El Niño Kuat dan IOD Positif di Depan Mata, Apa yang Harus Dilakukan?

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan El Niño 2026 berkembang menjadi kategori kuat, berdasarkan pengamatan Mei–Juli. Bahkan, peluangnya 75 persen untuk meningkat jadi amat kuat pada Agustus hingga Oktober.

Pada saat yang sama, Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga mulai berkembang, memperkuat potensi berkurangnya curah hujan selama puncak musim kemarau.

"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, El Niño dalam kategori kuat dan berpotensi jadi amat kuat," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam dialog nasional ”Antisipasi El Niño 2026” yang diadakan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas), di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Ia mengingatkan, dampaknya fenomena El Niño kategori kuat tidak hanya dirasakan di sektor pertanian, tetapi juga air, energi, kebakaran hutan, hingga ekonomi masyarakat.

Peringatan tersebut sejalan dengan World Meteorological Organization (WMO). Organisasi meteorologi dunia tersebut menyebut El Niño akan terus menguat sepanjang Agustus–Oktober 2026 dan diperkirakan mendominasi pola iklim global.

Berbagai model iklim internasional memperkirakan anomali suhu permukaan laut musiman bisa melampaui 2,9 derajat celsius di wilayah pemantauan utama.

Bersamaan dengan suhu laut global yang luar biasa hangat dan berkembangnya IOD positif, risiko kekeringan, kebakaran hutan, gelombang panas, hingga gangguan produksi pangan diperkirakan meningkat di berbagai belahan dunia.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menggambarkan situasi itu dengan peringatan yang keras. "El Niño bukan lagi berada di depan pintu. Ia sudah berada di dalam rumah dan sedang menaikkan suhu," katanya.

Pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil membuat tiap episode El Niño kini berlangsung di atas bumi yang jauh lebih panas dibandingkan sebelumnya. Bagi Indonesia, peringatannya jelas. Persoalannya bukan lagi apakah El Niño akan datang, melainkan seberapa siap Indonesia menghadapinya.

Serial Artikel

Bagaimana Dampak Terburuk El Nino 2026 terhadap Indonesia

El Nino bisa membawa konsekuensi serius pada berbagai bidang kehidupan di Indonesia. Apakah Indonesia sudah siap menghadapinya?

Baca Artikel
Pelajaran dari El Niño sebelumnya

Pelajaran dari tiga episode El Niño sebelumnya menunjukkan dampaknya tak pernah hanya berupa musim kemarau lebih panjang. Deputi Klimatologi BMKG Fachri Radjab mengatakan, El Niño amat kuat pada 2015 memicu kebakaran hutan dan lahan sekitar 2,4 juta hektar. Ini menyebabkan inflasi hingga 6–7 persen.

Pada tahun 2019, meski El Niño hanya lemah, keberadaan IOD positif yang kuat tetap menyebabkan 1,65 juta hektar lahan terbakar. Sementara El Niño kuat pada 2023 mengakibatkan kebakaran sekitar 1,16 juta hektar, meski dampaknya lebih kecil berkat perbaikan sistem pencegahan.

Pengalaman tersebut menunjukkan besarnya dampak tidak hanya ditentukan kekuatan El Niño, tapi juga oleh kesiapan pemerintah dan masyarakat sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Namun, ada satu kesalahpahaman yang kerap muncul tiap El Niño datang, yakni anggapan bahwa seluruh Indonesia akan mengalami kekeringan.

BMKG justru menegaskan dampaknya tidak merata. Wilayah di selatan khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian selatan, hingga Papua bagian selatan, diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan rata-rata.

Sebaliknya, daerah berpola hujan ekuatorial, seperti Sumatera bagian utara dan Kalimantan bagian utara, masih dapat menerima hujan lebat, bahkan mengalami banjir. Kondisi tersebut sudah terlihat dalam beberapa pekan terakhir.

Paradoks ini memperlihatkan bahwa Indonesia harus menghadapi dua ekstrem sekaligus: kekurangan air di satu wilayah dan kelebihan air di wilayah lain. Karena itu, strategi adaptasi tidak bisa diseragamkan.

Prioritas mencegah kebakaran hutan

Meski tak semua wilayah sama, mayoritas Indonesia saat ini berisiko menghadapi kemarau lebih kering dan panjang. Fachri Radjab mengingatkan, El Niño kuat dan IOD positif berkontribusi mengurangi curah hujan. " Di timur El Niño aktif, di barat IOD positif juga aktif. Keduanya akan mengurangi hujan di Indonesia selama kemarau," ujarnya.

