Gelombang layanan digital berlangganan kini menjangkau hampir setiap aspek kehidupan, mulai dari membaca berita, mendengarkan musik, menonton film, menyimpan data, hingga berbelanja daring. Di balik kemudahan yang ditawarkan, masyarakat juga dihadapkan pada semakin banyak keputusan: layanan mana yang benar-benar dibutuhkan, mana yang sekadar pelengkap, dan kapan saatnya menghentikan langganan agar pengeluaran bulanan tetap terkendali.
Pengalaman sejumlah pengguna menunjukkan bahwa pola konsumsi layanan digital semakin rasional. Keputusan berlangganan tidak lagi semata-mata mengikuti tren, melainkan didasarkan pada seberapa besar manfaat yang diperoleh dibandingkan biaya yang harus dibayar.
Ada yang rela membayar belasan layanan karena mendukung pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. Ada yang hanya mempertahankan satu layanan hiburan. Sementara yang lain, memilih menghentikan langganan ketika waktu penggunaan berkurang atau tersedia alternatif gratis.
Bagaimana masyarakat menimbang manfaat, kebutuhan, dan biaya di tengah menjamurnya layanan digital berbayar? Berikut pengalaman mereka.
Saat ini saya berlangganan sekitar 16 layanan digital berbayar. Sebagian besar merupakan portal berita nasional maupun internasional karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pekerjaan saya untuk mengikuti perkembangan isu dan informasi terkini. Selain itu, saya juga berlangganan layanan video streaming untuk hiburan serta layanan musik digital yang saya gunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Saya pernah menghentikan langganan beberapa layanan karena kebutuhan saya sudah berubah. Ketika sebuah layanan tidak lagi digunakan secara optimal, saya merasa biaya yang dikeluarkan tidak lagi sepadan dengan manfaat yang diperoleh.
Karena itu, saya tidak melihat keputusan menghentikan langganan sebagai bentuk "mengorbankan" suatu layanan. Bagi saya, langganan digital adalah penunjang aktivitas yang harus tetap relevan dengan kebutuhan. Selama sebuah layanan masih memberikan manfaat sesuai tujuan awal saya berlangganan, saya akan mempertahankannya. Namun, ketika kebutuhan berubah dan manfaatnya tidak lagi sebanding dengan biaya yang harus dibayar, saya memilih untuk mengakhiri langganan tersebut.
Ada tiga aplikasi yang saya berlangganan, yaitu iCloud karena kebetulan saya menggunakan device iPhone, dan untuk simpan data banyak, saya berlangganan iCloud. Selain itu, saya juga berlangganan Netflix untuk nonton film dan Spotify premium supaya dengar lagu bisa tanpa jeda iklan
Saya belum pernah cancel berlangganan, karena tidak gampang tergiur dengan langganan aplikasi. Sekarang, saya mengamati sudah banyak beberapa aplikasi juga sudah menyediakan secara gratis dengan fitur yang cukup untuk saya pribadi.
Banyak aplikasi yang sekarang menawarkan paket berlangganan, menurut saya tidak mengganggu, karena dengan bayar lebih untuk biaya berlangganan aplikasi pasti ada keuntungan-keuntungan yang ditawarkan untuk kemudahan. Misalnya, kalau di lokapasar yang paket berlangganan selalu ada tawaran program bebas ongkir tanpa batas dan diskon. Hal ini cocok untuk orang yang memang punya bisnis daring atau sangat gemar belanja daring.
Layanan digital yang saya punya saat ini cuma satu saja, yaitu Netflix. Belakangan ini, Netflix pun sering tidak diaktifkan pembayarannya, jadi sering berhenti sementara langganannya. Alasan kayaknya, kadang kebutuhan hiburan seperti menonton film sekarang gak lagi jadi prioritas banget sih.
Kadang juga ngerasa sudah gak ada waktu luang buat nonton film atau drama di situ (Netplix). Jadi kadang atau sering kali langganan Netflix diperpanjang bukan karena emang mau digunain, tapi lebih kaya otomatis karena saldo pembayarannya cukup buat dipotong otomatis, gitu.
Tapi kadang juga mau diperpanjang atau lanjut berlangganan karena ada film atau drama yang ingin banget ditonton. Jadi perpanjangan setiap bulan itu terjadi on-off kalau lagi dibutuhkan saja.
Sejauh ini belum pernah membatalkan layanan digital karena merasa nilai atau harganya tidak sepadan. Tapi sering kali terhenti secara otomatis saja, dan merasa tidak membutuhkan layanan digital yang lagi dipakai.
Waktu awal-awal muncul layanan digital untuk streaming film atau drama, misalnya, pernah kayak langganan beberapa aplikasinya digunakan dan dibayar. Cuma makin lama, kalau sama-sama untuk menonton film dan membayar lebih dari 1 aplikasi akan terasa berat per bulannya. Semakin lama menyadari kayak untuk pembayaran lebih dari Rp 100.000 per bulan untuk aplikasi kayaknya berlebihan.
Waktu itu juga sempat aktifin langganan streaming musik, seperti Spotify atau YouTube music. Selalu berpikir terus untuk aktif berlangganannya, karena biaya yang dikeluarkan bisa di atas Rp 50 ribu per bulan.
Lalu, karena merasa aplikasi streaming musik itu masih bisa digunakan tanpa berlangganan, jadi ya sudah merasa gak perlu berlangganan dan ngeluarin biaya lebih stiap bulan untuk aplikasi lain. Sebenarnya semuanya balik lagi ke kebutuhan dan bagaimana mengatur keuangan sendiri sih, kalo ada alternatif lain yang tidak berbayar di keadaan saat ini mungkin bisa dimanfaatkan dibanding mengeluarkan biaya setiap bulannya.
Layanan digital yang saya pakai saat ini meliputi Kompas.id, Tempo digital, Spotify, Get contact. Paling sering dipakai adalah Kompas.id, Tempo, Spotify. Tiap hari saya gunakan sebagai teman perjalanan pulang pergi ke kantor.
Saya pernah membatalkan. Contohnya Netflix. Ternyata, saya tidak punya cukup waktu untuk menonton film. Jadinya pemborosan buat saya karena membayar langganan yg tidak saya gunakan.
Yang layak dipertahankan adalah yang mempunyai value sesuai dengan kebutuhan sehari-hari saya. Saya butuh informasi berita yang mendalam, akurat. Maka saya pilih media online yang reputasinya bagus. Saya suka musik sebagai mood booster, maka saya langganan Spotify.






Komentar (0)