Jakarta, CNBC Indonesia - Insiden peretasan bertubi-tubi yang dilaporkan raksasa kecerdasan buatan (AI) memicu kekhawatiran di seluruh dunia. Insiden yang terjadi di OpenAI dan Anthropic ini mencerminkan kecanggihan AI yang sudah di luar kendali manusia.
Pada awal Juli lalu, OpenAI melaporkan model AI canggih miliknya 'kabur' dari lingkungan pengujian dan membobol sistem Hugging Face. Tak berselang berapa lama, Anthropic melaporkan model AI-nya juga membobol tiga perusahaan.
Baru-baru ini, OpenAI kembali melaporkan insiden baru yang serupa dengan pembobolan Hugging Face. Hal ini menjadi perhatian khusus beberapa negara terkait risiko AI, terutama di AS dan Eropa.
Meta, Anthropic, OpenAI, dan Google dipanggil untuk bertemu para pejabat Gedung Putih dalam waktu dekat. Mereka hendak membahas pengujian keselamatan sukarela dari pemerintah (voluntary government safety testing) untuk model AI paling canggih di AS, menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut dan laporan media.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pemerintahan Trump telah memfinalisasi perincian pengujian keamanan siber sukarela guna mengukur kemampuan peretasan dari model-model AI Amerika yang paling maju, serta berencana untuk membahasnya dengan pelaku industri AI. Pejabat tersebut tidak menyebutkan siapa saja yang akan menghadiri diskusi tersebut.
Seorang juru bicara Meta mengonfirmasi bahwa perusahaannya turut diundang. Begitu pula dengan Anthropic dan OpenAI, menurut dua sumber yang mengetahui pertemuan tersebut.
Gedung Putih tidak memberikan perincian mendalam mengenai pengujian tersebut, termasuk bagaimana hasilnya akan dilaporkan, metrik yang digunakan, serta apakah ada bagian dari pengujian tersebut yang akan dibuka untuk publik.
Di sisi lain, 15 jaksa agung negara bagian dari Partai Republik pada Senin (2/8) meminta OpenAI untuk menyimpan seluruh dokumen relevan yang berkaitan dengan pengungkapan bahwa sistem AI milik mereka berhasil lepas dari penangkaran (containment) dan meretas perusahaan AI Hugging Face.
Mengutip laporan Reuters bahwa agen AI 'nakal' (rogue agent) tersebut dalam satu kasus meninggalkan catatan tentang bagaimana versi dirinya di masa depan dapat lolos dari batasan internal (guardrails). Sistem itu menulis bahwa perusahaan kemungkinan telah melanggar undang-undang perlindungan konsumen negara bagian.
- Lagi, Perang AS-Iran Makan Korban: Inggris
- Rupiah - Yen Takluk di Hadapan Dolar Pagi Ini, Won Jadi Juara Asia
Dalam sebuah pernyataan, OpenAI mengatakan pihaknya mengambil tindakan serius atas surat dari para jaksa agung tersebut dan akan membagikan laporan teknis mengenai serangan terhadap Hugging Face setelah menyelesaikan peninjauannya.
Selain itu, komite keamanan siber DPR AS (U.S. House of Representatives) meminta CEO OpenAI, Sam Altman, untuk memberikan taklimat (briefing) kepada mereka mengenai serangan terhadap Hugging Face tersebut.
Altman mengunjungi Gedung Putih pekan lalu untuk membahas rincian pengujian sukarela dan produk-produk AI mendatang milik perusahaannya, ungkap OpenAI dalam sebuah pernyataan. Dalam pernyataan terpisah pada Senin, perusahaan tersebut mengatakan telah meminta pemerintahan Trump untuk menempatkan spesialis keselamatan AI dari Departemen Perdagangan sebagai pusat dari setiap pengujian keamanan siber.
Perusahaan tersebut merujuk pada China, yang pemerintahnya memiliki strategi AI yang lebih tersentralisasi dibandingkan AS.
The Information melaporkan pada Senin bahwa pemerintahan Trump juga mengundang perwakilan dari Google. Namun, juru bicara Google menolak untuk memberikan komentar.
Presiden AS Donald Trump pada Juni lalu telah memerintahkan timnya untuk menyusun serangkaian ujian guna menilai kemampuan peretasan dari sistem AI buatan AS yang paling canggih.
Pemerintahan Trump sendiri memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan Anthropic. Awal tahun ini, Anthropic menolak mengizinkan militer AS menggunakan model AI mereka untuk pengawasan domestik dan sistem senjata otonom penuh. Pemerintah merespons hal tersebut dengan memasukkan Anthropic ke dalam daftar hitam (blacklist) keamanan nasional.
Anthropic mengungkapkan minggu lalu bahwa beberapa model AI milik mereka berhasil meretas sistem tiga perusahaan selama uji keamanan siber. Pengungkapan ini menyusul laporan dari pesaingnya, OpenAI, bahwa salah satu agen AI mereka lepas dari lingkungan pengujian (testing environment) dan meretas sistem perusahaan AI Hugging Face.
(fab/fab)





Komentar (0)