Menurut catatan BMKG, hingga 2 Agustus 2026 telah terdeteksi 5.690 titik panas, dengan peningkatan lebih cepat dibandingkan periode sama pada 2015, 2019, dan 2023. Padahal, puncak musim kemarau justru baru berlangsung pada Agustus. Ini artinya risiko kebakaran hutan dan lahan masih akan lebih kuat pada bulan ini dan ke depan.

Baca JugaEl Nino Mendidihkan Lautan, Memecahkan Rekor

Mengacu data Walhi, sepanjang 1 Januari hingga 27 Juli 2026 terdapat 34.262 titik panas atau hotspot di Pulau Kalimantan. Yang mencolok, 25.524 hotspot atau 74 persen berada di area konsesi perusahaan. Rinciannya meliputi 10.739 hotspot di perkebunan kelapa sawit, 7.880 hotspot di konsesi pertambangan, serta 6.905 hotspot di kawasan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Jadi, pemerintah sudah mengetahui lokasi-lokasi yang berpeluang terbesar mengalami kebakaran bahkan sebelum titik api muncul. Informasi seperti ini semestinya memungkinkan patroli diperkuat, sekat kanal diperbaiki, pembasahan gambut dilakukan lebih awal, hingga pengawasan terhadap perusahaan diperketat sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.

Ketersediaan air

Jika kebakaran menjadi ancaman paling nyata dalam jangka pendek, maka persoalan berikutnya adalah air. Dengan minimnya hujan, beberapa daerah mulai kekurangan air.

Ironisnya, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan curah hujan tahunan tinggi. Namun hampir tiap El Niño tetap dihadapkan pada krisis air bersih, kekeringan pertanian, dan berkurangnya pasokan air baku. Persoalannya bukan semata-mata karena hujan berkurang, melainkan karena kemampuan menyimpan dan mengelola air terbatas.

Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengingatkan, sebagai negara kepulauan, Indonesia seharusnya tak mengalami masalah kelebihan dan kekurangan air secara bergantian. "Seharusnya masalah air adalah soal manajemen, bagaimana mengendalikan saat berlimpah dan berkekurangan," ujarnya.

Tantangan menghadapi El Niño tidak boleh mengganggu pembangunan sehingga diperlukan perencanaan berbasis risiko, penguatan informasi iklim, pembiayaan adaptasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Seharusnya masalah air adalah soal manajemen, bagaimana mengendalikan saat berlimpah dan berkekurangan.

Indonesia sebenarnya telah membangun puluhan bendungan dan ribuan embung dalam satu dekade terakhir. Namun tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membangun infrastruktur, melainkan memastikan prakiraan musim dari BMKG menjadi dasar pengoperasian waduk, distribusi irigasi, hingga penentuan pola tanam di tingkat petani.

Sektor pangan

Di sektor pangan, tantangannya tidak kalah besar. El Niño memang tidak otomatis menyebabkan gagal panen. Namun kekurangan air pada fase-fase kritis pertumbuhan tanaman dapat memangkas produksi secara signifikan. Dampaknya kemudian merambat ke kenaikan harga pangan dan inflasi, sebagaimana pernah terjadi pada tahun 2015.

Karena itu, informasi iklim harus diperlakukan sebagai bagian dari kebijakan pangan. Pihak BMKG telah menyampaikan rekomendasi mengenai waktu tanam dan tanaman yang lebih sesuai dengan ketersediaan air.

Teuku Faisal Fathani mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk menyesuaikan komoditas dan kalender tanam selama musim kering, sekaligus dengan sektor energi untuk menjaga ketahanan pasokan listrik.

Baca JugaEl Nino Datang, Inflasi Beras Kian Menantang

Langkah seperti ini telah lama diterapkan di Vietnam, Thailand, maupun Filipina. Prakiraan ENSO tidak berhenti sebagai laporan ilmiah, tetapi diterjemahkan menjadi layanan langsung kepada petani mengenai kapan menanam, varietas apa yang digunakan, dan bagaimana menghemat air.

Indonesia memiliki kemampuan sains yang tidak kalah baik. Tantangannya adalah memastikan informasi tersebut sampai kepada jutaan petani dalam bentuk rekomendasi yang mudah dipahami dan cepat diterapkan.

