BMKG Ungkap Penyebab El Nino 2026 Datang Lebih Cepat dan Berpotensi Sangat Kuat

kompas.com
14 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menjelaskan, fenomena El Nino 2026 datang lebih cepat dari siklus normal empat tahunan akibat adanya anomali iklim dunia serta dampak perubahan iklim global.

"Tadi saya sampaikan bahwa El Nino pernah terjadi yang sangat kuat di tahun 2015, kemudian 2019, 2023, dan sekarang 2026. Sehingga ada pemahaman bahwa El Nino terjadi 4 tahunan di Indonesia. Sekarang kok 3 tahun sudah terjadi ya karena adanya anomali iklim dunia, perubahan iklim yang membuat dia datang lebih cepat," ujar Faisal dalam acara diskusi Bappenas, Selasa (4/8/2026).

Faisal memaparkan, pemahaman masyarakat mengenai siklus El Nino yang terjadi setiap empat tahun kini mulai bergeser seiring dengan dinamika atmosfer global yang semakin kompleks.

Baca juga: KPK Geledah Kantor Imigrasi Jakarta Selatan Terkait Kasus Silmy Karim

Perubahan iklim telah memperpendek jeda antar fenomena tersebut, sehingga Indonesia harus kembali bersiap menghadapi dampak kekeringan hanya dalam kurun waktu tiga tahun sejak kejadian terakhir pada 2023 lalu.

"El Nino bukan hanya fenomena iklim yang mempengaruhi curah hujan, tetapi merupakan tantangan yang dapat berdampak pada berbagai sektor pembangunan," ucap Faisal.

Selain kedatangannya yang lebih awal, El Nino kali ini juga tercatat memiliki intensitas yang kuat dan diprediksi terus meningkat hingga kategori sangat kuat.

Baca juga: Ketua RT Bantah Lepaskan Pencuri Motor di Bekasi: Informasi di Medsos Tidak Sesuai

Hal ini ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang cukup signifikan, yang secara langsung menekan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan khatulistiwa.

"Dengan indeks ENSO plus 1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," ucapnya Faisal.

Percepatan siklus ini diprediksi akan menyebabkan musim kemarau di tahun 2026 menjadi jauh lebih kering dan memiliki periode yang lebih panjang.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Pemerintah Targetkan Angka Kekerasan terhadap Anak Turun Lewat Gerakan Nasional

BMKG juga memperingatkan, suhu udara global yang meningkat akibat respons bumi terhadap fenomena ini diperkirakan masih akan terus terasa hingga tahun 2027 mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sederhana, Denny Sumargo Pilih Rayakan Ultah Biel di Panti Asuhan
• 10 jam lalu
0
thumb
Presiden Prabowo Instruksikan Percepatan Penanganan Pemadaman Listrik dan Jaga Stabilitas Harga BBM
• 6 jam lalu
0
thumb
Kemenko Kumham Imipas Arahkan Kebijakan Hukum di Kalimantan Timur Selaras dengan Pembangunan Nasional
• 3 jam lalu
0
thumb
Pemetaan Suara Elektoral Butuh Pemanfaatan Teknologi AI
• 1 jam lalu
0
thumb
Menteri LH Apresiasi Pemanfaatan Gas Metan dan Pengelolaan Lindi di TPA Tamangapa
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.