Kaki berperan lebih dari sekadar menopang berat badan. Struktur tulang, sendi, ligamen, tendon, dan otot pada kaki bekerja secara terintegrasi untuk menjaga keseimbangan, menyerap benturan, serta mendistribusikan beban tubuh saat bergerak.
Ketika terjadi gangguan pada struktur tersebut, perubahan distribusi tekanan dapat meningkatkan beban pada pergelangan kaki, lutut, panggul, hingga tulang belakang dan memicu berbagai keluhan muskuloskeletal atau sistem tubuh manusia lainnya.
Dokter spesialis ortopedi subspesialis kaki dan pergelangan tangan di Siloam Hospitals Mampang Jakarta Astuti Pitarini menjelaskan, kendala utama menangani gangguan pada kaki yakni masih banyak warga yang menunda pemeriksaan ke dokter dan memilih mencoba berbagai metode pengobatan alternatif.
Pesatnya perkembangan media sosial juga memunculkan kesenjangan informasi antara masyarakat dan tenaga medis. Beragam informasi kesehatan yang beredar di platform digital tidak selalu lengkap atau akurat. Hal ini memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap kondisi yang dialami maupun langkah penanganan medis yang tepat.
Tidak jarang pasien yang datang sebenarnya telah mengalami keluhan bertahun-tahun, tapi baru mencari pertolongan ketika saran-saran yang didapat melalui media sosial tak bermanfaat dan nyeri mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau bentuk kaki kian progresif berubah.
"Padahal, apabila diperiksa lebih awal, pilihan terapinya lebih beragam sehingga pasien dapat memperoleh penanganan yang tepat dan memiliki keyakinan lebih dalam menjalani proses pemulihan," kata Astuti, di Jakarta, pada Rabu (5/8/2026).
Sepatu atau alas kaki lainnya bukan sekadar pelengkap penampilan, melainkan bagian dari strategi pencegahan cedera.
Sementara dokter spesialis kedokteran olahraga di Siloam Hospitals Mampang, Antonius Andi Kurniawan menambahkan dalam perspektif kedokteran olahraga, kaki merupakan titik awal dari setiap pergerakan tubuh.
Kondisi kaki tak optimal bisa memengaruhi stabilitas, efisiensi gerak, serta meningkatkan risiko cedera seperti keseleo pergelangan kaki (ankle sprain), peradaganan tendon Achilles (tendinitis Achilles), hingga Cedera akibat penggunaan berlebihan (overuse injury), baik pada individu yang aktif berolahraga maupun masyarakat umum.
Banyak cedera semacam ini, kata Antonius, sebenarnya bisa dicegah, tapi kerap baru disadari setelah aktivitas sehari-hari mulai terganggu. Padahal, menjaga kesehatan kaki tidak hanya dilakukan ketika muncul keluhan, tetapi juga melalui langkah preventif, termasuk memilih alas kaki sesuai bentuk kaki, jenis aktivitas, dan intensitas penggunaan.
Menurut dia, sepatu atau alas kaki lainnya bukan sekadar pelengkap penampilan, melainkan bagian dari strategi pencegahan cedera. Tanpa dukungan yang tepat, risiko cedera seperti ankle sprain atau overuse injury bisa meningkat dan berdampak pada aktivitas jangka panjang.
Alas kaki tidak tepat dapat menimbulkan beberapa masalah seperti munculnya benjolan tulang di pangkal jempol kaki (bunion), jari kaki menekuk ke bawah (hammer toe), kapalan, hingga menyebabkan kuku kaki tumbuh ke dalam.
"Pemilihan alas kaki yang tepat dapat membantu memberikan stabilitas, mengurangi tekanan berlebih pada kaki, serta mendukung seseorang tetap aktif bergerak dengan aman dalam jangka panjang," ucap Antonius.
Direktur Eksekutif Siloam Hospitals Mampang Ratih Hadiwinoto menegaskan, edukasi kesehatan kaki harus diperkuat agar meningkatkan kualitas hidup. Sebab, tujuan utama layanan orthopaedi bukan hanya menangani keluhan atau cedera, tapi membantu tiap orang kembali bergerak dengan bebas, menjalani aktivitas sehari-hari, serta menikmati kualitas hidup yang lebih baik.
"Selain menghadirkan layanan medis yang komprehensif melalui kolaborasi multidisiplin dan dukungan teknologi medis terkini, kami juga terus memperkuat upaya promotif dan preventif melalui edukasi kepada masyarakat," ucap Ratih.
Di sisi lain, studi Stanford University pada tahun 2022 mencatat Indonesia berada di peringkat pertama sebagai negara dengan masyarakat paling malas jalan kaki di dunia.
Rata-rata orang Indonesia hanya berjalan 3.513 langkah per hari, jauh di bawah rata-rata dunia. Kebanyakan merasa fasilitas umum belum mendukung, cuaca yang panas, kendaraan terjangkau, dan faktor sosial.
Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 juga menunjukkan 37,4 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas kurang melakukan aktivitas fisik, sedangkan 62,6 persen cukup beraktivitas fisik.
Sebanyak 48,7 persen di antaranya beralasan tidak ada waktu, 32,6 persen mengaku malas, 19,5 persen menyebut sudah lanjut usia, dan 9,8 persen merasa tidak memiliki rekan beraktivitas.
Angka-angka ini menunjukkan ada ancaman serius bagi produktivitas dan kualitas hidup masyarakat. Padahal aktivitas fisik sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda ringan, atau menggunakan tangga dapat membantu meningkatkan kebugaran tanpa memerlukan peralatan mahal.






Komentar (0)