PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel membukukan laba bersih sebesar Rp 1,11 triliun pada semester pertama 2026. Torehan itu naik 1,83% secara tahunan atau year on year (YoY) dari periode yang sama sebelumnya Rp 1,09 triliun.
Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) itu juga meningkat 2,18% YoY menjadi Rp 4,69 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 4,59 triliun. Pertumbuhan emiten menara itu terutama ditopang oleh bisnis penyewaan menara sebagai core business MTEL yang berkontribusi 81,7% terhadap total pendapatan.
Mitratel juga membukukan EBITDA sebesar Rp 3,89 triliun, tumbuh 0,8% YoY, dengan EBITDA margin terjaga di level 82,9%. Sementara itu, net profit margin sebesar 23,7%.
Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko mengatakan, torehan hingga semester pertama 2026 ditopang dari strategi transformasi yang dijalankan secara konsisten, sesuai dengan arah transformasi Danantara dan Telkom Group. Hal itu demi memperkuat daya saing MTEL sekaligus menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang di sektor infrastruktur digital.
“Mitratel terus berevolusi dari perusahaan menara menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi melalui pengembangan solusi fiber, fixed wireless access (FWA), hingga power-as-a-service (PaaS),” ungkap Theodorus dalam keterangannya, Senin (3/8).
Hingga semester pertama 2026, MTEL mengelola 40.563 menara, dengan mayoritas 59% berada di luar Pulau Jawa. Strategi ekspansi tersebut berhasil mendorong kolokasi tumbuh 10,3% YoY menjadi 23.303 tenant, sehingga meningkatkan tenancy ratio menjadi 1,57x.
Seiring dengan itu, Mitratel terus mempercepat pengembangan bisnis fiber yang kini menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama perusahaan. Hingga semester pertama 2026, jaringan fiber tumbuh 13,9% YoY menjadi 74.779 km billable length.
Theodorus menuturkan, transformasi perseroan diperkuat melalui pengembangan solusi fiber-to-the-tower (FTTT) untuk mendukung layanan FWA dan PaaS yang menyediakan solusi energi lebih efisien dan berkelanjutan bagi operator telekomunikasi.
Melalui layanan PaaS, Mitratel juga mengembangkan inovasi green tower as a service (GTaaS) sebagai sumber pendapatan berulang (recurring revenue) baru sekaligus mendukung efisiensi energi pelanggan.
Selain itu, MTEL meningkatkan efisiensi operasional melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI). Salah satunya lewat inovasi AIONIC One yang digunakan untuk meningkatkan akurasi identifikasi perangkat di setiap menara. Inovasi itu juga memperkuat efektivitas operasional, meningkatkan produktivitas aset, hingga mempercepat pengambilan keputusan berbasis data.
Theodorus optimistis prospek bisnis perseroan tetap positif ke depan. Ia menyebut rencana pemerintah melelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz akan mendorong ekspansi jaringan operator, terutama di wilayah pedesaan dan luar Pulau Jawa. Mitratel menilai perusahaan berada pada posisi strategis untuk menjadi mitra utama operator dalam mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional.
“Kami berkomitmen memperkuat posisi sebagai Next Generation Tower Company yang menghadirkan solusi infrastruktur digital end-to-end untuk mendukung percepatan transformasi digital Indonesia,” kata Theodorus.
Sebelumnya, Telkomsel ditetapkan sebagai pemenang terbesar lelang spektrum tersebut. Anak perusahaan TLKM itu memenangkan total alokasi spektrum sebesar 100 MHz, terdiri atas 2x10 MHz di pita 700 MHz senilai Rp 642,5 miliar, dan 80 MHz di pita 2,6 GHz senilai Rp 545,8 miliar.
Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan, penetapan pemenang lelang frekuensi menjadi langkah penting untuk mempercepat transformasi digital nasional. Tambahan spektrum diharapkan meningkatkan kapasitas jaringan seluler, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan internet bergerak yang lebih cepat, lebih stabil, dan semakin terjangkau.
"Komdigi memastikan bahwa lelang frekuensi ini memberikan manfaat nyata dan merata bagi masyarakat. Ujungnya harus dirasakan langsung oleh masyarakat di level akar rumput," ujar Meutya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/7).
Menurut Meutya, mekanisme seleksi pengelolaan spektrum tersebut diproyeksikan memberikan potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sekitar Rp 6 triliun pada tahap awal.
Dalam jangka waktu 10 tahun, total potensi penerimaan negara diperkirakan mencapai Rp 29,9 triliun. Komdigi juga menetapkan kewajiban bagi pemenang seleksi untuk menyediakan layanan 5G dengan cakupan minimal 51% populasi nasional pada tahun kelima. Pemerintah menargetkan kecepatan rata-rata layanan mobile broadband meningkat secara bertahap hingga mencapai 100 Mbps pada 2029.
Target itu akan didukung kombinasi pita frekuensi 700 MHz sebagai spektrum low-band yang mampu menjangkau wilayah pelosok dan area di dalam bangunan, serta pita 2,6 GHz sebagai spektrum mid-band yang menjadi kapasitas utama layanan 5G.





Komentar (0)