Kinerja perusahaan-perusahaan teknologi global menguat seiring investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan (AI) mulai menghasilkan pertumbuhan bisnis. Hal ini tercermin dari laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi, mulai dari Amazon, Microsoft, Alphabet, Meta Platforms hingga NVIDIA.
Momentum tersebut turut mendorong reli saham perusahaan teknologi. Amazon untuk pertama kalinya menembus kapitalisasi pasar US$ 3 triliun atau Rp 54.000 triliun (kurs Rp 18.000 per dolar AS) setelah membukukan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi pasar.
Saham Amazon naik 5% menjadi US$ 285 atau Rp 5,13 juta per lembar dan mencapai rekor tertinggi. Sepanjang tahun ini, saham Amazon telah menguat lebih dari 23%.
Penguatan saham Amazon turut mengangkat saham perusahaan teknologi besar lainnya. Saham Microsoft naik sekitar 4%, Meta Platforms menguat 6%, Alphabet bertambah 3,6%, sedangkan Oracle naik 5%.
"Amazon mungkin merupakan perusahaan yang paling mencerminkan kondisi perekonomian saat ini. Ini adalah kisah tentang konsumen sekaligus kisah tentang AI," kata Kepala Strategi Pasar Nationwide Mark Hackett, dikutip dari Reuters, Senin (3/8).
Belanja modal untuk pengembangan AI juga dinilai belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Amazon dan Microsoft sama-sama menyampaikan prospek bisnis cloud yang tetap kuat di tengah meningkatnya kebutuhan AI.
Amazon Ditopang AWS dan AIAmazon membukukan pendapatan US$ 200,6 miliar atau sekitar Rp 3.610,8 triliun pada kuartal II 2026, naik 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan unit bisnis, segmen Amerika Utara mencatat pendapatan US$ 116,2 miliar atau Rp 2.091,6 triliun, segmen Internasional US$ 42,2 miliar atau Rp 759,6 triliun, sementara Amazon Web Services (AWS) juga membukukan pendapatan US$ 42,2 miliar atau Rp 759,6 triliun dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 37%.
Laba bersih Amazon melonjak menjadi US$ 62,6 miliar atau sekitar Rp 1.126,8 triliun, terutama didorong keuntungan investasi pada Anthropic senilai US$ 53,4 miliar atau Rp 961,2 triliun.
Amazon tidak melaporkan EBITDA. Namun perusahaan mencatat laba operasi meningkat menjadi US$ 27,5 miliar atau Rp 495 triliun.
Amazon Web Services menjadi penyumbang laba operasi terbesar, yakni US$ 16,6 miliar atau Rp 298,8 triliun, jauh di atas Amerika Utara sebesar US$ 9,1 miliar atau Rp 163,8 triliun dan Internasional US$ 1,7 miliar atau Rp 30,6 triliun.
Presiden dan CEO Amazon Andy Jassy mengatakan bisnis cloud perusahaan terus tumbuh pesat seiring meningkatnya adopsi AI.
"AWS sedang berkembang pesat dengan pertumbuhan 36,7% secara tahunan pada kuartal II, menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam 18 kuartal terakhir. Bisnis AI dan bisnis chip kami masing-masing juga telah melampaui tingkat pendapatan tahunan lebih dari US$ 25 miliar," kata Jassy.
Microsoft: AI Dorong Pertumbuhan CloudMicrosoft membukukan pendapatan US$ 90 miliar atau Rp 1.620 triliun pada kuartal IV tahun fiskal 2026 yang berakhir 30 Juni 2026, meningkat 18% dibandingkan tahun sebelumnya.
Segmen Intelligent Cloud menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan US$ 39,3 miliar atau Rp 707,4 triliun. Segmen Produktivitas dan Proses Bisnis mencatat US$ 37,8 miliar atau Rp 680,4 triliun, sedangkan More Personal Computing menyumbang US$ 12,9 miliar atau Rp 232,2 triliun.
Pendapatan Microsoft Cloud secara keseluruhan mencapai US$ 59,3 miliar atau Rp 1.067,4 triliun.
Laba bersih Microsoft meningkat 31% menjadi US$ 35,8 miliar atau Rp 644,4 triliun, sedangkan laba usaha mencapai US$ 40,6 miliar atau Rp 730,8 triliun.
