Menuju 81 Tahun Merdeka: Meneguhkan Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa ini merayakan kemerdekaan dengan gegap gempita: upacara bendera, lomba panjat pinang, dan pidato kenegaraan yang mengulang kalimat-kalimat heroik. Namun di balik seremoni itu, ada fakta yang jauh lebih substantif untuk direnungkan: setelah 81 tahun, Indonesia bukan sekadar merayakan kemerdekaan sebagai simbol, melainkan telah menunjukkan lintasan nyata menuju cita-cita yang jauh lebih besar—bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.

Ekonom pembangunan Amartya Sen, dalam gagasannya tentang development as freedom, menegaskan bahwa kemerdekaan sejati sebuah bangsa tidak cukup diukur dari hilangnya penjajahan formal, melainkan dari kapabilitas riil setiap warganya untuk hidup layak, memilih, dan berpartisipasi. Dengan kerangka itu, proklamasi 1945 adalah titik tolak dari sebuah proyek besar bernama kedaulatan yang utuh—dan data-data pembangunan terbaru menunjukkan bahwa proyek besar itu, alih-alih mandek, justru terus menemukan momentumnya.

Delapan puluh satu tahun kemudian, kita punya cukup alasan untuk optimistis, bukan sekadar berharap.

Kedaulatan yang Semakin Kokoh di Tengah Guncangan Global

Konsep kedaulatan klasik ala Jean Bodin berbicara soal otoritas tertinggi negara atas wilayah dan rakyatnya. Namun di abad ke-21, kedaulatan diuji dalam bentuk yang jauh lebih senyap: kemampuan sebuah bangsa mengelola ketergantungan pangan, energi, dan ekonominya sendiri di tengah tekanan global. Di sinilah arah kebijakan nasional belakangan ini patut diapresiasi secara objektif.

Data Badan Pusat Statistik mencatat produksi jagung pipilan kering nasional pada Mei 2026 tumbuh signifikan dibanding tahun sebelumnya, seiring perluasan area panen—sinyal konkret bahwa agenda swasembada pangan bergerak dari jargon menjadi capaian terukur. Di sisi lain, ekonomi nasional sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen secara tahunan, ditopang oleh kinerja ekspor dan investasi yang relatif tangguh di tengah ketidakpastian global yang menekan banyak perekonomian negara berkembang lain. Angka ini penting bukan semata karena besar, melainkan karena stabil—dan dalam ilmu ekonomi pembangunan, stabilitas pertumbuhan jangka menengah kerap menjadi prasyarat bagi apa yang disebut resilient sovereignty, kedaulatan yang tahan terhadap guncangan eksternal.

Dalam teori developmental state yang dipopulerkan Chalmers Johnson, negara-negara yang berhasil menjaga momentum pembangunannya adalah yang mampu menyeimbangkan keterbukaan terhadap pasar global dengan kapasitas domestik untuk meredam guncangan eksternal—mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga ketegangan geopolitik dagang antarnegara besar. Konsistensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertahan di kisaran lima persen selama beberapa tahun terakhir, di tengah perlambatan ekonomi banyak negara lain, mengindikasikan bahwa bantalan kebijakan fiskal dan moneter nasional bekerja sebagaimana mestinya. Agenda hilirisasi mineral serta penguatan industri dalam negeri menjadi fondasi tambahan yang, jika terus dijaga konsistensinya lintas periode pemerintahan, akan semakin mengukuhkan kedaulatan ekonomi dan energi bangsa dalam jangka panjang.

Keadilan yang Terus Diperluas Jangkauannya

John Rawls, dalam A Theory of Justice, mengajukan gagasan bahwa keadilan sosial idealnya diukur dari sejauh mana kebijakan memperbaiki nasib kelompok paling rentan—bukan sekadar rata-rata nasional. Prinsip difference principle ini relevan untuk membaca capaian pemerataan pembangunan Indonesia hari ini, dan trennya menunjukkan arah yang menggembirakan.

BPS mencatat tingkat kemiskinan nasional turun menjadi 8,25 persen pada September 2025, dengan sekitar 490 ribu penduduk berhasil keluar dari garis kemiskinan hanya dalam satu semester. Penurunan ini terjadi secara konsisten di perkotaan maupun perdesaan, menandakan bahwa program perlindungan sosial dan bantuan pemerintah menjangkau kelompok yang selama ini paling tertinggal, sesuai prinsip keadilan yang diajukan Rawls.

Indeks Pembangunan Manusia turut memberi indikasi serupa: skor nasional mencapai 75,90 pada 2025, naik hampir satu poin dari tahun sebelumnya, didorong oleh perbaikan angka harapan hidup dan lama sekolah di seluruh provinsi tanpa kecuali. Bahkan dua provinsi—Kepulauan Riau dan Papua Barat Daya—berhasil naik status pembangunan manusianya dalam setahun terakhir, sebuah indikasi bahwa kebijakan pemerataan pembangunan hingga wilayah timur Indonesia mulai membuahkan hasil yang dapat diukur, bukan sekadar retorika politik.

