Bukan Cuma Ramah Lingkungan, Biogas Bisa Jadi Solusi Energi Murah untuk Desa

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Saat bicara energi terbarukan, banyak orang langsung terpikir panel surya atau pembangkit listrik tenaga angin. Padahal, Indonesia punya potensi energi bersih lain yang tak kalah besar, yakni biogas. Energi yang berasal dari limbah organik ini dinilai mampu mendukung transisi energi nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru di pedesaan.

Researcher Su-re.co (PT Sustainability and Resilience), Fabian Peri Wiropranoto, mengatakan biogas bukan sekadar menghasilkan energi ramah lingkungan. Pemanfaatannya juga bisa menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, hingga mendukung sektor agrowisata.

Baca juga: Bukan Sekadar Pasang Panel, Inilah Tantangan Mitigasi Risiko di Balik PLTS 22,5 MW Mulia Industri      

Biogas dihasilkan dari proses penguraian limbah organik, seperti kotoran ternak, sisa makanan, limbah pertanian, hingga limbah rumah tangga. Melalui proses fermentasi tanpa oksigen, limbah tersebut menghasilkan gas metana yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak, pembangkit listrik, maupun kebutuhan energi lainnya.

Menurut Fabian, pengembangan biogas sangat relevan untuk desa karena bahan bakunya tersedia melimpah. Selama ini, banyak masyarakat pedesaan masih mengandalkan kayu bakar untuk memasak. Selain memakan waktu karena harus mencari kayu, penggunaan kayu bakar juga berdampak pada kesehatan akibat paparan asap.

Berdasarkan kajian Su-re.co di Bajawa, Sumba, dan Bali, sebanyak 98 persen rumah tangga di Sumba masih mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan asap dari aktivitas memasak menggunakan kayu bakar.

"Padahal limbah pertanian dan peternakan yang selama ini dianggap tidak bernilai justru bisa diubah menjadi energi bersih yang bermanfaat," ujar Fabian.

Ia menilai pemanfaatan biogas juga dapat membantu Indonesia mengejar target bauran energi baru terbarukan sebesar 17–21 persen pada 2026. Selain itu, penggunaan biogas diperkirakan mampu menekan subsidi LPG hingga sekitar Rp1,4 triliun per tahun serta berpotensi dimanfaatkan oleh lebih dari 12 juta rumah tangga di sekitar 75 ribu desa.

Meski potensinya besar, pengembangan biogas masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari ketergantungan pada pendanaan hibah, terbatasnya kapasitas teknis di desa, minimnya dukungan pemerintah daerah, hingga masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai manfaat biogas.

Karena itu, Fabian menilai pengembangan biogas perlu dilakukan dari tingkat desa dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan masyarakat menjadi kunci agar pemanfaatan biogas bisa berkembang lebih luas.

Dukungan juga datang dari pemerintah. Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, mengatakan dana desa dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan energi terbarukan sesuai potensi masing-masing daerah, termasuk biogas.

Sementara itu, Plh. Koordinator Direktorat Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Erick Ta'dung, menilai Indonesia memiliki pasokan bahan baku biogas yang melimpah, mulai dari limbah peternakan, pertanian, perkebunan, hingga rumah tangga. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, industri, lembaga keuangan, akademisi, dan masyarakat diperlukan agar pengembangan biogas bisa berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
SRAK Elang Jawa 2026–2036: Dari Perlindungan Spesies ke Pengelolaan Lanskap
• 2 jam lalu
0
thumb
Atasi Macet, U-turn Jl Kartini Depok Akan Ditutup Mulai Senin Besok
• 19 jam lalu
0
thumb
Serangan Drone Ukraina Tewaskan 5 Orang di Rusia dan Membakar Gudang Wildberries
• 17 jam lalu
0
thumb
Tak Sekadar SUV, Ini Kisah Legenda Toyota Land Cruiser Selama 75 Tahun
• 15 jam lalu
0
thumb
Pemkab Banyuwangi dan Injourney kolaborasi perkuat promosi pariwisata
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.