CEO Microsoft Satya Nadella mengatakan perusahaan terus memanfaatkan AI untuk menghasilkan nilai bisnis bagi pelanggan, sementara pertumbuhan cloud mencerminkan semakin luasnya penerapan AI di berbagai sektor.
Alphabet Nikmati Lonjakan Google CloudAlphabet membukukan pendapatan US$ 119,8 miliar atau Rp 2.156,4 triliun pada kuartal II 2026, naik 24% dibandingkan tahun sebelumnya.
CEO Alphabet dan Google Sundar Pichai mengatakan investasi AI mulai memberikan hasil nyata terhadap bisnis perusahaan.
Menurutnya, pendapatan Google Cloud melonjak 82% berkat tingginya permintaan terhadap infrastruktur AI dan solusi AI.
Segmen Layanan Google masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar sebesar US$ 94,54 miliar atau Rp 1.701,7 triliun, sedangkan Google Cloud mencatat pendapatan US$ 24,77 miliar atau Rp 445,9 triliun. Other Bets menyumbang US$ 382 juta atau Rp 6,88 triliun.
Alphabet juga membukukan laba bersih US$ 112,19 miliar atau sekitar Rp 2.019,4 triliun, terutama didorong keuntungan belum terealisasi dari portofolio investasi ekuitas.
Dari sisi operasional, laba operasi mencapai US$ 40,77 miliar atau Rp 733,9 triliun. Google Cloud membukukan laba operasi US$ 8,81 miliar atau Rp 158,6 triliun, sedangkan Other Bets masih merugi US$ 1,8 miliar atau Rp 32,4 triliun.
Meta Masih Ditopang Bisnis IklanMeta Platforms membukukan pendapatan US$ 60,8 miliar atau Rp 1.094,4 triliun pada kuartal II 2026, meningkat 28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Hampir seluruh pendapatan perusahaan masih berasal dari Family of Apps yang mencakup Facebook, Instagram, WhatsApp dan Messenger sebesar US$ 60,37 miliar atau Rp 1.086,7 triliun.
Pendapatan dari bisnis iklan mencapai US$ 59,36 miliar atau Rp 1.068,5 triliun, sementara pendapatan lainnya sebesar US$ 1,01 miliar atau Rp 18,2 triliun.
Meski pendapatan meningkat, laba bersih Meta turun sekitar 14% menjadi US$ 15,85 miliar atau Rp 285,3 triliun akibat meningkatnya biaya operasional dan investasi AI.
Perusahaan mencatat laba operasi US$ 18,78 miliar atau Rp 338 triliun. Family of Apps menghasilkan laba operasi US$ 23,39 miliar atau Rp 421 triliun, sedangkan Reality Labs kembali membukukan rugi operasi US$ 4,62 miliar atau Rp 83,2 triliun.
CEO Meta Mark Zuckerberg mengatakan AI mulai memberikan dampak positif terhadap bisnis inti perusahaan sekaligus membuka peluang bisnis baru.
NVIDIA Semakin Bergantung pada Data Center AINVIDIA mencatat pendapatan US$ 46,7 miliar atau Rp 840,6 triliun pada kuartal II tahun fiskal 2026 yang berakhir 27 Juli 2025, naik 56% dibandingkan tahun sebelumnya.
Bisnis Data Center menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan US$ 41,1 miliar atau Rp 739,8 triliun, setara 88% dari total pendapatan perusahaan.
Bisnis Gaming dan AI PC menyumbang US$ 4,3 miliar atau Rp 77,4 triliun, Professional Visualization US$ 601 juta atau Rp 10,8 triliun, serta Automotive & Robotics US$ 586 juta atau Rp 10,5 triliun.
Perusahaan mencatat laba bersih meningkat 59% menjadi US$ 26,42 miliar atau Rp 475,6 triliun, sedangkan laba operasi mencapai US$ 28,44 miliar atau Rp 511,9 triliun.
Pendiri sekaligus CEO NVIDIA Jensen Huang mengatakan platform Blackwell menjadi motor utama pertumbuhan perusahaan di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi AI. Menurutnya, permintaan terhadap Blackwell Ultra terus meningkat seiring kebutuhan pelatihan maupun inferensi AI.




Komentar (0)