Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja modal alias capital expenditure (capex) perusahaan teknologi untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI) mulai mereda. Pasalnya, bisnis komputasi awan (cloud) kini menunjukkan diri sebagai mesin penghasil keuntungan yang mampu menopang investasi jumbo tersebut.
Melansir The Wall Street Journal, Amazon, Microsoft, dan Alphabet sama-sama mencatat lonjakan kinerja bisnis cloud di tengah ledakan permintaan AI. Para pelanggan, mulai dari perusahaan pengembang AI hingga korporasi besar, berlomba menyewa akses terhadap chip dan infrastruktur komputasi milik ketiga perusahaan tersebut untuk menjalankan model AI mereka.
Permintaan yang begitu tinggi bahkan membuat kapasitas penyediaan infrastruktur menjadi tantangan yang lebih besar dibandingkan minimnya permintaan pasar.
Berbeda dengan berbagai skema monetisasi AI lainnya yang masih dipertanyakan efektivitasnya, seperti pendapatan iklan chatbot atau langganan model AI, model bisnis cloud dinilai jauh lebih matang dan telah terbukti menghasilkan keuntungan.
Dalam model ini, perusahaan teknologi membangun atau menyewa pusat data serta membeli perangkat komputasi, kemudian menyewakannya kepada pelanggan melalui layanan cloud. Investasi besar tersebut umumnya dapat kembali dalam beberapa tahun.
Amazon menjadi salah satu contoh. Unit cloud Amazon Web Services (AWS) membukukan margin laba operasional sebesar 39% pada kuartal II 2026.
CEO Amazon Andy Jassy mengatakan investasi perangkat komputasi AWS rata-rata mencapai titik impas dalam waktu kurang dari tiga tahun. Sementara itu, mayoritas kontrak pelanggan AI yang dimiliki AWS berdurasi sedikitnya lima tahun.
Menurut Jassy, kondisi tersebut memberikan ruang yang besar bagi perusahaan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas yang lebih tinggi setelah investasi awal berhasil ditutup.
Meski demikian, derasnya investasi membuat Amazon saat ini masih mencatat arus kas bebas (free cash flow) negatif. Hal tersebut sempat memicu kekhawatiran investor dalam beberapa bulan terakhir karena perusahaan hyperscaler terus menggelontorkan dana besar untuk membangun infrastruktur AI.
Namun, sentimen pasar mulai berubah. Investor kini menilai belanja AI tetap masuk akal selama didukung oleh bisnis cloud yang mampu menghasilkan pendapatan secara konsisten.
Hal itu tercermin dari respons pasar terhadap laporan keuangan terbaru perusahaan teknologi. Saham Amazon melonjak setelah AWS membukukan pertumbuhan pendapatan kuartalan sebesar 37%, jauh melampaui ekspektasi analis sekitar 31%.
Microsoft juga mendapat sambutan positif setelah unit cloud Azure mencatat pertumbuhan pendapatan 43%, lebih tinggi dari perkiraan pasar. Secara gabungan, nilai kapitalisasi pasar Amazon dan Microsoft bertambah sekitar US$950 miliar setelah keduanya merilis laporan keuangan.
Sementara itu, induk Google, Alphabet, sempat mengalami tekanan setelah mengumumkan peningkatan belanja modal tahun ini. Namun, pertumbuhan pendapatan bisnis Google Cloud sebesar 82% berhasil meredakan kekhawatiran investor. Dalam sepekan terakhir, saham Alphabet naik sekitar 10% dan menutup seluruh penurunan sebelumnya.
AI kini menjadi pendorong utama pertumbuhan industri cloud. Pengembang AI dan perusahaan membutuhkan kapasitas komputasi yang semakin besar, sementara menyewa infrastruktur melalui cloud dinilai menjadi solusi tercepat dan paling efisien.
Kontrak bernilai jumbo juga ikut menopang pertumbuhan industri. AWS, misalnya, menandatangani kontrak senilai lebih dari US$100 miliar selama 10 tahun dengan perusahaan AI Anthropic pada April lalu.
Di luar tren AI, migrasi sistem perusahaan ke cloud juga terus berlangsung. Survei Piper Sandler terhadap para pemimpin teknologi informasi (IT) pada Juni menunjukkan perusahaan berencana meningkatkan belanja TI sekitar 5% tahun ini. Sebagian besar tambahan anggaran akan dialokasikan untuk layanan cloud, sementara hanya sedikit yang berencana menambah investasi pada infrastruktur komputasi milik sendiri.
Melihat dua tren tersebut, Jassy bahkan optimistis AWS suatu hari nanti mampu menjadi bisnis dengan pendapatan tahunan mencapai US$1 triliun. Sebagai perbandingan, analis FactSet memperkirakan pendapatan AWS tahun ini berada di kisaran US$170 miliar.
Meski masih memimpin pasar cloud global, posisi AWS semakin mendapat tekanan dari Microsoft Azure dan Google Cloud yang selama beberapa tahun terakhir mencatat pertumbuhan lebih cepat. Apabila tren tersebut berlanjut, bukan tidak mungkin kedua pesaing tersebut mampu melampaui AWS sebelum akhir dekade ini.
Meski prospeknya cerah, risiko tetap membayangi. Jika euforia AI berakhir dan perusahaan seperti Anthropic maupun OpenAI mengurangi belanja komputasi, kontrak-kontrak bernilai besar berpotensi dinegosiasi ulang dan antrean pesanan (backlog) dapat menyusut.
Namun, perusahaan cloud dinilai memiliki bantalan bisnis yang lebih kuat dibandingkan pemain AI lain yang tidak memiliki layanan cloud. Salah satu contohnya adalah Meta Platforms, yang sahamnya turun sekitar 5% setelah perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal 2026.
CEO Meta Mark Zuckerberg mengungkapkan perusahaan tengah mempertimbangkan membangun bisnis cloud sendiri. Namun, langkah tersebut diperkirakan tidak mudah karena Meta harus mengejar ketertinggalan dari Amazon, Microsoft, dan Google yang telah mendominasi industri tersebut selama bertahun-tahun.
Di tengah perlombaan AI, Wall Street kini mulai memiliki tolok ukur baru dalam menentukan pemenang. Perusahaan yang memiliki bisnis cloud kuat dinilai berada pada posisi paling diuntungkan untuk mengubah investasi AI menjadi keuntungan jangka panjang.
(fsd/fsd)





Komentar (0)