Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena El Nino kini datang lebih cepat, dibandingkan pola yang selama ini dikenal terjadi setiap sekitar empat tahun sekali. Percepatan itu disebut dipengaruhi oleh anomali iklim global akibat perubahan iklim.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, Indonesia sebelumnya mengalami El Nino kuat pada 2015, kemudian kembali terjadi pada 2019, 2023, dan kini kembali muncul pada 2026.
"Kemudian kita potret terkait dengan El Nino yang pernah terjadi Bapak Ibu sekalian. Tadi saya sampaikan bahwa El Nino pernah terjadi yang sangat kuat di tahun 2015, kemudian 2019 (dengan intensitas lemah namun IOD+ kuat), pada 2023 El Nino (hadir secara kuat), dan sekarang 2026 (diprediksi kembali kuat). Sehingga ada pemahaman bahwa El Nino terjadi 4 tahunan di Indonesia," kata Faisal dalam paparannya di acara Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026).
"Sekarang kok 3 tahun sudah terjadi ya? Karena adanya anomali iklim dunia, perubahan iklim yang membuat dia datang lebih cepat," sambungnya.
Meski demikian, ia menegaskan percepatan kemunculan El Nino bukan berarti fenomena tersebut akan berubah menjadi siklus dua tahunan. Menurutnya, kemunculan El Nino tidak dapat dipastikan secara matematis karena dipengaruhi dinamika iklim global yang terus berubah.
"Ya tidak sematematis itu ya, tapi kita tahu bahwa perubahan iklim itu nyata terjadi sejak sebelum masa pra-industri sampai sekarang, suhu dunia meningkat 1,4 derajat rata-rata, di Indonesia sendiri dari tahun 1980-an sudah meningkat 0,8 derajat. Jadi itu nyata. Anomali ini kita sebut sebenarnya El Nino, La Nina itu adalah anomali iklim di suhu permukaan air laut di daerah tersebut ya," jelas dia.
BMKG mencatat kondisi El Nino tahun ini juga telah berkembang lebih cepat dari perkiraan awal. Saat BMKG merilis prediksi pada Maret 2026, fenomena tersebut diperkirakan hanya berada pada kategori moderat.
Namun, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2 Juni 2026 menetapkan El Nino telah aktif dan hasil analisis BMKG pada periode Mei-Juni-Juli menunjukkan intensitasnya kini telah masuk kategori kuat.
"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat. Ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di 3,4 dan kita tidak hanya menggunakan data dasarian bulan Juli saja, tapi kita menggunakan periode Mei-Juni-Juli untuk menunjukkan bahwa El Ninonya dengan intensitas plus 1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," kata Faisal.
Ia menjelaskan, El Nino merupakan fenomena iklim global yang ditandai pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuatorial bagian tengah hingga timur. Ketika bertepatan dengan musim kemarau, fenomena tersebut menyebabkan curah hujan berkurang sehingga musim kemarau menjadi lebih kering dan lebih panjang.
BMKG memperkirakan dampak El Nino akan paling terasa pada Agustus hingga September, ketika curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori rendah hingga sangat rendah.
Wilayah yang paling terdampak berada di selatan garis khatulistiwa, meliputi Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Pulau Jawa terutama wilayah pesisir, Sumatra bagian selatan, hingga Papua Selatan.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG menegaskan pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak beberapa bulan terakhir, termasuk berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga untuk menghadapi potensi kekeringan, gangguan sektor pangan, penyediaan air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Jadi di sini izin untuk meluruskan, bahwa persiapan kita bukan dimulai sejak rapat minggu lalu yang dipimpin oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, itu adalah kelanjutan dari koordinasi yang telah dilaksanakan sejak berbulan-bulan yang lalu," pungkas Faisal.
(dce)





Komentar (0)