Dow Jones dan S&P 500 Cetak Rekor Baru, Wall Street Menguat Tajam

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Indeks saham di Wall Street Amerika Serikat (AS) menguat tajam pada Selasa (4/8), dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 mencetak rekor penutupan tertinggi.

Penguatan didorong proyeksi kinerja yang optimistis dari Caterpillar dan sejumlah perusahaan lainnya, sementara tren harga minyak menurun tajam dalam beberapa hari terakhir.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 933,95 poin atau 1,76 persen menjadi 54.112,36. Sementara S&P 500 menguat 115,96 poin atau 1,53 persen ke level 7.716,66, dan Nasdaq Composite melonjak 548,22 poin atau 2,12 persen menjadi 26.462,11.

Indeks saham global juga sempat mencetak rekor tertinggi baru dalam perdagangan intraday.

Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah pernyataan pejabat Qatar dan AS meningkatkan harapan untuk mengakhiri perang Iran yang berpotensi memperlancar kembali arus pasokan minyak melalui Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan terdapat kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran dan Oman terkait upaya meningkatkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Meski demikian, kesepakatan akhir masih belum tercapai. Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz berpotensi tercapai paling cepat pada Selasa atau Rabu.

Adanya upaya damai membuat harga minyak mentah AS (WTI) turun 5,43 persen menjadi USD 75,98 per barel, sedangkan minyak mentah Brent melemah 5,24 persen menjadi USD 79,38 per barel.

Saham Caterpillar, yang kerap dipandang sebagai indikator kondisi ekonomi industri global, menguat setelah perusahaan menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunannya seiring meningkatnya pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Sementara itu, saham Palantir Technologies juga melonjak setelah perusahaan tersebut turut meningkatkan proyeksi pendapatan tahunannya.

Senior Vice President and Adviser Wealthspire Advisors, Oliver Pursche, mengatakan investor merespons laporan keuangan perusahaan yang lebih kuat serta prospek bisnis yang semakin positif.

“Investor merespons laba perusahaan yang lebih kuat dan ekspektasi yang lebih baik. Secara umum ada optimisme di pasar dan hal itu tercermin dalam pergerakan saham,” ujarnya.

Berdasarkan data LSEG, lebih dari 80 persen perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 berhasil membukukan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi analis.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga melemah seiring anjloknya harga minyak akibat meningkatnya harapan terhadap tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September menjadi lebih rendah.

Sebagian besar analis menilai Ketua The Fed Kevin Warsh tidak menginginkan kenaikan suku bunga, dan data ekonomi yang akan datang diperkirakan dapat menjadi dasar bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Satgas PRR Dorong Percepatan Optimalisasi Tambahan TKD Aceh
• 53 menit lalu
0
thumb
KPK ungkap korupsi digitalisasi SPBU yang rugikan negara Rp322 M
• 10 jam lalu
0
thumb
Anehnya Penelitian Roy Suryo dan Dokter Tifa Soal Ijazah Jokowi, Hakim Tinggi: Hanya Fotokopi Kok...
• 11 jam lalu
0
thumb
Jojo dan Sabar/Reza Masuk Daftar Pemain untuk Asian Games 2026
• 8 jam lalu
0
thumb
Otoritas Malaysia Bingung 26 Kg Narkoba Bisa Lolos ke Pesawat, Pilot Jadi Tersangka
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.