METI Imbau Proyek PLTA Dibuat Lebih Bankable

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) mendorong agar pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Indonesia dibuat lebih bankable. Langkah tersebut dinilai penting agar pembangunan PLTA dapat dipercepat dan mendukung target pengembangan energi baru terbarukan (EBT), termasuk program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) yang menjadi prioritas pemerintah.

Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Umum METI Norman Ginting mengatakan, PLTA memiliki peran penting dalam menopang pengembangan PLTS. Pasalnya, listrik dari PLTS bergantung pada kondisi cuaca sehingga bersifat intermittent atau tidak tersedia secara terus-menerus. Sementara itu, PLTA dapat beroperasi sebagai pembangkit beban dasar (baseload) maupun pembangkit saat beban puncak (peaker).

"Kita (METI) melihat bahwa hydropower (PLTA) dapat bersinergi secara langsung dengan program PLTS. Karena PLTS umumnya bersifat intermittent, keberadaan PLTA dapat bertindak sebagai backbone yang sanggup dioperasikan sebagai baseload maupun peaker," ujar Norman.

Menurutnya, sinergi antara PLTA, PLTS, dan pembangkit EBT lainnya akan menjadi fondasi penting bagi sistem kelistrikan nasional yang semakin mengandalkan energi terbarukan.

Namun, Norman menilai realisasi proyek PLTA masih berjalan lambat. Dari berbagai potensi yang ada, kapasitas PLTA terpasang di Indonesia baru sekitar 7,6 GW. Sejumlah proyek memang telah beroperasi, seperti Poso, Malea, Jatigede, Asahan 3, dan Merangin. Sementara terdapat sejumlah proyek besar lainnya masih berjalan (ongoing) seperti Batang Toru, Upper Cisokan Pumped Storage, dan Mentarang.

"Tantangan kita sekarang adalah bagaimana mengeksekusi seluruh pipeline proyek tersebut. Pendekatan business as usual tidak lagi cukup. Kita membutuhkan solusi konkret dan terobosan agar dalam 5-10 tahun ke depan pengembangan PLTA baru dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap bauran EBT nasional," ujarnya.

METI Minta Perizinan Dipercepat Tanpa Mengurangi Tata Kelola

METI menilai percepatan pembangunan PLTA perlu dimulai dengan menyiapkan proyek-proyek. Menurut Norman, proyek harus memiliki kesiapan dari berbagai aspek, mulai dari potensi hidrologi, kondisi geologi, kesiapan lahan, hak guna air (water rights), hingga persetujuan lingkungan.

"Kita perlu mendorong hadirnya bankable project pipeline, karena investor tentu mengharapkan proyek yang bankable," ujarnya.

Selain itu, METI juga meminta proses perizinan dapat dipercepat tanpa mengabaikan prinsip tata kelola yang baik (good governance).

"Kecepatan dan good governance bukanlah dua hal yang bertentangan," kata Norman.

Lebih lanjut, untuk proyek pumped storage, METI juga mendorong adanya penyempurnaan model bisnis. Menurutnya, pembangkit jenis ini memiliki nilai lebih karena dapat berfungsi sebagai sistem penyimpanan energi atau "baterai" bagi jaringan listrik Jawa-Bali. Oleh sebab itu, skema pendapatannya tidak hanya bergantung pada penjualan listrik (kWh), tetapi juga perlu memperhitungkan nilai yang diberikan terhadap stabilitas sistem kelistrikan.

“Tentu banyak tantangan yang dihadapi, Harapan kami forum ini tidak berhenti sebagai acara one-shoot, melainkan menjadi forum berkelanjutan,” ujarnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Perkara Kopilot Kurir 26 Kg Ekstasi di Soetta Juga Diusut Malaysia
• 9 jam lalu
0
thumb
PPh E-Commerce Berpotensi Alihkan Penjual ke Facebook Marketplace, Apa Fiturnya?
• 9 jam lalu
0
thumb
Mahasiswa UGM Bangun Bisnis Dimsum dari Rumah, Kini Punya Empat Outlet di Jogja
• 20 jam lalu
0
thumb
Modus Sebar Ulang Video Lama, Penyebar Hoaks Ajakan Demo Agustus Terancam Bui
• 1 jam lalu
0
thumb
Tiga Wanita WN Malaysia Diamankan di Bandara Soetta, Diduga Selundupkan Narkoba
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.