Sinergi K/L Perkuat Ekosistem Jaminan Kesehatan Nasional

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Penguatan ekosistem Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi langkah penting untuk memastikan penyelenggaraan program yang semakin efektif dan berkelanjutan.

Untuk itu, BPJS Kesehatan memperkuat kolaborasi dengan empat kementerian dan lembaga guna membangun tata kelola yang semakin terintegrasi, mulai dari pelindungan peserta, kualitas data, pembiayaan program, hingga kepatuhan pemberi kerja.

Sinergi tersebut dilakukan bersama Kementerian Sosial, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Keempat kementerian dan lembaga tersebut memiliki peran yang saling melengkapi dalam memperkuat tata kelola penyelenggaraan Program JKN sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengatakan tantangan penyelenggaraan JKN saat ini tidak hanya menjaga keberlanjutan Dana Jaminan Sosial namun juga upaya kita bersama dalam meningkatkan kepesertaan tetap aktif, memperkuat mutu layanan yang mudah, cepat, dan setara, hingga membangun tata kelola yang semakin akuntabel melalui kolaborasi dan pemanfaatan data.

"Program JKN telah berkembang menjadi sebuah ekosistem. Karena itu, kualitas penyelenggaraannya tidak lagi ditentukan oleh satu institusi, melainkan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun tata kelola yang saling terhubung," ujar Pujo.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor yang dibangun menjadi fondasi agar setiap kebijakan yang diambil berbasis data yang akurat, didukung pembiayaan yang berkelanjutan, serta diiringi kepatuhan seluruh pihak terhadap regulasi yang berlaku.

Melalui penguatan ekosistem JKN, BPJS Kesehatan mampu beradaptasi dengan dinamika kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan program.

"Meski memiliki ruang lingkup yang berbeda, namun sinergi yang dibangun bermuara pada tujuan yang sama, yaitu memperkuat ekosistem penyelenggaraan Program JKN. Melalui sinergi dan kolaborasi ini, diharapkan semakin memperkuat semangat gotong royong, menjaga keberlanjutan Program JKN, serta memastikan setiap penduduk Indonesia memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan yang mudah, cepat, dan setara," tegas Pujo.

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, mengatakan sinergi yang dilakukan dengan BPJS Kesehatan menyasar kepada calon pekerja dan pekerja migran Indonesia. Menurutnya, pelindungan yang diberikan harus diperkuat untuk para pekerja hingga ke seluruh anggota keluarganya.

"Pekerja migran Indonesia memberikan kontribusi, bukan hanya sebagai penggerak ekonomi keluarga dan sebagai penggerak ekonomi nasional. Maka dari itu, keselamatan kerja dan kesehatan para pekerja dan calon pekerja migran sangat penting bagi kami untuk diberikan. Dengan kolaborasi ini, harapannya bisa meningkatkan kualitas layanan kesehatan kepada seluruh masyarakat, khususnya bagi pekerja migran Indonesia," tegas Mukhtarudin.

Selain itu, pada aspek pelindungan peserta, Wakil Menteri Sosial Republik Indonesia, Agus Jabo Priyono mengatakan sinergi yang dibangun dengan Kementerian Sosial berfokus kepada integrasi data penerima bantuan iuran, interoperabilitas informasi, dukungan terhadap fasilitas kesehatan, serta penguatan berbagai program prioritas.

"Saat ini, Kementerian Sosial tengah melakukan pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) penerima Peserta Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK). Kami memandang kolaborasi ini semakin memperkuat kerja sama lintas sektor agar penerima manfaat dapat tepat sasaran dan bisa mengakses layanan dengan baik," kata Agus.

[03/08/2026 13:14] hafiz humas: Pada sisi pembiayaan, Dirjen Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Agus Fatoni mengatakan pihaknya mendukung optimalisasi penyelenggaraan Program JKN.

Upaya ini dilakukan dengan memperkuat regulasi, pembinaan, dan pengawasan kepada pemerintah daerah, termasuk memastikan kecukupan anggaran iuran JKN bagi peserta PBPU Pemda sejak penyusunan APBD serta memperkuat monitoring dan pertukaran data bersama BPJS Kesehatan.

Sementara itu, Wakil Kepala Badan Pusat Statistik, Sonny Harry Budiutomo mengatakan kesehatan merupakan fondasi penting dalam pembangunan nasional. Berdasarkan indikator BPS, kesehatan menjadi salah satu aspek utama yang perlu mendapat perhatian, mengingat hampir 13 persen penduduk Indonesia mengalami sakit setiap bulan.

Karena itu, pemanfaatan DTSEN yang didukung data kepesertaan BPJS Kesehatan serta pemutakhiran data secara berkala menjadi langkah penting untuk memperkuat basis data nasional dan mendukung kebijakan yang lebih tepat sasaran.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Tangkap Kurir Ekstasi Jaringan Malaysia-Medan
• 8 jam lalu
0
thumb
UEFA Ancam FIFA ke Jalur Hukum soal Hak Komersial Piala Dunia
• 9 jam lalu
0
thumb
Evakuasi Penumpang KMP Mutiara Sentosa, Lima Anak Tak Tercatat Manifes
• 8 jam lalu
0
thumb
BGN soal Pemicu Keracunan Siswa di Semarang: Diduga Masaknya Jauh Lebih Awal
• 19 jam lalu
0
thumb
Pembangunan Merata dan SDM Unggul, Gubernur Sulsel Perkuat Kolaborasi dengan UNM
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.