Gejolak Global dan Tensi Timur Tengah Bayangi Pasar, Ekonom Sarankan Strategi Portofolio Selektif

disway.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID-- Tingginya volatilitas perekonomian global yang membayangi sejak awal 2026 kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi ke depan. Sentimen investor di pasar modal kian tertekan akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

Head of Research Indonesia DBS Group Research, William Simadiputra, mengungkapkan bahwa ancaman kenaikan harga energi akibat gangguan rantai pasok global kini menjadi fokus utama para pelaku pasar.

"Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi ke depan, sejalan dengan risiko kenaikan harga energi yang juga menjadi perhatian pelaku pasar," tutur William kepada Disway, Senin (3/8/2026).

BACA JUGA:Harga Pertamax Turun Mulai 1 Agustus, Dinilai Belum Menutup Kenaikan Tajam Bulan Lalu

Menurutnya, kekhawatiran inflasi tersebut turut tecermin di pasar ekuitas Indonesia. Para investor saat ini terus melakukan asesmen mendalam terhadap berbagai risiko sambil membaca sinyal dari indikator pasar yang ada.

Terapkan Strategi Selektif dan Overweight Sektor Energi

Menghadapi tren suku bunga yang masih tinggi dan pasar yang semakin selektif, DBS menyarankan agar investor tetap fokus pada perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental keuangan yang kuat.

Dalam penyusunan strategi portofolio, DBS memposisikan diri overweight pada sektor-sektor tertentu sebagai langkah mitigasi:

BACA JUGA:JAFF Market 2026 Buka Pendaftaran JFP dan JIPCon, Peluang Emas Proyek Film Tembus Pasar Global Pentingnya Alokasi Aset yang Adaptif

Senada dengan hal tersebut, Head of Global Financial Markets PT Bank DBS Indonesia, Ronny Setiawan, menekankan bahwa kunci utama bagi investor institusi dalam menghadapi volatilitas adalah penerapan strategi alokasi aset yang adaptif.

Tantangan terbesar saat ini bukan sekadar mengelola risiko, melainkan ketepatan waktu dalam mengambil sikap defensif maupun menangkap peluang di tengah dinamika pasar.

"Dengan pendekatan tersebut, investor dapat membangun ketahanan portofolio sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul di setiap fase siklus ekonomi," pungkas Ronny.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tingkat Positif COVID-19 di Tiongkok Meningkat Dua Kali Lipat, Dikhawatirkan Memasuki Tingkat Penularan Tinggi
• 7 jam lalu
0
thumb
Alibaba Rilis Model AI Terbaru, Saham Naik Tajam
• 7 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Perjelas Aturan Dagang Logam Tanah Jarang, Produk Ikutan Boleh Diekspor
• 8 jam lalu
0
thumb
Dor! Bandit Jalanan Tersungkur Ditembak Usai Serang Polisi Pakai Celurit
• 16 jam lalu
0
thumb
Masa Reses, Legislator Himpun Masukan Warga Terkait Infrastruktur dan Ketahanan Pangan
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.