Rabat: Pemerintah Maroko untuk pertama kalinya memberikan keterangan resmi terkait gelombang besar migran yang berupaya memasuki wilayah kantong Spanyol di Ceuta, dengan Kementerian Dalam Negeri Maroko mengonfirmasi sedikitnya 11 kematian dalam insiden tersebut.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Maroko, Rachid El Khalfi, mengatakan sekitar 40.000 migran bergerak menuju Ceuta, sementara sekitar 1.135 orang lainnya berupaya mencapai wilayah kantong Spanyol lainnya, Melilla.
"Jumlah sebenarnya migran yang menuju Kota Ceuta mencapai sekitar 40.000 orang, sementara sekitar 1.135 orang bergerak menuju Kota Melilla," kata El Khalfi dalam konferensi pers pada Minggu kemarin.
Menurutnya, satu korban meninggal akibat terjatuh dari kawasan berbatu di dekat Ceuta, sedangkan 10 korban lainnya tenggelam saat berupaya mencapai wilayah tersebut melalui laut.
Dikutip dari Yeni Safak, Senin, 3 Agustus 2026, El Khalfi menambahkan seluruh migran yang berhasil memasuki Melilla langsung dipulangkan ke Maroko. Ia mengatakan aparat keamanan Maroko masih terus menangani situasi di sepanjang pesisir utara negara itu. Dipicu Hoaks dan Jaringan Penyelundup Pemerintah Maroko menyimpulkan gelombang migrasi tersebut bukan terjadi secara spontan.
El Khalfi mengatakan penyelidikan menunjukkan peristiwa itu dipicu oleh penyebaran informasi menyesatkan di media sosial, aktivitas jaringan penyelundup manusia, serta kesalahpahaman terhadap perkembangan hukum terbaru yang membuat banyak migran percaya mereka dapat memasuki Eropa tanpa menghadapi konsekuensi langsung.
Ia menjelaskan putusan pengadilan di Spanyol yang membatasi pemulangan langsung terhadap sebagian migran ilegal yang dicegat di laut semakin memperkuat anggapan bahwa memasuki Ceuta melalui jalur laut dapat menghindarkan mereka dari deportasi segera. Koordinasi dengan Spanyol Maroko juga menyatakan masih berkoordinasi dengan pemerintah Spanyol untuk memverifikasi laporan mengenai tambahan korban jiwa di Ceuta, termasuk identitas dan kewarganegaraan para korban.
Sementara itu, media Spanyol melaporkan jumlah jenazah yang ditemukan di wilayah Ceuta telah meningkat menjadi 88 orang.
Di tengah krisis tersebut, otoritas Spanyol telah menyelesaikan pembangunan penghalang terapung sepanjang 500 meter di perlintasan perbatasan Tarajal guna memperkuat pengamanan.
Ceuta dan Melilla merupakan dua wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Benua Afrika dan kerap menjadi tujuan utama migran yang ingin memasuki Eropa.
Baca juga: Migran Tewas di Ceuta Capai 90 Orang, Maroko Sebut Angka Berbeda





Komentar (0)