Bagi saya, temuan ini menegaskan satu hal: pemerintah tengah menempatkan pemerataan pembangunan bukan sebagai isu sampingan dari pertumbuhan ekonomi, melainkan sebagai prioritas yang berjalan beriringan—dan hasilnya mulai terasa hingga ke lapisan masyarakat yang paling rentan.

Kemakmuran yang Dibangun dari Hilirisasi

Ekonom Ha-Joon Chang pernah mengingatkan bahwa negara-negara yang berhasil keluar dari status berkembang bukanlah mereka yang sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan yang berani membangun industri pengolahan bernilai tambah tinggi—sebuah strategi yang di Indonesia dikenal sebagai hilirisasi. Kebijakan larangan ekspor bijih nikel mentah dan dorongan pembangunan smelter di dalam negeri adalah salah satu keputusan kebijakan paling strategis dalam sejarah ekonomi Indonesia modern, karena berpotensi mengeluarkan Indonesia dari apa yang dalam literatur ekonomi disebut middle income trap—kondisi ketika sebuah negara terjebak stagnan di level pendapatan menengah karena gagal naik kelas dari ekonomi berbasis komoditas ke ekonomi berbasis nilai tambah.

Data menunjukkan sektor industri pengolahan menjadi salah satu kontributor pertumbuhan terbesar produk domestik bruto sepanjang 2025, sebuah bukti struktural bahwa arah kebijakan hilirisasi bukan proyek jangka pendek yang bersifat seremonial, melainkan transformasi ekonomi yang mulai menampakkan hasil nyata. Pengeluaran riil per kapita masyarakat pun tercatat naik Rp461 ribu dibanding tahun sebelumnya, mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi ini turut menopang daya beli masyarakat secara langsung—bukan sekadar angka di atas kertas.

Estafet Kepemimpinan sebagai Kunci Keberlanjutan

Di sinilah argumen utama tulisan ini berpijak. Ada kecenderungan dalam wacana publik untuk memandang setiap pergantian pemerintahan sebagai starting point baru, seolah capaian rezim sebelumnya terhapus begitu saja. Cara pandang ini keliru secara konseptual. Dalam kerangka path dependency pada studi kebijakan publik, keberhasilan pembangunan jangka panjang justru sangat bergantung pada konsistensi arah kebijakan lintas periode—infrastruktur yang dibangun satu dekade lalu, program perlindungan sosial yang terus disempurnakan, hingga fondasi hilirisasi yang butuh waktu satu generasi untuk menuai hasil penuh. Pemerintahan saat ini, dengan melanjutkan dan memperkuat program-program strategis tersebut, sesungguhnya sedang menjalankan peran pentingnya sebagai penjaga kesinambungan cita-cita besar bangsa.

Tentu, ada pandangan berlawanan yang patut diakui secara jujur: sebagian kalangan menilai narasi "estafet pembangunan" berisiko digunakan untuk meredam kritik terhadap kebijakan yang sedang berjalan. Kekhawatiran ini tidak sepenuhnya tanpa dasar, dan justru di titik inilah demokrasi Indonesia menunjukkan kematangannya. Dukungan terhadap program strategis pemerintah dan pengawasan kritis dari masyarakat sipil bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua pilar yang justru saling menguatkan: dukungan memberi ruang bagi kebijakan jangka panjang untuk benar-benar terlaksana, sementara pengawasan memastikan pelaksanaannya tetap berada di jalur yang tepat bagi kepentingan rakyat.

Momentum yang Harus Terus Dijaga Bersama

Jika kemerdekaan adalah pintu gerbang, maka kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran adalah rumah yang kini semakin kokoh berdiri, dibangun bata demi bata melalui kesinambungan kebijakan lintas generasi kepemimpinan. Angka-angka pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, dan kenaikan indeks pembangunan manusia yang dipaparkan di atas bukan sekadar statistik administratif, melainkan bukti bahwa arah besar yang dipilih bangsa ini—kedaulatan pangan dan energi, pemerataan keadilan sosial, serta hilirisasi menuju kemakmuran—berada di jalur yang tepat.

Usia 81 tahun adalah momentum untuk memperkuat, bukan meragukan, arah yang sudah menunjukkan hasil. Sebagai bangsa, tugas kita bersama adalah menjaga estafet pembangunan ini agar terus berlanjut melampaui satu periode pemerintahan, menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045—dengan dukungan aktif masyarakat, kritik yang membangun, dan keyakinan bahwa kerja bersama inilah yang akan mengantarkan anak cucu kita pada Indonesia yang benar-benar berdaulat, adil, dan makmur.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dari Kegagalan Menuju Sapta Abdi Praja, Charina Anggie Simbolon Wujudkan Mimpi Sang Ayah
• 22 jam lalu
0
thumb
Viral Pajero di Sragen Pakai Pelat Nomor Jorok, Pemilik Ditilang
• 21 jam lalu
0
thumb
Bursa Transfer Super League 2026/2027: Carlos Iury Jadi Andalan Baru di Lini Depan Dewa United
• 13 jam lalu
0
thumb
Apakah Timnas Indonesia Bisa Lolos Semifinal Piala AFF 2026? Ini Syaratnya
• 10 jam lalu
0
thumb
Buruk Legislasi DPR, MK Dibelah
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.