Bom Bunuh Diri Guncang Kantor Polisi, 14 Tewas-Presiden Buka Suara

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: Rekaman polisi terlihat di TKP ketika petugas penyelamat melakukan operasi pencarian dan penyelamatan dari puing-puing masjid yang rusak sehari setelah ledakan di dalam markas polisi di Peshawar pada 31 Januari 2023. (Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sedikitnya 14 orang tewas dan puluhan lainnya terluka setelah seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan diri di luar sebuah kantor polisi di Lembah Swat, Pakistan, Minggu (2/8/2026) malam waktu setempat. Ledakan terjadi di tengah kerumunan warga yang sedang menggelar aksi protes menuntut pemerintah mengambil tindakan terhadap meningkatnya kekerasan di kawasan tersebut.

Serangan terjadi di Kabal, sebuah kota di Lembah Swat yang berada di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, dekat perbatasan Afghanistan.

Menurut Kepala Kepolisian Distrik Swat (DPO) Umar Khan, pelaku meledakkan bahan peledak setelah personel polisi berupaya menghentikan dan memeriksanya di pintu masuk kantor polisi.


Pilihan Redaksi
  • Konflik Antaragama Pecah, Makan Korban Jiwa-Presiden Buka Suara
  • 2 Helikopter Tabrakan di Atas "Ladang Api", Petaka Datang Bertubi-tubi
  • Update Perang AS-Iran: Pangeran Arab Bergerak, Trump Tahan Serangan

"Pelaku bom bunuh diri meledakkan bahan peledak setelah personel polisi berusaha menghentikan dan menggeledahnya di pintu masuk kantor polisi," kata Khan, dilansir Al Jazeera.

Wakil Inspektur Jenderal Polisi Swat, Fida Hussain, mengatakan sedikitnya 22 orang mengalami luka-luka dalam serangan tersebut. Hingga kini belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas aksi itu.

Ledakan terjadi di dekat ratusan warga yang berkumpul di sebuah persimpangan jalan tidak jauh dari lokasi kejadian. Mereka sedang menggelar demonstrasi untuk mendesak pemerintah mengambil langkah tegas menghadapi meningkatnya kekerasan di wilayah tersebut.

Ledakan menghantam kerumunan ketika pembicara terakhir masih menyampaikan pidatonya, memicu kepanikan dan membuat warga berlarian menyelamatkan diri.

Adapun aksi unjuk rasa itu secara khusus digelar untuk mengecam kembali meningkatnya serangan kekerasan di Swat. Wilayah tersebut pernah menjadi basis kuat Taliban Pakistan atau Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) sebelum operasi militer pada 2009 berhasil memukul mundur kelompok tersebut dari kawasan itu.

Dalam demonstrasi tersebut, sejumlah pembicara menuduh aparat menindak warga sipil yang damai sementara kelompok bersenjata justru bebas beroperasi di pegunungan sekitar dan bahkan menyebarkan aktivitas mereka melalui media sosial.

"Kami telah menyaksikan bertahun-tahun pertumpahan darah. Kami tidak ingin generasi lain menjadi janda dan yatim piatu," kata salah satu pembicara yang dikutip media Pakistan, Dawn.

Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengutuk serangan bom bunuh diri tersebut serta menyampaikan duka mendalam atas jatuhnya korban jiwa.

Dalam pernyataan terpisah, keduanya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban tewas, mendoakan kesembuhan para korban luka, serta memerintahkan otoritas terkait memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan medis terbaik.

Zardari dan Sharif juga menegaskan bahwa perjuangan Pakistan melawan "terorisme" akan terus berlanjut hingga ancaman tersebut benar-benar diberantas.

Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi turut mengecam serangan tersebut. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan mendoakan kesembuhan cepat bagi mereka yang terluka.

Sementara itu, Umar Khan mengatakan aparat keamanan telah menutup area kejadian dan memulai penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta jaringan di balik serangan tersebut.

Korban luka dievakuasi ke rumah sakit di kota Saidu Sharif yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Beberapa korban dilaporkan berada dalam kondisi kritis.

Pada saat yang sama, kepolisian melancarkan operasi pencarian dan penyisiran di sekitar wilayah serangan.

Serangan di Swat menjadi bagian dari meningkatnya gelombang kekerasan di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, wilayah yang sejak 2007 menjadi lokasi pemberontakan TTP terhadap pemerintah Pakistan dengan tujuan menerapkan sistem pemerintahan versi mereka sendiri.

Hanya tiga hari sebelum ledakan bom bunuh diri tersebut, serangan penyergapan menggunakan drone bermuatan bahan peledak menewaskan 11 polisi di sebuah pos pemeriksaan di Distrik Hangu.

Sementara itu, serangan bom mobil di Distrik Tank pada akhir Juli menewaskan 27 tentara Pakistan. Serangan tersebut diklaim oleh TTP.

Data Pakistan Institute for Conflict and Security Studies menunjukkan sedikitnya 154 kematian terkait "terorisme" tercatat di seluruh Provinsi Khyber Pakhtunkhwa selama Juli. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan korban pada Juni.

Pemerintah Pakistan berulang kali menuduh pemerintahan Taliban Afghanistan memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok bersenjata yang merencanakan serangan lintas batas terhadap Pakistan. Namun tuduhan tersebut dibantah oleh Kabul.

Perselisihan itu semakin memperburuk hubungan kedua negara bertetangga tersebut. Awal tahun ini, Pakistan melancarkan serangan udara ke wilayah Afghanistan yang menurut pemerintah Taliban dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menewaskan puluhan warga sipil.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Hidupkan Perdagangan Karbon, RI Tarik Minat Google - Microsoft

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
HNW Dukung Kegiatan Sosialisasi & Persiapan Haji 2027 Dimulai Lebih Awal
• 1 jam lalu
0
thumb
Sidang Praperadilan Roy Suryo, Polda Metro Serahkan Bukti dan Hadirkan Ahli Hukum
• 36 menit lalu
0
thumb
Pertahankan Kinerja Positif, Laba Bersih MNC Kapital (BCAP) Naik 32 Persen hingga Juni 2026
• 3 jam lalu
0
thumb
AS-Jepang Bersatu Selamatkan Yen dari Jurang Maut, Intervensi Dimulai
• 23 jam lalu
0
thumb
PU lanjutkan pembangunan Jalan Trans Papua Ruas Jayapura–Wamena
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.