Gebrakan Baru Pop Mart, Labubu Kini Hadir dalam Bentuk Roti

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
1/7

Para tamu mengantre untuk memasuki toko roti internasional pertama Pop Mart di Resorts World Sentosa, Singapura. Produsen mainan koleksi blind box asal Beijing itu resmi berekspansi ke bisnis kuliner dengan menghadirkan gerai roti bertema karakter ikoniknya, seperti Labubu dan Molly, sebagai bagian dari strategi memperluas pemanfaatan kekayaan intelektual (IP) di luar industri mainan. (REUTERS/Edgar Su)

2/7

Toko roti dua lantai yang berlokasi di seberang Universal Studios Singapore itu menawarkan 45 pilihan kue, minuman, dan hidangan penutup bertema karakter Pop Mart. Beragam menu unik disajikan, mulai dari es loli wijen hitam berbentuk Labubu hingga kue keju ganda Molly. (REUTERS/Edgar Su)

3/7

Harganya dibanderol mulai 5 dolar Singapura hingga 32 dolar Singapura, atau sekitar US$3,87 (Rp54 ribu) hingga US$24,77 (Rp432 ribu). epala Pop Bakery, Zhang Xiaoyang, mengatakan Singapura menjadi langkah awal ekspansi internasional perusahaan. Pop Mart juga mempertimbangkan membuka toko roti di Eropa dan Amerika Serikat, meski masih harus menyelesaikan berbagai tantangan, termasuk pengembangan rantai pasok lokal.(REUTERS/Edgar Su)

4/7

Selain itu, perusahaan berencana memperluas jaringan toko makanan penutup ke Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Pembukaan gerai di Singapura menyusul peluncuran toko roti pertama Pop Mart di Qinhuangdao, China, pada April lalu. Sebelum membuka toko permanen, perusahaan telah menguji konsep tersebut melalui lebih dari 30 gerai pop-up truk makanan penutup di berbagai kota di China. (REUTERS/Edgar Su)

5/7

Ekspansi ke bisnis makanan dilakukan di tengah meningkatnya biaya produksi dan munculnya pertanyaan dari analis mengenai keberlanjutan pertumbuhan Pop Mart. Dosen SDA Bocconi School of Management, Laura Pan, menilai Pop Bakery menjadi langkah diversifikasi yang tepat karena ruang ekspansi di bisnis mainan mulai terbatas. Namun, menurutnya, keberhasilan konsep tersebut di Amerika Serikat masih perlu dibuktikan, terutama jika popularitas karakter Labubu terus menurun. (REUTERS/Edgar Su)

6/7

Pop Mart sebelumnya menyatakan ingin mengikuti jejak Disney dengan mengembangkan kekayaan intelektual (IP) ke berbagai sektor untuk menciptakan pertumbuhan jangka panjang. Tahun ini perusahaan mengumumkan kerja sama dengan Sony Pictures untuk mengembangkan film Labubu serta memperluas taman hiburan Pop Land di Beijing.  (REUTERS/Edgar Su)

7/7

Zhang mengatakan makanan penutup menjadi salah satu cara agar karakter Pop Mart dapat hadir dalam berbagai aspek kehidupan konsumen melalui sajian tiga dimensi yang dapat dinikmati langsung. (REUTERS/Edgar Su)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp102 Triliun, Sudah Kecanduan?
• 16 jam lalu
0
thumb
PMI Manufaktur Indonesia Kembali Masuk Zona Ekspansi, Apa Faktor Pendorongnya?
• 2 jam lalu
0
thumb
Babak Baru TPPO: Ketika Korban Dipaksa Menjalankan Kejahatan Digital
• 1 jam lalu
0
thumb
Kapolres Depok Ngobrol dengan Ibu Petugas Kebersihan: Jangan Takut Lapor Polisi
• 5 jam lalu
0
thumb
Lemahnya Kapasitas Politik Lokal dalam Otonomi Daerah
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.