Madiun (beritajatim.com) – Program Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 di Kabupaten Madiun masih menghadapi tantangan dalam memenuhi target jumlah peserta didik. Dari total daya tampung sebanyak 1.200 siswa yang disiapkan pemerintah, hingga awal Agustus 2026 baru 261 siswa yang resmi terdaftar. Artinya, lebih dari 900 kursi masih belum terisi meski proses penjaringan calon peserta didik terus dilakukan oleh pemerintah daerah.
Ratusan siswa tersebut terdiri atas 57 peserta didik jenjang sekolah dasar (SD), 114 siswa sekolah menengah pertama (SMP), dan 90 siswa sekolah menengah atas (SMA).
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Madiun, Supriyadi, mengatakan capaian tersebut masih dapat dimaklumi karena Sekolah Rakyat merupakan program baru yang mulai dioperasikan tahun ini. Menurutnya, pemerintah masih terus melakukan sosialisasi sekaligus penjangkauan terhadap keluarga sasaran agar kuota yang tersedia dapat terpenuhi. “Karena memang baru berjalan tahun ini. Ke depan tentu akan kami tingkatkan lagi,” ujarnya.
Menurut Supriyadi, mekanisme penerimaan peserta didik di Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah formal pada umumnya. Program ini tidak menunggu calon siswa datang mendaftar, melainkan pemerintah yang aktif melakukan penjangkauan terhadap keluarga kurang mampu berdasarkan data yang dimiliki.
“Kalau sekolah lain siswanya yang datang mendaftar. Tetapi di Sekolah Rakyat kami yang melakukan penjangkauan kepada masyarakat yang masuk kategori keluarga tidak mampu,” katanya.
Ia menjelaskan, proses penjaringan dilakukan berdasarkan data by name by address dari Kementerian Sosial. Apabila seluruh data sasaran telah ditindaklanjuti, namun kuota masih belum terpenuhi, Dinsos diperbolehkan memperluas penjangkauan kepada keluarga kurang mampu lainnya yang memenuhi kriteria program.
“Kalau seluruh data yang kami miliki sudah dijangkau tetapi masih ada kekurangan, kami bisa melakukan penjangkauan kepada masyarakat lain. Yang penting mereka benar-benar berasal dari keluarga tidak mampu,” pungkasnya. (rbr/kun)





Komentar (0)