Defisit Neraca Dagang RI ke Cina Capai US$ 13,6 M pada Semester I, Ini Pemicunya

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan dengan Cina mencapai US$ 13,6 miliar sepanjang Januari-Juni 2026. Defisit perdagangan terutama disumbangkan oleh komoditas kelompok mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya US$ 10,63 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, Cina masih menjadi mitra dagang utama Indonesia pada paruh pertama 2026, baik sebagai tujuan ekspor maupun negara asal impor. Defisit neraca perdagangan dengan Cina terutama didorong oleh komoditas nonmigas.

“Tiga negara penyumbang defisit neraca perdagangan pada kelompok nonmigas, pertama adalah Tiongkok mencapai US$14,26 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8).

Defisit neraca nonmigas, terutama disumbang komoditas kelompok mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, disusul mesin dan perlengkap elektrik serta bagiannya menjadi US$ 10,2 miliar, serta plastik dan barang dari plastik sebesar US$ 2,86 miliar.

Berdasarkan catatan BPS, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Cina sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai US$ 34,56 miliar, atau setara 25,68% dari total ekspor nonmigas nasional. Sedangkan impor nonmigas dari Cina mencapai US$ 48,82 miliar, setara 42,37% dari total impor nonmigas Indonesia.

Selain Cina, Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar kedua dengan nilai US$ 15,82 miliar atau berkontribusi 11,76%, disusul India sebesar US$ 9,25 miliar atau 6,87%. 

Sedangkan dari sisi impor, Jepang menjadi negara asal impor nonmigas terbesar kedua dengan nilai US$ 6,41 miliar atau 5,56%, diikuti Australia sebesar US$5,71 miliar atau 4,96%.

Secara keseluruhan, nilai impor Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai US$ 137,24 miliar, meningkat 18,69% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut didorong oleh impor nonmigas yang tumbuh 15,50% menjadi US$ 115,23 miliar, sementara impor migas melonjak 38,71% menjadi US$ 22 miliar. 

Berdasarkan penggunaannya, impor bahan baku dan penolong masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai US$ 97,95 miliar, naik 18,38% secara tahunan. Impor barang modal mencapai US$ 27,36 miliar atau naik 20,50%, sedangkan impor barang konsumsi tercatat US$ 11,93 miliar, meningkat 17,13%.

Secara total, Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$ 450 juta pada Juni 2026, namun secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juni neraca perdagangan masih membukukan surplus US$ 3,58 miliar yang ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar US$ 19,35 miliar, yang mengimbangi defisit perdagangan migas sebesar US$ 15,77 miliar.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Satgas Pangan Tetapkan 39 Tersangka Mafia Beras, Kerugian Hampir Rp 170 Triliun
• 8 jam lalu
0
thumb
KPAI Soroti Dugaan Eksploitasi Anak untuk Promosi Vape, Minta Aparat Bertindak
• 4 jam lalu
0
thumb
Bupati Takalar Ajak Warga Semarakkan HUT Kemerdekaan, Pasang Bendera dari Kota hingga Pelosok
• 17 jam lalu
0
thumb
AZ Alkmaar juara Johan Cruyff Shield 2026 setelah bungkam PSV 4-0
• 10 jam lalu
0
thumb
Karier Berbelok ke Fashion, Arsitek Ini Raih Prestasi di IFW 2026
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.