Liputan6.com, Jakarta - Kasus dugaan penganiayaan yang menewaskan seorang anggota Polri dan diduga melibatkan prajurit TNI tengah menjadi perhatian. Peristiwa itu terjadi di Asrama Brimob, Jalan KS Tubun, Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, pada Jumat (31/7/2026).
Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mendorong agar pimpinan kedua institusi melakukan koordinasi intens guna menyeleseaikan kejadian ini secara tegas dan transparan.
Advertisement
"Saya mendorong pimpinan TNI dan Polri, baik di tingkat wilayah maupun pusat, untuk berkoordinasi dan mengawal langsung penanganan kasus ini. Jika benar terjadi tindak pidana, maka siapapun pelakunya harus diproses secara tegas dan transparan," kata dia kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).
"Jangan ada pihak yang berusaha melindungi siapa pun. Perkembangan kasus ini juga harus terus dimonitor oleh pimpinan masing-masing institusi agar proses hukumnya berjalan objektif dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan," sambungnya.
Sahroni menegaskan, peristiwa tersebut tidak boleh digeneralisasi sebagai cerminan hubungan TNI dan Polri secara keseluruhan. Menurutnya, soliditas kedua institusi tetap harus dijaga karena yang diduga terlibat merupakan oknum.
"Saya meyakini soliditas TNI dan Polri tetap kuat. Jangan sampai ulah segelintir oknum justru memicu gesekan yang lebih luas di lapangan. Justru cara terbaik membuktikan soliditas itu adalah dengan mengusut perkara ini secara terbuka, profesional, dan tanpa pandang bulu. Dengan begitu, kepercayaan publik terhadap kedua institusi juga akan tetap terjaga," kata dia.





Komentar (0)