JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan lahan tempat pembuangan sementara (TPS) sampah liar di Kampung Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur, akan dikembalikan sesuai rencana awal menjadi waduk.
Lahan tersebut tidak boleh lagi digunakan sebagai lokasi pembuangan sampah.
"Tidak boleh lagi dipakai seperti yang di Penjaringan untuk penimbunan," kata Pramono saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Baca juga: Penyebab Kebakaran TPA Kramat Jati Sulit Padam: Titik Api di Bawah Timbunan Sampah
Ia memastikan lahan tersebut akan dibuat menjadi waduk, sesuai dengan peruntukan awal.
"Iya kita akan (jadikan waduk)," ujar dia.
Menurut dia, kebakaran yang sempat terjadi di lokasi tersebut dipicu oleh penimbunan sampah yang dilakukan pihak swasta dan telah terjadi berulang kali.
"Dan akhirnya karena tumpukannya sudah cukup tinggi, terjadi kebakaran yang menyebabkan petugas damkarnya ada yang meninggal dunia," ujarnya.
Pemerintah akan memberikan sanksi kepada pihak yang menimbun sampah ilegal, termasuk mengumumkan identitas perusahaan yang terlibat kepada publik.
"Kalau memang masih dilakukan, selain kita kenakan mereka harus bayar, kami akan umumkan kepada publik mengenai perusahaan ini siapa yang melakukan penimbunan," ujar dia.
Baca juga: Gugurnya Petugas Damkar Saat Pemadaman Kebakaran Tumpukan Sampah di Kramat Jati Jaktim
Kebakaran tumpukan sampah di Kelurahan Dukuh, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Sabtu (1/8/2026), diduga dipicu anak-anak yang bermain api di sekitar lokasi.
Salah satu kendala yang dihadapi petugas damkar saat proses pemadaman adalah api telah menjalar hingga membakar lapisan bawah tumpukan sampah.
Tumpukan sampah tersebut bukan merupakan tempat pembuangan resmi warga karena lingkungan setempat telah memiliki sistem pengelolaan sampah sendiri.
Berdasarkan informasi awal yang diterimanya, area yang terbakar diperkirakan memiliki luas sekitar 6.000 meter persegi.
Usai proses pembongkaran menggunakan alat berat, timbunan sampah yang telah diurai rencananya akan diangkut menggunakan truk.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Komentar (0)