Saya pertama kali berjumpa dengan karya Nasirun pada 1995. Bukan bertemu orangnya, melainkan bertemu pikirannya yang menjelma warna di atas kanvas.
Saat itu ia baru lulus dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan menggelar pameran tunggal. Kalau tidak salah, lokasinya di Taman Budaya Surakarta, Jawa Tengah. Nama 'Nasirun' membuat saya penasaran. Bunyinya mengingatkan saya kepada Prof Nasikun, guru besar sosiologi Universitas Gadjah Mada. Rasa ingin tahu itulah yang membawa saya memasuki ruang pameran.
Baca Juga :
Maestro Seni Lukis Nasirun Meninggal DuniaDi sanalah saya berhenti cukup lama di depan sebuah lukisan berjudul Figures. Lukisan itu menghadirkan sosok-sosok yang mengingatkan pada tokoh wayang Jawa, tetapi bukan wayang yang biasa saya kenal. Anatominya didistorsi, ekspresinya liar, warnanya meledak-ledak, seolah tradisi sedang berdialog dengan zaman. Sebagai orang Jawa, saya melihat keberanian yang tidak lazim. Nasirun tidak sedang memotret warisan leluhur. Ia sedang mengajak warisan itu berbicara dengan masa kini.
Kini, 31 tahun setelah perjumpaan pertama itu, saya menerima kabar duka. Nasirun bin San Rustam berpulang pada Sabtu, 1 Agustus 2026, pukul 05.58 WIB di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta dalam usia 60 tahun. Hari itu juga, ia dimakamkan di Makam Seniman Girisapto Imogiri, Bantul, tempat banyak insan seni berpulang untuk menyatu kembali dengan tanah yang selama hidup mereka, mereka muliakan melalui karya.
Kepergian Nasirun bukan sekadar kehilangan seorang pelukis. Indonesia kehilangan seorang penafsir kebudayaan. Nasirun, lahir di Cilacap pada 1 Oktober 1965, menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), yang kemudian menjadi ISI Yogyakarta. Dari kampus itulah lahir seorang seniman yang kelak dikenal karena kemampuan teknisnya sangat tinggi. Namun, bukan cuma itu. Nasirun juga dikenal lewat keberaniannya mengolah tradisi menjadi bahasa visual yang sama sekali baru.
Seniman Nasirun pada 2023 lalu. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim.
Wayang menjadi titik berangkatnya, tetapi bukan tujuan akhirnya. Di tangan Nasirun, tokoh-tokoh pewayangan mengalami pembongkaran bentuk. Tubuh mereka dipelintir, wajah mereka dipermainkan, warna-warnanya membara. Namun, justru di situlah nilai-nilai lama memperoleh kehidupan baru. Ia tidak memuja tradisi secara membuta. Ia mengujinya, mempertanyakannya, bahkan kadang menyindirnya dengan humor yang halus dan ironi yang tajam.
Karya-karyanya juga tidak pernah terpisah dari akar spiritual. Dongeng-dongeng yang diwariskan sang ibu, kearifan masyarakat pesisir, hingga perenungan tasawuf bertemu dalam satu kanvas. Dari sanalah lahir karya-karya monumental seperti The Death of Kumbokarno (2001-2002), yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu mahakarya seni rupa Indonesia.
Banyak kritikus menjuluki gaya melukisnya sebagai hot painting. Julukan itu tepat. Lukisannya memang panas. Bukan karena marah, melainkan karena penuh energi kehidupan. Namun, sebesar apa pun nama Nasirun, ia tetap memelihara kesederhanaan yang nyaris langka. Ada kisah yang memperlihatkan siapa sesungguhnya Nasirun.
Suatu hari, ketika sedang melukis di rumahnya, datang seorang anak muda dengan sepeda motor tua. Anak muda itu hanya ingin melihatnya bekerja. Nasirun tidak bertanya siapa tamunya. Ia mengambilkan kursi, bahkan memilihkan kursi yang lebih tinggi daripada kursinya sendiri. Ia menyuguhkan minuman, lalu melanjutkan melukis.
Ketika tamu muda itu meminta membeli lukisan yang sedang dikerjakannya, Nasirun sempat menolak karena karya itu akan dipamerkan. Setelah didesak, ia menyebut harga Rp175 juta. Di luar dugaan, anak muda itu mengangguk tanpa menawar.
Esoknya sebuah mobil mewah datang bersama mobil boks. Lukisan itu dibayar lunas. Barulah Nasirun mengetahui bahwa tamu sederhana itu merupakan putra seorang tokoh nasional sekaligus pengusaha besar. Cerita itu bukan tentang mahalnya sebuah lukisan. Cerita itu tentang seorang seniman yang menghormati setiap tamu sebelum mengetahui siapa tamunya.
Kisah lain bahkan lebih menyentil. Ketika hendak membeli mobil seharga Rp400 juta secara tunai, Nasirun datang ke dealer dengan rambut gondrong dan mengenakan celana pendek. Tak satu pun tenaga penjual menyapanya. Semua sibuk melayani calon pembeli lain yang tampak lebih meyakinkan.
Keadaan berubah ketika istrinya datang membawa uang tunai. Para salesperson yang semula tak acuh mendadak berebut melayani. Minuman pun segera disuguhkan. Nasirun hanya tersenyum. "Rasa minumannya sudah tidak enak karena diberikan bukan dari hati yang ikhlas."
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang mahal. Bahwa penghormatan kepada manusia seharusnya tidak ditentukan penampilan, jabatan, atau isi rekeningnya.
Mungkin justru karena kerendahan hati itulah lukisan-lukisan Nasirun selalu terasa hidup. Teknik tinggi memang bisa dipelajari. Penguasaan konsep dapat ditempa. Namun, kejujuran rasa tidak bisa direkayasa. Itulah kekuatan terbesar Nasirun. Ia melukis bukan sekadar untuk memanjakan mata, melainkan juga menggerakkan batin.
Kini kuas itu telah berhenti. Warna-warna yang selama puluhan tahun ia tumpahkan ke kanvas tak lagi bertambah. Namun, warisan estetik dan spiritual yang ia tinggalkan akan terus berbicara kepada generasi sesudahnya.
Dalang itu memang telah pergi. Akan tetapi, wayang-wayang ciptaannya akan terus bercerita. Tentang Jawa yang tidak pernah selesai ditafsirkan. Tentang Indonesia yang selalu membutuhkan seniman seperti Nasirun untuk mengingatkan bahwa tradisi bukan benda mati, melainkan jiwa yang terus hidup selama ada yang berani menafsirkannya kembali.





Komentar (0)