PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan impairment atau kerugian penurunan nilai investasi mencapai Rp 2,76 triliun di bisnis geotermal di Sumatra. Alhasil, laba anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu anjlok hingga 88,2% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 956,28 miliar sepanjang semester pertama 2026.
Berdasarkan laporan keuangannya, UNTR membukukan kerugian penurunan nilai investasi di PT Supreme Energy Rantau Dadap (SERD) sebesar Rp 1,48 triliun hingga semester I 2026. Pencatatan tersebut membuat nilai investasi perseroan di SERD menjadi nihil.
Selain itu, UNTR juga mencatat kerugian penurunan nilai piutang nonusaha atau pinjaman pemegang saham ke SERD hingga Rp 1,28 triliun.
Manajemen UNTR menilai bukti objektif terhadap anjloknya nilai investasi di PT Supreme Energy Rantau Dadap (SERD) setelah menemukan sejumlah masalah operasional yang menjadi indikasi adanya penurunan nilai. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, perseroan kemudian melakukan uji penurunan nilai atau impairment test atas investasinya di SERD.
“Nilai terpulihkan atas investasi pada SERD ditentukan dengan menggunakan hierarki pengukuran nilai wajar Tingkat 3 berdasarkan metode Diskonto Arus Kas (DAK),” tulis manajemen dalam laporan keuangannya, dikutip Senin (3/7).
SERD adalah anak usaha PT Supreme Energy yang mengembangkan proyek panas bumi di Indonesia. Selain UNTR, perusahaan tersebut juga digenggam sejumlah investor strategis, yakni Inpex, Sumitomo Corporation, Marubeni Corporation, dan Tohoku Electric Power Co Inc.
UNTR melalui PT Energia Prima Nusantara (EPN) dan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) mulai berinvestasi di SERD pada 2023. Melalui kedua entitas tersebut, UNTR kini menguasai 40,4% saham SERD.
Sebelumnya pada Maret 2024 UNTR menandatangani perjanjian novasi pemegang saham subordinasi dengan Axia Power Holdings BV (AXIA), Tohoku Power Investment Company BV (TPIC), dan Inpex Geothermal Ltd (IG). Melalui perjanjian tersebut, ketiga pemegang saham mengalihkan sebagian piutang mereka di PT Supreme Energy Rantau Dadap (SERD), termasuk bunga yang telah dikapitalisasi kepada UNTR.
Pinjaman tersebut memiliki suku bunga tetap dengan jatuh tempo pada 2038. Namun, hingga 30 Juni 2026, nilai pinjaman kepada SERD menjadi nihil seusai UNTR membukukan penurunan nilai atas seluruh saldo piutang. Padahal jika melihat akhir 2025 lalu, nilai pinjaman tersebut masih tercatat sebesar Rp 1,08 triliun.
Adapun hingga semester pertama 2026, UNTR membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 58,3 triliun, turun 15% YoY dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 68,5 triliun. Manajemen menyebut penurunan itu terutama dipicu oleh lebih rendahnya penjualan emas dari PT Agincourt Resources. Kemudian, melemahnya kinerja segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal maupun metalurgi akibat alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Batu Bara Nasional 2026 yang lebih rendah, juga jadi pemicu lainnya.
Di sisi profitabilitas, laba bersih yang tidak memperhitungkan pos nonberulang (non-recurring items) turun 48% menjadi Rp 4,3 triliun. Penurunan itu terutama disebabkan oleh berkurangnya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe yang sempat dihentikan operasionalnya.
Manajemen juga mengatakan turunnya pendapatan akibat lebih rendahnya alokasi RKAB Batu Bara 2026. Perseroan menyebut operasional Tambang Emas Martabe telah kembali berjalan pada kuartal II 2026.
Sementara itu, sepanjang semester I 2026 UNTR membukukan pos nonberulang sebesar Rp 3,3 triliun, yang terutama berasal dari penurunan nilai investasi di Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait aktivitas sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Per 30 Juni 2026, UNTR mencatat utang bersih sebesar Rp 9,4 triliun dengan rasio gearing sebesar 8,5%. Posisi tersebut berbalik dari kondisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun pada akhir 2025.





Komentar (0)