Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatera Selatan (Sumsel) selama tujuh hari mulai 4 hingga 10 Agustus 2026 guna menekan lonjakan titik panas.
Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa langkah darurat ini diambil setelah jumlah titik panas berdasarkan pantauan Satelit NASA NOAA20 melonjak dari 46 titik pada 2 Agustus menjadi 104 titik pada 3 Agustus 2026.
"OMC merupakan salah satu upaya mendukung penanggulangan karhutla di enam provinsi prioritas yang memiliki lahan gambut luas dan sulit dipadamkan jika terjadi kebakaran masif," kata dia.
Suharyanto menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Merdeka pada 28 Juli 2026 terkait antisipasi dampak musim kemarau dan fenomena El Nino.
Baca juga: Pemerintah intensifkan modifikasi cuaca, cegah karhutla dan kekeringan
Selain menindaklanjuti arahan Presiden, penanganan ini merespons surat permohonan dukungan OMC dari Gubernur Sumatera Selatan yang telah menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat karhutla hingga 30 November 2026.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mengkonfirmasi operasional OMC dipusatkan di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, dengan dukungan penuh dari TNI AU, BMKG, serta BPBD Provinsi Sumatera Selatan.
Pada hari pertama pelaksanaan, Selasa (4/8), pesawat penyemai berhasil melakukan satu sorti penerbangan dengan menyebar 1.000 kilogram bahan semai di wilayah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir.
Penyemaian garam (NaCl) menggunakan pesawat berbadan tetap (fixed wing) tersebut terbukti efektif memicu turunnya hujan berintensitas ringan di area terdampak.
"Selanjutnya pemerintah daerah, masyarakat, serta pelaku usaha di sektor kehutanan dan pertanian diimbau meningkatkan sinergi dan pencegahan dini agar tidak melakukan pembakaran lahan," kata Suharyanto menambahkan.
Baca juga: Kalsel pertimbangkan OMC kedua antisipasi karhutla saat kemarau
Baca juga: Waspada, BMKG prediksi El Nino bertahan hingga kuartal I 2027
Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa langkah darurat ini diambil setelah jumlah titik panas berdasarkan pantauan Satelit NASA NOAA20 melonjak dari 46 titik pada 2 Agustus menjadi 104 titik pada 3 Agustus 2026.
"OMC merupakan salah satu upaya mendukung penanggulangan karhutla di enam provinsi prioritas yang memiliki lahan gambut luas dan sulit dipadamkan jika terjadi kebakaran masif," kata dia.
Suharyanto menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Merdeka pada 28 Juli 2026 terkait antisipasi dampak musim kemarau dan fenomena El Nino.
Baca juga: Pemerintah intensifkan modifikasi cuaca, cegah karhutla dan kekeringan
Selain menindaklanjuti arahan Presiden, penanganan ini merespons surat permohonan dukungan OMC dari Gubernur Sumatera Selatan yang telah menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat karhutla hingga 30 November 2026.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mengkonfirmasi operasional OMC dipusatkan di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, dengan dukungan penuh dari TNI AU, BMKG, serta BPBD Provinsi Sumatera Selatan.
Pada hari pertama pelaksanaan, Selasa (4/8), pesawat penyemai berhasil melakukan satu sorti penerbangan dengan menyebar 1.000 kilogram bahan semai di wilayah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir.
Penyemaian garam (NaCl) menggunakan pesawat berbadan tetap (fixed wing) tersebut terbukti efektif memicu turunnya hujan berintensitas ringan di area terdampak.
"Selanjutnya pemerintah daerah, masyarakat, serta pelaku usaha di sektor kehutanan dan pertanian diimbau meningkatkan sinergi dan pencegahan dini agar tidak melakukan pembakaran lahan," kata Suharyanto menambahkan.
Baca juga: Kalsel pertimbangkan OMC kedua antisipasi karhutla saat kemarau
Baca juga: Waspada, BMKG prediksi El Nino bertahan hingga kuartal I 2027






Komentar (0)