Namun, pekerjaan Indonesia belum selesai ketika musim hujan mulai datang. BMKG memperkirakan hujan mulai kembali turun pada pertengahan Oktober hingga November sehingga risiko kekeringan dan kebakaran hutan secara bertahap menurun.

Akan tetapi, WMO mengingatkan bahwa pengaruh El Niño terhadap suhu rata-rata global justru biasanya mencapai puncaknya pada tahun setelah fenomena tersebut berkembang.

Antisipasi hingga tahun 2027

Sejarah menunjukkan pola yang konsisten. El Niño 1997-1998 diikuti rekor suhu global pada 1998. El Niño 2015-2016 menjadikan 2016 sebagai tahun terpanas di dunia saat itu. Setelah El Niño 2023-2024, dunia kembali mencatat rekor suhu global dan melampaui ambang kenaikan 1,5 derajat Celsius dibandingkan era praindustri.

Artinya, sekalipun Indonesia mulai memasuki musim hujan pada akhir 2026, tekanan panas belum tentu langsung berakhir. Suhu udara yang lebih tinggi dari normal masih berpotensi berlanjut hingga 2027.

Kondisi tersebut meningkatkan penguapan, memperbesar kebutuhan air tanaman, menaikkan konsumsi energi untuk pendingin ruangan, sekaligus memperbesar risiko kesehatan akibat panas ekstrem.

Karena itu, adaptasi tidak boleh berhenti ketika hujan pertama turun. Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati mengingatkan, sekitar 90 persen bencana di Indonesia kini merupakan bencana hidrometeorologi dengan kerugian ekonomi sekitar Rp 22 triliun per tahun.

Ironisnya, lebih dari separuh anggaran penanggulangan bencana masih digunakan untuk respons dan pemulihan setelah bencana terjadi. "Upaya pencegahan menjadi penting. Hampir seluruh wilayah saat ini memiliki potensi kekeringan. Kami mendorong pemerintah daerah memiliki kajian risiko bencana sehingga bisa dianggarkan," ujarnya.

Pesan itu sejalan dengan peringatan WMO. Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan bahwa prakiraan El Niño sesungguhnya memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk bertindak sebelum dampaknya terjadi. "Prakiraan tidak pernah mencegah bencana. Manusialah yang mencegahnya," katanya.

Indonesia sebenarnya telah memiliki modal jauh lebih baik dibandingkan satu dekade lalu. BMKG sudah mengeluarkan peringatan sejak Maret. Sistem pemantauan iklim semakin maju. Koordinasi antarkementerian juga semakin kuat. Kini tantangannya adalah memastikan seluruh informasi itu berubah menjadi aksi nyata di lapangan.

Keberhasilan menghadapi El Niño 2026 tidak akan diukur dari seberapa cepat pemerintah memadamkan kebakaran atau menyalurkan bantuan ketika kekeringan terjadi.

Ukurannya adalah seberapa sedikit hutan yang terbakar, seberapa kecil gagal panen yang terjadi, seberapa banyak air yang berhasil disimpan, dan seberapa baik masyarakat terlindungi sebelum bencana berkembang.

Baca JugaKekeringan di Indonesia Meluas dan Titik Panas Melonjak

El Niño memang merupakan fenomena alam yang akan terus berulang. Namun besarnya bencana yang ditimbulkannya bukanlah sesuatu yang telah ditakdirkan.

Dalam era perubahan iklim, perbedaan antara krisis dan ketahanan semakin ditentukan oleh kualitas tata kelola. Ketika BMKG dan WMO telah memberikan peringatan berbulan-bulan sebelumnya, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mengetahui ancaman itu, melainkan apakah Indonesia mampu bertindak sebelum terlambat.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pelaku Perusak Pipa Minyak Pertamina di Jambi Berhasil Diidentifikasi
• 13 jam lalu
0
thumb
DPR Akan Kuliti Penyebab Kebakaran KM Mutiara Sentosa 2
• 1 jam lalu
0
thumb
Pol Espargaro Gantikan Maverick Vinales di KTM untuk MotoGP Inggris 2026
• 12 jam lalu
0
thumb
Keterlaluan, Bupati Kuansing Nonaktif Potong TPP ASN Hingga 50%
• 12 jam lalu
0
thumb
BNI (BBNI) Cetak Laba Bersih Rp10,8 Triliun di Semester I-2026, Kredit Melesat 24,4 Persen
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.