Gresik (beritajatim.com) – Suara riuh para siswa yang mulai saling mengenal teman baru mewarnai pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik, Senin (3/8/2026).
Di tengah proses adaptasi itu, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf turun langsung memastikan program pendidikan gratis berasrama tersebut berjalan sesuai tujuan, yakni membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kedatangan Menteri Sosial yang akrab disapa Gus Ipul bukan sekadar agenda peninjauan. Ia menyapa para siswa, berdialog dengan tenaga pendidik, hingga melihat langsung ruang belajar dan tempat makan bersama yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari peserta didik selama menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
Menurut Gus Ipul, Sekolah Rakyat merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Hingga awal Agustus 2026, lebih dari 28 ribu siswa telah bergabung di berbagai Sekolah Rakyat di Indonesia.
“Tahun ini targetnya mencapai 40 ribu siswa. Tahun depan ditargetkan meningkat menjadi 100 ribu siswa seiring pembangunan Sekolah Rakyat di berbagai daerah selesai,” ujarnya.
Ia mengakui pelaksanaan MPLS masih diwarnai tantangan, terutama karena siswa sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Di sisi lain, sejumlah fasilitas sekolah juga masih dalam tahap penyempurnaan sehingga evaluasi terus dilakukan agar proses belajar berlangsung lebih optimal.
Untuk membentuk karakter peserta didik sejak hari pertama, pemerintah melibatkan Taruna Akademi Militer (Akmil) dan Akademi Kepolisian (Akpol) melalui Program Taruna Bhakti. Pendampingan tersebut difokuskan pada pembentukan disiplin, jiwa kebangsaan, serta kemandirian para siswa.
Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik sendiri, sebanyak 405 siswa mengikuti tahun ajaran perdana. Rinciannya terdiri atas 90 siswa jenjang SD, 90 siswa jenjang SMP, 90 siswa jenjang SMA, 75 siswa jenjang SRMA, serta 60 siswa titipan dari Kabupaten Lamongan.
Gus Ipul menegaskan, seluruh peserta didik diprioritaskan berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem sehingga kehadiran negara benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan. “Negara tidak hanya menyekolahkan anak-anak mereka, tetapi juga melakukan pendampingan dan pemberdayaan kepada keluarganya agar kondisi ekonominya ikut meningkat,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menilai keberadaan Sekolah Rakyat menjadi langkah nyata pemerintah dalam menghadirkan pendidikan yang setara bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Menurutnya, konsep sekolah berasrama gratis memberi kesempatan lebih besar bagi peserta didik untuk berkembang dalam lingkungan yang mendukung pembentukan karakter sekaligus peningkatan kualitas akademik.
“Melalui sekolah berasrama gratis ini, kita ingin melahirkan generasi unggul yang berkarakter kuat. Harapannya, pendidikan menjadi jalan untuk mengentaskan kemiskinan di Gresik,” imbuhnya.
Bagi Gresik, kehadiran Sekolah Rakyat bukan sekadar menambah fasilitas pendidikan. Program ini diharapkan menjadi investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang memiliki kesempatan lebih luas keluar dari lingkaran kemiskinan, dimulai dari ruang kelas yang kini mulai mereka kenal pada hari-hari pertama MPLS. (dny/kun)





Komentar (0)