Terkini, Makassar – Program pemilahan sampah yang mulai diterapkan Pemerintah Kota Makassar sejak 1 Agustus 2026 tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pengolahan sampah organik.
Salah satu contoh penerapannya terlihat di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang. Pengelolaan sampah organik di lokasi tersebut berhasil dikembangkan menjadi budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot yang memiliki nilai jual.
Hal itu disampaikan Lurah Baru, Fajar Harianto, dalam diskusi Coffee Morning yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Makassar pada Rabu (5/8/2026).
Fajar mengatakan keberhasilan pengelolaan sampah tidak semata ditentukan oleh fasilitas yang tersedia, melainkan bergantung pada kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.
Menurutnya, sosialisasi kepada masyarakat masih perlu diperluas karena masih banyak warga yang belum memahami cara mengelola sampah organik maupun anorganik setelah kebijakan baru diberlakukan.
“Informasi memang harus lebih masif. Masyarakat juga perlu diberikan solusi praktis mengenai cara mengelola sampah organik di rumah,” kata Fajar.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama pengelolaan sampah bukan hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi membangun budaya dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Pengalaman mengelola TPS 3R Kelurahan Baru sejak 2023, lanjut Fajar, menunjukkan keberhasilan program lebih banyak ditentukan oleh komitmen masyarakat dibandingkan besarnya keuntungan yang diperoleh.
Meski demikian, pengelolaan sampah tetap mampu memberikan nilai tambah. Sampah organik yang dikumpulkan dimanfaatkan sebagai pakan maggot BSF yang memiliki harga jual berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.
Saat ini, produksi maggot di TPS 3R Kelurahan Baru mencapai sekitar 30 hingga 50 kilogram per hari, sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus membantu mengurangi timbunan sampah organik.
Selain membudidayakan maggot, pengelola TPS 3R juga menjalankan program edukasi melalui penukaran pupa maggot dengan telur BSF secara gratis.
Program tersebut diharapkan dapat mendorong lebih banyak warga mengolah sampah organik secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Fajar menambahkan, pendekatan persuasif menjadi strategi yang paling efektif dalam mengubah perilaku masyarakat. Karena itu, pihaknya lebih mengedepankan komunikasi langsung, edukasi berkelanjutan, dan semangat gotong royong dibandingkan pendekatan yang bersifat memaksa.
“Bagi kami yang paling penting masyarakat mau memilah sampah. Itu sudah menjadi kontribusi besar dalam membantu pemerintah mengurangi sampah yang berakhir di TPA,” pungkasnya.





Komentar (0)