Barang yang sudah selesai digunakan tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Dengan keterampilan dan pengolahan yang tepat, material bekas masih bisa dimanfaatkan menjadi barang baru yang berguna, bahkan memiliki nilai ekonomi.
Hal inilah yang coba dilakukan Le Minerale bersama BenihBaik.com melalui program pemberdayaan perempuan di Kampung Katulampa, Bogor. Dalam program tersebut, galon Le Minerale yang sudah tidak terpakai diolah kembali menjadi lampu hias hingga instalasi hidroponik sederhana.
Program ini menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat komunitas. Galon yang telah digunakan tidak langsung dibuang, tetapi diberi fungsi baru agar dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat.
Founder dan CEO BenihBaik.com, Andy F. Noya, mengatakan, “Kolaborasi ini lahir dari kesamaan visi antara BenihBaik.com dan Le Minerale bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan akan semakin kuat ketika berbagai pihak bergerak bersama dalam semangat gotong royong dan kolaborasi.”
Menurutnya, BenihBaik.com berperan sebagai jembatan yang mempertemukan perusahaan yang memiliki kepedulian dengan masyarakat yang membutuhkan. Pertemuan tersebut kemudian diwujudkan melalui program yang tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata.
Andy menilai Le Minerale tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan. Program ini juga dirancang untuk menambah keterampilan dan mendorong masyarakat agar semakin mandiri.
Melibatkan 50 Perempuan di Kampung KatulampaSebanyak 50 perempuan mengikuti pelatihan dan pendampingan yang berlangsung selama tiga hari, pada 12–14 Mei 2026. Dalam kegiatan tersebut, para peserta belajar mengolah galon Le Minerale yang sudah digunakan menjadi produk yang memiliki fungsi dan potensi nilai jual.
Salah satu produk yang dibuat adalah lampu hias. Galon bekas dipotong, dirakit, lalu dihias hingga berubah menjadi produk dekorasi yang dapat digunakan kembali.
Lewat proses tersebut, para peserta tidak hanya belajar membuat kerajinan. Mereka juga diajak melihat bahwa material yang ada di sekitar dapat menjadi peluang usaha ketika dipadukan dengan kreativitas dan keterampilan.
Lampu hias yang dihasilkan dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk dan desain. Jika produksinya dikelola secara konsisten, produk tersebut berpotensi dipasarkan dan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Menurut Andy, hal ini menunjukkan bahwa galon yang sudah selesai digunakan masih memiliki nilai.
“Galon Le Minerale bekas tidak menjadi limbah, tetapi dapat dimanfaatkan kembali melalui kreativitas masyarakat menjadi produk bernilai ekonomi seperti lampu hias,” kata dia.
Selain belajar membuat produk, peserta juga mendapat pengetahuan dasar mengenai proses produksi dan pengelolaan usaha. Bekal ini diberikan agar hasil pelatihan tidak hanya berhenti sebagai karya sekali jadi, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
Para peserta didorong untuk bekerja sama dalam membagi tugas, mulai dari produksi, pengembangan desain, pengemasan, pencatatan, hingga pemasaran. Dengan cara tersebut, keterampilan yang dimiliki masing-masing peserta dapat saling melengkapi.
Program ini juga membuka ruang bagi perempuan di Kampung Katulampa untuk lebih percaya diri dan aktif dalam kegiatan ekonomi keluarga maupun komunitas. Mereka dapat mencoba kemampuan baru sekaligus melihat peluang usaha dari material yang sebelumnya dianggap tidak terpakai.
Pendampingan menjadi bagian penting dari program ini. Setelah pelatihan selesai, peserta tetap membutuhkan arahan untuk menjaga kualitas produk, mengatur proses produksi, menentukan harga, hingga mencari peluang pasar.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan, keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat berkembang menjadi usaha bersama yang dikelola secara lebih mandiri oleh komunitas.
Galon Bekas Menjadi Media HidroponikSelain dijadikan lampu hias, galon Le Minerale yang telah digunakan juga dimanfaatkan sebagai instalasi hidroponik sederhana. Para peserta belajar menggunakannya sebagai media untuk menanam sayuran.
Mereka mendapat pengetahuan dasar mulai dari menyiapkan media tanam, merawat tanaman, hingga memanfaatkan hasil panen. Sayuran yang dihasilkan dapat dikonsumsi oleh keluarga atau dijual untuk menambah pendapatan rumah tangga.
Pemanfaatan galon sebagai media hidroponik menunjukkan bahwa satu material dapat memiliki lebih dari satu fungsi. Selain untuk menanam sayuran, galon yang telah digunakan juga dapat dimanfaatkan untuk menanam padi dan cabai, maupun sebagai bagian dari budidaya ikan seperti lele.
“Bagi BenihBaik.com, inisiatif ini menjadi contoh bagaimana prinsip ekonomi sirkular dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat,” jelas Andy.
Menurutnya, ketika suatu barang diberi fungsi baru, manfaatnya dapat terus berlanjut. Selain mengurangi material yang terbuang, pemanfaatan kembali galon juga dapat membuka peluang ekonomi dan membantu memperkuat kondisi keluarga.
Kegiatan hidroponik ini turut mendukung ketahanan pangan keluarga. Sayuran segar yang dipanen dapat memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari, sementara hasil yang lebih dapat dijual.
Jika dikelola bersama, kebun hidroponik juga dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi komunitas. Para peserta bisa berbagi peran dalam proses penanaman, perawatan, pemanenan, hingga pemasaran hasil budidaya.
Program Le Minerale bersama BenihBaik.com menunjukkan bahwa pemanfaatan kembali galon plastik tidak hanya berkaitan dengan pengurangan sampah. Material yang telah digunakan masih dapat diolah menjadi produk yang berguna dan memiliki nilai ekonomi.
Melalui pelatihan dan pendampingan, perempuan di Kampung Katulampa tidak hanya belajar membuat lampu hias atau menanam sayuran. Mereka juga mendapat ruang untuk mengembangkan keterampilan, menambah rasa percaya diri, dan membuka peluang usaha baru.
Dari galon yang sudah tidak terpakai, manfaat baru dapat tercipta bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Ketika dipadukan dengan kreativitas, kerja sama, dan pendampingan, material bekas dapat menjadi sumber peluang yang sebelumnya tidak terlihat.






Komentar (0)