JAKARTA, KOMPAS.TV- Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,97 persen.
Namun, Ekonom Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai, capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil masyarakat.
Ia mengatakan, masih terdapat sejumlah indikator yang menunjukkan masyarakat justru lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya. Salah satunya tercermin dari data Bank Indonesia mengenai porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi.
Menurutnya, porsi pendapatan masyarakat yang dialokasikan untuk konsumsi pada triwulan II 2026 hanya berada di kisaran 72–73 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai sekitar 74–75 persen.
Baca Juga: Purbaya Sebut Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen Sudah Baik, Targetkan 6 Persen di Akhir Tahun
"Dari sisi konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,06 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan TW II 2025 sebesar 4,97 persen, share pendapatan masyarakat untuk konsumsi justru mengalami perlambatan," kata Nailul Huda dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (5/8).
Ia menjelaskan, penurunan porsi pendapatan untuk konsumsi menunjukkan masyarakat cenderung menahan belanja di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
"Artinya, masyarakat lebih menahan konsumsinya di TW II 2026, meskipun ada kenaikan upah buruh yang relatif kecil sebesar 3 persen," ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sumber pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang dilaporkan BPS.
Baca Juga: BPS: Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen di Kuartal II 2026, Ditopang Konsumsi RT dan Belanja Pemerintah
Penulis : Dina Karina Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- celios
- data konsumsi rumah tangga
- pengeluaran masyarakat
- belanja masyarakat
- data pertumbuhan ekonomi
- bps






Komentar (0)