Bursa saham Asia bergerak beragam pada perdagangan Selasa (4/8/2026), seiring investor mencermati reli pasar global.
IDXChannel – Bursa saham Asia bergerak beragam pada perdagangan Selasa (4/8/2026), seiring investor mencermati reli pasar global di tengah harga minyak yang masih bertahan di dekat level terendah dalam beberapa pekan.
Pelaku pasar juga terus memantau perkembangan konflik Amerika Serikat (AS)-Iran yang masih menemui jalan buntu.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat tipis 0,1 persen, ditopang lonjakan pasar saham Korea Selatan yang sempat menguat hingga 2,1 persen.
Di kawasan lainnya, indeks ASX 200 Australia naik 1,26 persen dan Straits Times Index (STI) Singapura menguat 0,25 persen.
Sebaliknya, sejumlah bursa utama masih berada di zona merah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,36 persen, Shanghai Composite melemah 0,12 persen, sementara Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,69 persen.
Sentimen positif datang dari Wall Street setelah data menunjukkan aktivitas manufaktur AS pada Juli mencapai level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.
Data tersebut mendorong indeks Dow Jones Industrial Average ditutup di rekor tertinggi, sementara kontrak berjangka S&P 500 masih menguat tipis 0,1 persen pada perdagangan Asia.
Kepala Riset Pepperstone Group, Chris Weston, menilai pasar aset berisiko mulai menunjukkan pemulihan yang lebih solid.
"Pasar aset berisiko jelas telah berbalik arah. Jika sentimen positif dari bursa Eropa dan AS berlanjut, pembeli kemungkinan akan kembali masuk sejak awal perdagangan dan menopang aset berisiko di kawasan Asia," ujarnya, dikutip Reuters.
Di pasar komoditas, harga minyak bergerak terbatas setelah anjlok ke level terendah dalam tiga pekan pada sesi sebelumnya.
Minyak Brent naik 0,6 persen menjadi USD84,29 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menunda serangan baru terhadap Iran sebagai isyarat dukungan terhadap upaya perdamaian. Namun, pemerintah Iran membantah adanya negosiasi yang sedang berlangsung.
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat 0,3 persen terhadap yen Jepang ke level 157,62 yen setelah sebelumnya melemah akibat intervensi terkoordinasi pemerintah AS dan Jepang untuk menopang mata uang Jepang.
Sementara itu, indeks dolar AS bertahan di kisaran 99,99, mendekati level terendah dalam dua bulan terakhir.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik tipis menjadi 4,684 persen.
Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September masih cukup tinggi.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 65 persen bagi bank sentral AS untuk kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September mendatang. (Aldo Fernando)






Komentar (0)