Indeks Stok-Produksi Industri Naik Tapi Tenaga Kerja Turun, Tanda Apa?

cnbcindonesia.com
10 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi Pabrik Gudang Kantor Kawasan Industri (Dok. rumah123.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) di Indonesia yang telah dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami peningkatan pada kuartal II-2026.

Nilainya naik menjadi sebesar 52,31, dari angka indeks pada kuartal I-2026 yang sebesar 51,37.

Ditopang oleh beberapa komponen pembentuknya, seperti pesanan, produksi, waktu pengiriman pemasok, hingga stok atau inventori persediaan bahan baku yang naik. Hanya indeks tenaga kerja yang mengalami kemerosotan dibanding kuartal I-2025.


Baca: Penduduk Miskin RI Turun, Tapi di Aceh, Bali-Papua Malah Naik

Untuk angka komponen indeks stok yang naik, besarannya menjadi 51,86 dari sebelumnya 51,54. Beriringan dengan angka indeks pesanan yang naik menjadi 53,78 dari 52,69, dan produksi 54,21 dari 51,78.

"Antara lain karena stok bulog naik, stok perusahaan Tbk, dan pupuk meningkat," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Mohammad Edy Mahmud saat konferensi pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Menurut BPS, naiknya komponen indeks untuk stok bukan disebabkan permintaan yang turun, melainkan disebabkan akumulasi persediaan bahan baku pada pertengahan tahun 2026.

Peningkatan stok ini kata BPS mencerminkan strategi antisipasi pelaku usaha terhadap ekspektasi kenaikan produksi dan volume pesanan yang lebih tinggi di masa mendatang, guna menjamin keberlangsungan siklus manufaktur secara keseluruhan.

Terlihat dari komponen pesanan dan produksi yang juga tercatat naik, termasuk komponen waktu pengiriman yang angka indeksnya naik ke level 49,71 dari 49,01 meski masih dalam zona kontraksi.

Baca: BPS: Garis Kemiskinan RI Naik Jadi Rp 669.235/Kapita per Bulan

Namun, BPS mengingatkan, komponen tenaga kerja menjadi satu-satunya angka indeks yang turun dari 50,57 menjadi 49,92 atau malah merosot ke zona kontraksi.

Kondisi ini menurut BPS menunjukkan bahwa meskipun aktivitas produksi menguat, perusahaan manufaktur masih cenderung berhati-hati dalam melakukan penambahan tenaga kerja.

Sebagai indikator yang lambat (lagging), pergerakan komponen ini menurut BPS mencerminkan keputusan strategis perusahaan dalam menyesuaikan kapasitas operasional jangka panjang terhadap dinamika permintaan pasar.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:
Video:Pertumbuhan Ekonomi 5,29%, Menkeu Optimistis Tembus 6%

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Disney Raup Laba Kuartalan Rp46 Triliun Berkat Kesuksesan Toy Story 5
• 1 jam lalu
0
thumb
Nasib Kuliah Mantan Ketua BEM FH UBK Abdi Usai Kasus Rp 20 Juta: Skripsi Tertunda Setahun
• 4 jam lalu
0
thumb
Menjamu Timnas Indonesia di Laga Pamungkas Grup A Piala AFF 2026, Singapura Pakai Jersey Baru
• 13 jam lalu
0
thumb
Usul Ajukan JR ke MK, PKS Minta Batas Usia Caleg DPR Diturunkan Jadi 18 Tahun
• 20 jam lalu
0
thumb
Menko Polkam Pastikan Pemerintah Bersungguh-sungguh Jaga Keamanan Papua
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.