah meningkatkan kebutuhan pelayanan kritis.
Kasus gawat darurat bertambah, sementara kapasitas ICU dan NICU belum berkembang secara seimbang.
Baca juga: Darurat Logika Anggaran Program MBG Pasca-Putusan MK
Keterbatasan pelayanan intensif itu berkontribusi terhadap penumpukan pasien di IGD.
Ketiga contoh tersebut tidak serta-merta mewakili seluruh Indonesia.
Namun, pola yang terlihat serupa: permintaan dan akses pelayanan meningkat, sedangkan kapasitas lanjutan belum selalu bertambah dengan kecepatan yang sama.
Salah paham sering muncul karena pelayanan dianggap baru dimulai setelah pasien mendapat infus, obat, tindakan, operasi, atau kamar rawat.






Komentar (0)