Mobil Listrik Sudah Murah Tapi Konsumen Masih Ragu, Ternyata Ini Biang Keroknya

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Tangerang Selatan, VIVA - Harga mobil listrik di Indonesia terus bergerak semakin kompetitif. Berbagai model baru kini hadir dengan banderol di bawah Rp300 juta, sehingga semakin banyak pilihan bagi konsumen. Namun, murahnya harga ternyata belum menjadi jaminan masyarakat langsung beralih ke kendaraan listrik.

Ekonom Josua Pardede, mengungkapkan bahwa hambatan terbesar adopsi mobil listrik saat ini bukan lagi soal harga. Berdasarkan hasil survei yang dipaparkannya, masyarakat justru lebih memikirkan kepastian saat menggunakan kendaraan listrik dalam aktivitas sehari-hari.

Baca Juga :
Honda Buka Harga Super One, Klaim Sudah Banyak yang Pesan
Investasi Pabrik Mobil Masih Tersendat, Purbaya Minta Pelaku Industri Langsung Lapor

"Ketiga hambatan teratas semuanya berkaitan dengan kepastian, bukan berkaitan dengan gaya. Konsumen tidak berkata kendaraan listrik terlalu mahal. Mereka berkata mereka tidak yakin apa yang terjadi kalau nanti ada masalah di tengah perjalanan," ujarnya di sela GIIAS 2026 di ICE BSD City, Tangerang Selatan.

Menurut Josua, terdapat tiga kekhawatiran utama yang masih membayangi calon pengguna mobil listrik, yakni keandalan kendaraan ketika mengalami kendala, keterbatasan jarak tempuh, serta masih terbatasnya fasilitas pengisian daya atau Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Sebaliknya, alasan masyarakat mulai melirik mobil listrik justru datang dari potensi penghematan biaya operasional dan manfaatnya terhadap lingkungan. Kedua faktor tersebut menjadi daya tarik terbesar dibandingkan sekadar mengikuti tren kendaraan elektrifikasi.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar otomotif Indonesia saat ini sedang berada dalam fase pencarian teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

"Indonesia tidak sedang mencari satu teknologi pemenang. Konsumen sedang mencari kecocokan antara teknologi, kebutuhan, kemampuan finansial, dan pola pakainya," kata Josua.

Menurutnya, hal itu tercermin dari pertumbuhan berbagai jenis kendaraan elektrifikasi yang terjadi secara bersamaan. Mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), hingga Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) sama-sama mengalami peningkatan penjualan sepanjang semester pertama tahun ini.

Data yang dipaparkan Josua menunjukkan kendaraan bermesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE) masih menjadi penguasa pasar dengan pangsa sekitar 44,8 persen. Sementara BEV telah mencapai sekitar 21,7 persen, HEV sebesar 12,5 persen, dan PHEV sekitar 1,5 persen.

Baca Juga :
VinFast Tak Gentar dengan Perang Harga Mobil Listrik di Indonesia
Prabowo Siapkan Insentif Kendaraan Listrik, 500 Ribu Motor dan Mobil Listrik Bakal Dapat Stimulus
Sebelum Beli Mobil Listrik, Wajib Coba Mobil yang Satu Ini di GIIAS 2026

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
15 Pekerjaan Terancam Punah pada 2030, AI Ancam Posisi Kasir hingga Desainer Grafis
• 8 jam lalu
0
thumb
PGE Percepat Ekspansi Panas Bumi, Enam Proyek Disiapkan hingga 2032
• 16 jam lalu
0
thumb
Mutilasi Depok, Saepul Gondol Motor Korban dan Buang Potongan Tubuh ke Sungai
• 13 jam lalu
0
thumb
Gempa Magnitudo 5,3 Guncang Selatan Jawa, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
• 5 jam lalu
0
thumb
Pajak E-Commerce Ditunda, Tunggu Daya Beli Masyarakat Sepenuhnya Pulih
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.